Dark
Light
Dark
Light

Kekuatan Global Berubah, Serangan 'Tarif' Trump Kepada BRICS Tidak Mempan

Kekuatan Global Berubah, Serangan 'Tarif' Trump Kepada BRICS Tidak Mempan

Jakarta, Arina.id - Peta geopolitik memang sedang bergeser. Amerika Serikat sebagai salah satu kekuatan dunia seperti sedang berakrobat menggeser perang ke ranah ekonomi, bukan lagi tersentral pada perang fisik seperti eranya Joe Biden. Apalagi kekuatan ekonomi baru BRICS (Brazil, Rusia, India, China dan Afrika) sedang tumbuh dan menjadi ancaman eksistensi ekonomi Paman Sam.

Pada Desember 2024 lalu, Donald Trump mengancam bakal menghukum negara-negara anggota BRICS dengan menaikkan tarif baru di atas 100 persen. Ancaman itu bukan isapan jempol, beberapa bulan kemudian ia merealisasikannya dengan mengenakan tarif 145 persen kepada China. Trump yang berlatar belakang pedagang itu juga gencar mendekati negara-negara teluk untuk kembali memperkuat posisi ekonominya.

Lalu bagaimana reaksi anggota BRICS yang di dalamnya juga ada Indonesia? Akhir April 2025 lalu, Menteri Luar Negeri BRICS menjelaskan negara-negara berkembang telah bertemu, mengkoordinasikan pertahanan sistem perdagangan global bersama dan merumuskan tanggapan terhadap gelombang tarif baru yang diwajibkan oleh Trump.

Pertemuan di Rio de Janeiro tersebut telah menghasilkan pernyataan bersama yang mengkritik "langkah-langkah unilateral" terhadap perdagangan koalisi ekonomi negara yang dibentuk oleh Brazil, Rusia, India, Cina dan Afrika Selatan, dan baru-baru ini diperluas hingga melibatkan enam negara lainnya.

"Para menteri bernegosiasi deklarasi untuk menegaskan sentralitas. Negosiasi perdagangan multilateral menjadi sumbu utama dalam perdagangan," kata Duta Besar Brazil Mauricio Lyrio. "Mereka akan menegaskan kembali kritik mereka terhadap langkah-langkah unilateral dari siapapun (merujuk Amerika)--yang mengusik posisi lama negara-negara BRICS."

Dikutip dari stratnewsglobal, perluasnya grup BRICS, yang menambahkan Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Ethiopia, Indonesia dan Iran tahun lalu, menghadapi tantangan menakutkan dari Amerika Serikat. China, yang terkena tarif 145 persen pada ekspornya ke AS, telah melawan dengan melakukan konfrontasi langsung. China balik mengenakan tarif 125 persen untuk barang-barang AS yang masuk.

Hubungan panas antara China dan AS ini mencapai titik didih sampai akhirnya kedua petinggi negeri tersebut bertemu. Lalu pada sebuah pertemuan di Jenewa, Swiss, pada 11 Mei 2025 lalu pada akhirnya AS melunak. Amerika menurunkan tarifnya dari 145 persen menjadi 30 persen. Sementara China menurunkan tarif dari 125 persen menjadi 10 persen. 

Dalam konfrontasi tersebut, China sebagai salah satu negara kuat dalam BRICS menunjukkan ketegasan sikap dan sama sekali tidak bisa diancam oleh Amerika. Pekan ini, pertemuan tingkat Menteri BRICS kembali digelar di Brazil. Tema pertemuan: Strengthening Global South Cooperation for More Inclusive and Sustainable Governance, dan dibuka pada 21 Mei 2025. Indonesia terlibat aktif dalam pertemuan tersebut.

Indonesia dukung pengembangan industri berkelanjutan

Pemerintah Indonesia mendukung pengembangan industri berkelanjutan dengan menekankan peran penting inovasi dan teknologi digital dalam Deklarasi BRICS di Brazil, Kamis 21 Mei 2025. Indonesia diwakili oleh Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasmita.

"Dalam pertemuan tersebut, dideklarasikan peran penting inovasi dan teknologi digital dalam pengembangan sektor industri manufaktur yang berkelanjutan. Ada beberapa poin utama deklarasi yang telah disetujui oleh negara anggota BRICS untuk menjadi langkah signifikan dalam pembangunan industri yang inklusif dan berkelanjutan," kata Agus, dikutip dari Antara.

Menperin menjelaskan poin utama Deklarasi BRICS relevan dengan peta jalan Making Indonesia 4.0, yaitu mendukung penguatan inovasi teknologi dalam sektor industri manufaktur dan rantai pasok industri yang inklusif dan kuat. Langkah ini mendukung percepatan untuk mencapai pengembangan industri hijau yang berkelanjutan.

Beberapa poin utama deklarasi yang disetujui, di antaranya yaitu dukungan terhadap inovasi dan teknologi digital dalam industri 4.0 dalam menjawab tantangan global seperti penciptaan lapangan kerja, inklusi sosial, dan pengembangan rantai pasokan, ketahanan pangan dan energi, serta mitigasi atas perubahan iklim.

Selain itu, negara-negara anggota BRICS juga mengakui telah mewakili 45 persen populasi dunia dan menyumbang sepertiga dalam Produk Domestik Bruto global dan berkomitmen untuk mendorong ekonomi global yang berkelanjutan, inovatif dan kompetitif.

“Kesepakatan ini telah menegaskan peran penting negara anggota dalam ekonomi global, dan kami berkomitmen untuk menciptakan hubungan yang stabil dan saling menguntungkan, serta mempromosikan pertumbuhan ekonomi global yang berkelanjutan dan inklusif,” kata Menperin.

Selain itu, demi mendorong pengembangan industri, inovasi, dan kerja sama teknologi, anggota negara BRICS turut berpartisipasi dalam Partnership for the New Industrial Revolution (PartNIR). Melalui PartNIR ini, kerja sama industri antar negara anggota berlangsung dengan kerangka kerja yang terstruktur.

Pada kesempatan ini, Menperin turut mendukung BRICS PartNIR dalam pengembangan poin-poin Deklarasi Utama dan Rencana Aksi Kelompok Kerja UKM 2025-2030 serta mendukung pengesahan Terms of Reference, yang termasuk ToR for the SMEs Working Group of BRICS Countries; ToR for Digital Transformation of Industry; ToR Sovereign AI for Digital Industrialisation; dan ToR for the Intelligent Manufacturing and Robotics Working Group.

"Kami optimistis bahwa melalui Terms of Reference ini akan menciptakan kolaborasi, kerja sama yang efisien dan mengatasi tantangan yang dihadapi oleh seluruh negara anggota BRICS,” ujarnya lagi.

Lebih lanjut, Menperin mengapresiasi pertemuan tingkat menteri sebagai wadah promosi dan kerja sama antar negara anggota BRICS yang proaktif, pragmatis, terbuka, dan transparan. Melalui dialog ini, Pemerintah Indonesia telah mempromosikan kolaborasi dalam transformasi industri kepada negara anggota BRICS.

"BRICS telah menjadi wadah penting yang memfasilitasi Indonesia untuk memperkuat kerja sama dengan negara anggota lainnya dan turut berpartisipasi dalam keputusan global. Indonesia berkomitmen untuk terus berkontribusi secara aktif dalam BRICS dengan mendukung perkembangan industri berkelanjutan dan ekonomi sirkular," kata Menperin.


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo