Dark
Light
Dark
Light

Pesan Deputi BPH tentang Makna Haji Setelah Jemaah Tiba di Tanah Air

Pesan Deputi BPH tentang Makna Haji Setelah Jemaah Tiba di Tanah Air

Lampung, Arina.id — Deputi Bidang Koordinasi Pelayanan Haji Dalam Negeri Badan Penyelenggara Haji (BPH) Republik Indonesia H Puji Raharjo berpesan kepada para jemaah haji setelah tiba di Tanah Air tentang makna ibadah haji dan tantangan zaman di era digital saat ini. 

Saat ini jelasnya, perubahan besar tengah terjadi di berbagai sektor kehidupan, mulai dari teknologi, ekonomi, hingga geopolitik.

"Hari ini kita sedang menghadapi perubahan yang demikian besar, dan itu membuat kita semua membutuhkan arah, obor, dan sinar yang terang supaya kita tidak tersesat,” ujarnya.

Ia mencontohkan perubahan dalam penyelenggaraan ibadah haji yang kini berlangsung sangat berbeda dibanding masa-masa sebelumnya. Penyelenggaraan haji kini merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Agama dengan Badan Penyelenggara Haji.

“Yang baru pulang haji sekarang, merasakan sendiri bagaimana suasana menjelang puncak Armuzna itu begitu sepi. Tenaga musiman yang tidak memiliki surat izin kerja tidak lagi terlihat, bahkan ditertibkan,” katanya.

“Jemaah kita yang terbiasa dilayani menjadi kebingungan karena sistem pelayanan yang berubah drastis,” paparnya saat memberikan sambutan dalam Musyawarah Idaroh Wustho Jam’iyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyah (JATMAN) Provinsi Lampung yang berlangsung di Pesantren Baitul Mustaqim, Sidomulyo, Punggur, Lampung Tengah pada Minggu (22/6/2025).

Meski demikian, ia mengajak semua pihak untuk tidak saling mencaci, menjatuhkan, atau mengkritik secara tidak produktif. Menurutnya, ibadah haji itu sejatinya adalah ritual fisik yang memiliki dimensi ruhaniah yang sangat tinggi. Transformasi spiritual itu jelasnya justru diuji bukan hanya saat di Arafah, tapi setelah kembali ke tanah air. 

Mengutip spirit Haji Wada’ yang disampaikan Rasulullah Saw, ia menegaskan bahwa kesempurnaan ibadah haji tidak berhenti di ritual, tetapi harus terlihat dari perubahan sikap dan perilaku setelah haji, menjauhi fitnah, ghibah, dan akhlak tercela lainnya.

Dalam konteks thariqah dan kehidupan spiritual saat ini, ia mengingatkan pentingnya memiliki pegangan kuat untuk menavigasi zaman yang penuh fitnah. 

“Gangguan hari ini bukan hanya dari luar rumah, tapi bisa langsung masuk ke kamar kita lewat handphone. Maka kita butuh obor, sinar yang menerangi, agar tidak tergelincir di jalan yang berliku,” ungkapnya.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo