Dark
Light
Dark
Light

Penutupan Selat Hormuz Picu Kenaikan Harga Minyak, Daya Beli Masyarakat Terancam

Penutupan Selat Hormuz Picu Kenaikan Harga Minyak, Daya Beli Masyarakat Terancam

Jakarta, Arina.id-Iran menutup Selat Hormuz sejak Sabtu, 28 Februari 2026, sebagai aksi balasan atas serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel. Penutupan Selat Hormuz sontak mengguncang pasar energi global.

Sebab, selat yang menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab ini selama ini menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia.

Bagi Indonesia, negara yang berstatus pengimpor neto (netimporter) minyak, situasi ini adalah sinyal bahaya paling terang bagi stabilitas ekonomi dan fiskal.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan penutupan Selat Hormuz mengurangi pasokan minyak global hingga 30 persen.

Gangguan ini berpotensi menaikkan harga barang secara global karena kapal harus memutari Afrika untuk menghindari kawasan konflik.

Saat ini harga minyak mentah menembus USD 120 per barel, setara lonjakan saat Rusia menginvasi Ukraina pada 2022.

"Yang pasti adalah kenaikan harga minyak akan cukup signifikan. Per hari ini, harga minyak sudah menyentuh USD 82 per barel dari yang sebelumnya USD 65 per barel di awal Februari,” ujar Nailul kepada Arina.id, Rabu (4/2/2025).

Nailul memperkirakan ketika jalur minyak terganggu, harga barang global ikut naik. Biaya logistik dan asuransi melonjak, dan dampaknya terasa ke harga barang impor.

"Kenaikan harga impor diperkirakan memicu imported inflation—inflasi yang bersumber dari kenaikan harga barang luar negeri," jelasnya.

Kondisi ini, kata Nailul, akan menekan daya beli masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional.

"Harga impor akan naik dan bisa menyebabkan imported inflation yang menekan daya beli masyarakat. Jika tidak dikelola dengan baik, efeknya bisa meluas ke perekonomian domestik,” tegasnya.

Efisiensi Dunia Usaha

Nailul mengimbau pelaku usaha, khususnya yang bergerak di bidang ekspor-impor, untuk melakukan efisiensi guna menekan biaya operasional. Kenaikan harga bahan bakar, freight, dan premi asuransi akibat ketidakpastian geopolitik akan menambah beban biaya bagi perusahaan.

"Bagi pengusaha, harus ancang-ancang untuk efisiensi. Kalau tidak, margin keuntungan akan tergerus karena ongkos distribusi naik signifikan," imbuhnya.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa ketegangan di Timur Tengah bisa berdampak pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

"Otomatis (harga BBM) akan naik, sama seperti saat perang Ukraina. Tetapi kan kali ini suplai dari Amerika juga akan meningkat dan OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak) juga meningkatkan kapasitasnya,” ujarnya.

Bagi Indonesia, Airlangga menjelaskan ada tiga dampak langsung lain dari perang antara Amerika Serikat dan Israel versus Iran tersebut. Pertama terganggunya suplai minyak, kedua adalah transportasi logistik, dan ketiga adalah sektor pariwisata.


Editor: Suci
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo