Arina.id -- Pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump kembali melanjutkan pengiriman bantuan militer kepada Ukraina, selepas kedua pihak mencapai kesepakatan dalam pertemuan bilateral di Riyadh, Arab Saudi, Rabu (12/3/2025).
Dalam pertemuan tersebut Ukraina sepakat menerima usulan AS soal rencana gencatan senjata 30 hari dalam Perang Rusia-Ukraina. Kini bola panas beralih ke Moskow, apakah mereka bersepakat dengan usulan yang diajukan oleh AS.
Keputusan pemerintah AS untuk kembali menyalurkan bantuan militer ke Ukraina dipastikan oleh James Hewitt selaku Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional AS.
Dikabarkan oleh Anadolu, hanya sehari berselang usai kesepatakan AS-Ukraina soal rencana gencatan senjata 30 hari. Pihak AS langsung mengkonfirmasi soal kelanjutan bantuan militer ke Ukraina.
Sejak awal Perang Rusia-Ukraina yang diawali oleh invasi militer Rusia ke wilayah Ukraina pada 3 tahun lalu. AS di bawah pemerintahan sebelumnya (Presiden Joe Biden), memang sudah memberikan dukungan penuh kepada Ukraina.
Bantuan peralatan militer AS yang dikirim ke medan tempur termasuk aneka senjata anti-tank, roket HIMARS, peluru altileri, dan banyak lagi.
Pengiriman bantuan militer AS tersebut sempat terhenti, selepas insiden debat sengit yang terjadi di Gedung Putih pada akhir Februari 2025, antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dengan Presiden Donald Trump dan Wapres AS JD Vance.
Perdebatan memanas saat ketika sosok tersebut membahas soal kondisi Perang Rusia-Ukraina. Pihak AS menilai bahwa Ukraina masih enggan melakukan perundingan dengan Rusia, serta dianggap tidak berterimakasih terhadap bantuan militer AS selama ini.
Insiden di Ruang Oval tersebut membuat Zelenskyy meninggalkan Gedung Putih lebih awal. Hingga membuat penandatanganann kesepakatan pengelolaan mineral antara AS-Ukraina menjadi batal.
Akan tetapi hubungan AS-Ukraina kembali cair, usai Zelenskyy dikabarkan sudah mengirim surat permintaan maaf kepada Trump. Lalu disusul kemudian kesepakatan AS-Ukraina dalam perundingan di Riyadh, Arab Saudi.
Usai kesepakatan AS-Ukraina tercapai. Kini AS yang bakal melobi pihak Moskow. Akhir pekan ini dikabarkan bahwa Steve Witkoff selaku Utusan Khusus Presiden AS untuk Timur Tengah yang bakal bertolak menuju Rusia.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengungkapkan bahwa para utusan Presiden Donald Trump terus berkomunkasi dengan pihak Rusia jelang kunjungan Steve Witkoff. Ia mendesak pihak Rusia dapat menyetujui proposal gencatan senjata yang akan diajukan.
"Kami mendesak Rusia untuk menyetujui rencana itu. Ini adalah momen terdekat kita dengan perdamaian dalam perang ini. 'Kami sudah berada di garis akhir', dan presiden berharap Rusia membantu kami menyelesaikan ini," ujar Leavitt, dikutip dari Antaranews.
Editor: A. Sentosa


