New Delhi, Arina.id — Negara-negara anggota BRICS yang berjumlah 11, termasuk China, Rusia, Iran, dan India, menyerukan ketenangan di Timur Tengah dalam KTT BRICS di New Delhi, India, Sabtu (12/9/2026).
Seruan tersebut disampaikan setelah para anggota BRICS mengatasi perbedaan pandangan dan menyepakati pernyataan bersama.
Presiden China Xi Jinping, yang bergabung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Perdana Menteri India Narendra Modi, dan para pemimpin lainnya, mengatakan perang di Timur Tengah tidak memberikan manfaat bagi masyarakat internasional.
“Perang di Timur Tengah tidak melayani kepentingan bersama masyarakat internasional,” kata Xi dalam KTT tersebut sebagaimana diberitakan channelstv.com
Sebelumnya, para menteri luar negeri negara-negara BRICS gagal mencapai kesepakatan mengenai pernyataan bersama ketika bertemu di New Delhi pada Mei 2026. Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab memiliki perbedaan pandangan mengenai perang yang dimulai dengan serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari.
Namun, para pemimpin BRICS akhirnya menerbitkan pernyataan bersama pada Sabtu setelah melalui upaya diplomatik intensif yang dilakukan India sebagai tuan rumah. Langkah tersebut dilakukan ketika BRICS berupaya memperkuat pengaruhnya di tingkat global sekaligus merespons konflik, gejolak perdagangan, dan persoalan keamanan energi.
“Kami menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya ketegangan yang terus berlangsung di Timur Tengah/Asia Barat,” demikian pernyataan bersama tersebut.
Negara-negara BRICS juga menyerukan agar semua pihak “menunjukkan penahanan diri secara maksimal, serta menghindari tindakan yang dapat semakin memperburuk situasi”.
BRICS dibentuk pada 2009 sebagai forum bagi negara-negara dengan perekonomian berkembang yang ingin meningkatkan pengaruh dalam lembaga-lembaga yang selama ini didominasi negara-negara Barat.
Saat membuka KTT yang berlangsung selama dua hari tersebut, Modi mengatakan negara-negara BRICS memiliki posisi penting dalam perekonomian dan perdagangan global.
“Kita harus mengubah piramida privilese ini menjadi sebuah platform kemitraan,” kata Modi kepada Xi, Putin, Pezeshkian, dan para pemimpin lainnya.
Modi mengatakan negara-negara BRICS mewakili 50 persen populasi dunia, 40 persen produk domestik bruto (PDB) global, dan lebih dari 25 persen perdagangan dunia.
Namun, menjaga keseimbangan di antara negara-negara anggota BRICS menjadi tantangan diplomatik.
India mempertahankan hubungan baik dengan Iran maupun Israel yang merupakan sekutu Amerika Serikat. Di saat yang sama, New Delhi juga berhati-hati dalam menjaga hubungan dengan Washington.
Pezeshkian menghadiri KTT tersebut setelah sebelumnya memperingatkan bahwa Timur Tengah tidak membutuhkan Amerika Serikat sebagai “polisi kawasan”. Iran dan Amerika Serikat saat ini terlibat dalam perang, sementara ketegangan juga mengancam Selat Hormuz yang merupakan jalur penting.
Di sela-sela KTT, Pezeshkian bertemu dengan Putra Mahkota Abu Dhabi Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan.
India menghadapi krisis energi akibat perang Amerika Serikat-Iran, salah satunya dengan meningkatkan kerja sama energi dengan Rusia. Langkah tersebut dilakukan meskipun Rusia masih terlibat perang di Ukraina dan menghadapi tekanan dari Washington serta negara-negara Barat lainnya.
Modi bertemu dan menyambut Putin sebelum pembicaraan bilateral pada Jumat (11/9/2026). Putin terakhir kali mengunjungi India pada Desember 2025 dan menjadi salah satu mitra strategis penting bagi New Delhi.
Menangani Perbedaan
Kehadiran Xi dalam KTT BRICS juga menjadi perhatian karena merupakan kunjungan pertamanya ke India sejak 2019. Kunjungan tersebut menjadi langkah penting dalam mencairkan hubungan antara dua negara yang sama-sama memiliki senjata nuklir.
Xi disambut dengan karpet merah, penjagaan kehormatan oleh para prajurit, serta pertunjukan penari tradisional dengan pakaian berwarna-warni.
“Meski kedua negara kita berbeda dalam banyak hal, keduanya sepenuhnya mampu saling melengkapi kekuatan, saling mendukung, mencapai keberhasilan bersama, dan maju bersama,” kata Xi saat bertemu Modi dalam video yang dirilis dari New Delhi.
Kunjungan Xi berlangsung enam tahun setelah bentrokan militer mematikan terjadi di sepanjang perbatasan Tibet yang disengketakan China dan India. Hubungan kedua negara kemudian secara bertahap membaik melalui pemulihan penerbangan, penerbitan visa, dan komunikasi tingkat tinggi.
Namun, sengketa wilayah kedua negara belum terselesaikan. China dan India masih mempertahankan pengerahan militer dalam jumlah besar di sepanjang perbatasan pegunungan dengan ketinggian sekitar 3.500 kilometer.
Kementerian Luar Negeri India mengatakan setelah pertemuan tersebut bahwa kedua pemimpin menyatakan komitmen untuk mencapai penyelesaian masalah perbatasan yang adil, masuk akal, dan dapat diterima kedua pihak.
Modi juga menekankan perlunya kedua pihak mematuhi kesepakatan dan pemahaman yang telah ada mengenai persoalan perbatasan.
Ketidakpercayaan yang mendalam masih menjadi tantangan. Sengketa perbatasan Himalaya, defisit perdagangan yang semakin melebar, dan persaingan strategis terus mempersulit hubungan China dan India.
“Kedua pihak harus bekerja sama untuk meningkatkan kerja sama keuangan berskala besar yang berkualitas tinggi, mendorong tatanan global yang setara dan berkelanjutan, serta menciptakan globalisasi ekonomi yang terbuka dan inklusif,” kata Xi.
Pada Jumat (11/9/2026), puluhan warga Tibet melakukan aksi protes di New Delhi. Mereka merupakan warga eksil, seperti pemimpin spiritual Buddha Dalai Lama, yang telah tinggal di India sejak melarikan diri dari tindakan keras China pada 1959.
Para pengunjuk rasa membawa berbagai poster yang memprotes kunjungan Xi ke India.
Editor: Kendi Setiawan


