Makkah, Arina.id — Suhu udara yang mencapai 42 derajat celcius tak sekali pun menyurutkan bagi ribuan calon jemaah haji dari berbagai negara memadati pelataran Masjidil Haram, Makkah, Senin (27/5) siang. Dengan mengenakan topi, payung, dan kacamata, mereka berduyun mengalir menuju pelataran masjid untuk melihat fenomena posisi matahari melintas tepat di atas Ka’bah.
Peristiwa langka yang disebut sebagai Rashdul Kiblat atau Istiwa A'dham ini dimanfaatkan umat Islam di seluruh dunia untuk meluruskan arah kiblat tanpa memerlukan keahlian atau peralatan khusus.
Selain untuk menunaikan ibadah shalat dhuhur, sebagian calon jemaah haji sengaja berkunjung ke Masjidil Haram untuk melihat fenomena posisi Matahari melintas tepat di atas Ka’bah.
Murniati (65), calon jemaah haji dari Medan, Sumatera Utara, misalnya, mengaku sengaja datang untuk melihat Rashdul Kiblat.
“Saya datang ke Masjidil Haram untuk melihat Rashdul Kiblat. Saya dapat informasi dari pembimbing ibadah,” tuturnya, saat ditemui seusai beribadah shalat dhuhur dan berdoa di dekat Kakbah.
Meski cahayanya menyilaukan, ia bersama sejumlah teman satu rombongan calon jemaah haji melihat matahari berada tepat di atas Ka’bah.
Saat posisi matahari tepat di atas Kakbah, para jemaah memadati Masjidil Haram untuk melaksanakan sholat berjamaah di lantai satu maupun lantai atas. Selama beberapa menit, bayangan para jemaah maupun benda-benda mengarah ke Kakbah, di Kompleks Masjidil Haram.
Menurut Kiai Haji Ahmad Sidiq dari Seksi Bimbingan Ibadah Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Daerah Kerja Mekkah, dalam keterangan pers, pada Senin (27/5) terjadi peristiwa matahari melintas di atas Kakbah, di Masjidil Haram, Mekkah, pada pukul 12.18 Waktu Arab Saudi.
“Ini merupakan cara mudah umat muslim meluruskan arah kiblat karena setiap tanggal 27 Mei dan yang kedua setiap 16 dan 17 Juli matahari akan melintas di atas kakbah pukul 16.27 12.27 Waktu Arab Saudi,” ujarnya. Hal ini bisa dimanfaatkan umat muslim Indonesia memastikan shaf arah kiblatnya mengarah ke Mekkah.
Terjadi 2 Kali dalam Setahun
Ketua Lembaga Falakiyah PBNU, KH Sirril Wafa menjelaskan, peristiwa keberadaan matahari di atas Ka'bah (Rashdul Qiblat atau Istiwa A'dham) terjadi dua kali dalam setahun karena matahari tampak dari bumi mengalami pergeseran ke utara dan selatan.
"Ini adalah momen matahari tepat di atas Meridian Ka'bah saat istiwa' di Makkah. Fenomena ini terjadi karena dalam peredaran tahunannya, matahari dilihat dari bumi tampak mengalami pergeseran ke utara dan ke selatan dari khatulistiwa," kata Kiai Wafa, dilansir dari NU Online.
Kiai Wafa menjelaskan bahwa pergeseran ketampakan matahari ke utara Khatulistiwa maksimal sekitar 23,5 derajat LU. Demikian pula maksimal 23,5 LS ke sebelah selatan Khatulistiwa, pergeseran matahari tampak sari bumi. Sementara posisi Ka'bah sendiri berada pada 21,45 derajat LU.
"Maka Matahari dalam perjalanan ke arah utara, tentu akan melewati titik 21,45 atau yang mendekati angka itu di mana posisi lintang Ka'bah berada," jelasnya.
Kemudian, matahari pada esoknya kembali ke arah selatan dan mencapai titik yang sama dengan lintang Ka'bah, yakni 21,45 derajat LU.
Editor: Muhammad Zunus


