Frankfurt, Arina.id — Pengendara di Jerman mulai membayar lebih murah saat mengisi bahan bakar kendaraan pada Kamis (1/10/2026), setelah pemerintah memberlakukan subsidi BBM untuk meredam dampak guncangan energi akibat perang di Timur Tengah.
Harga bensin turun rata-rata sekitar 14 sen menjadi 2,06 euro per liter atau setara 8,85 dolar AS per galon. Sementara harga solar turun 15 sen menjadi 2,20 euro per liter, berdasarkan data asosiasi otomotif ADAC.
Seperti sejumlah negara lainnya, Jerman sebagai negara dengan perekonomian terbesar di Eropa mengalami lonjakan harga BBM seiring berlanjutnya perang Amerika Serikat melawan Iran yang mengganggu pasokan bahan bakar dari Timur Tengah.
Namun, sejumlah pengendara menilai potongan harga tersebut belum cukup.
"Ini hanya seperti setetes air di lautan," kata Andrea Hoecker, perempuan berusia 33 tahun yang bekerja di bidang hubungan masyarakat, kepada AFP di sebuah stasiun pengisian bahan bakar di Frankfurt, Jerman bagian barat.
"Ini membantu dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang saya rasa masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan cara tersebut," ujarnya.
Lorena Konle, seorang guru, juga menilai harga BBM masih "tidak memuaskan".
"Saya harus benar-benar jujur, dengan harga yang ada saat ini, potongan tersebut sebenarnya tidak terlalu memberikan perbedaan," katanya.
Sementara itu, sejumlah organisasi otomotif menyampaikan kekhawatiran bahwa potongan harga tersebut tidak sepenuhnya diteruskan kepada konsumen.
Besaran subsidi secara resmi ditetapkan 17 sen per liter. Namun, sejumlah faktor seperti harga minyak dunia dan nilai tukar mata uang dapat memengaruhi besaran potongan harga yang diterima konsumen di stasiun pengisian bahan bakar.
Dalam program subsidi BBM sebelumnya pada Mei dan Juni, perusahaan energi disebut menyimpan sekitar 200 juta euro dari total 1,6 miliar euro yang dibayarkan pemerintah, berdasarkan laporan komisi monopoli Jerman yang bertugas mengawasi persaingan usaha.
"Potongan harga BBM yang baru ini harus benar-benar diterima konsumen secara penuh," kata juru bicara Auto Club Europa kepada AFP.
Sebagian subsidi, lanjutnya, tidak boleh kembali "berhenti di tangan industri minyak".
Sejumlah ekonom juga mengkritik kebijakan tersebut karena dinilai tidak cukup tepat sasaran untuk membantu kelompok masyarakat yang lebih membutuhkan, seperti pekerja berpenghasilan rendah dan pensiunan.
"Potongan harga BBM menyebabkan redistribusi yang menguntungkan pengendara yang sering menggunakan kendaraan dengan kapasitas besar," kata Clemens Fuest, Kepala Ifo Institute, kepada surat kabar Augsburger Allgemeine.
Sejumlah negara Uni Eropa lainnya juga mengambil langkah untuk mengurangi dampak kenaikan harga BBM, mulai dari memangkas pajak bahan bakar hingga memberikan bantuan tunai langsung kepada masyarakat.
Editor: Kendi Setiawan


