Arina.id - Di tengah krisis kelaparan akut yang menerpa warga Gaza Palestina, Israel justru bakal mengerahkan 60.000 serdadunya masuk ke Kota Gaza, Selasa 02 September 2025. Hal itu mengisyaratkan kalau Zionis benar-benar serius mencaplok kota tersebut untuk memperluas wilayah jajahannya.
Eskalasi besar-besaran dalam perang di bulan ke-23 ini berdekatan dengan Sidang Perserikatan Bangsa (PBB) di New York dimana mayoritas negara anggota, kecuali Amerika Serikat, menuntut penyelesaian konflik menggunakan solusi dua negara (two state solution) dengan mengakui Palestina sebagai negara.
Pengerahan pasukan cadangan merupakan bagian dari rencana pendudukan kembali secara bertahap yang disetujui Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada 8 Agustus 2025. Menurut lembaga penyiaran publik Israel, KAN, tujuannya meliputi strategi pemindahan paksa penduduk Palestina ke selatan, pengepungan wilayah kantong Jalur Gaza dan penyerangan ke wilayah permukiman.
"Kami telah memulai manuver Gaza," kata Kepala Staf Eyal Zamir kepada para prajurit cadangan di pangkalan Nachshonim, selatan Rosh Ha'ayin di Israel tengah, seperti dikutip dari Anadolu, Rabu 03 September 2025.
Ia mengatakan operasi Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza akan diintensifkan dan diperluas. Militer Israel menjelaskan, para tentara tersebut akan dilengkapi dengan senjata, perlengkapan pribadi, dan peralatan taktis lengkap dengan unit-unit menjalani latihan dalam pertempuran di perkotaan dan medan terbuka untuk meningkatkan kesiapan dalam misi-misi mendatang.
Harian Israel Maariv melaporkan mobilisasi tersebut mencakup latihan selama tiga hingga empat hari sebelum penugasan kembali untuk menggantikan pasukan reguler yang berjaga di garis depan utara.
Mobilisasi tersebut menyusul deklarasi Israel pada Jumat yang menjadikan Kota Gaza "zona perang berbahaya" yang disertai dengan pemboman besar-besaran dan pembongkaran yang menyebabkan banyak korban berjatuhan di pihak sipil dan kerusakan infrastruktur yang meluas.
Sementara itu, Kantor Media Pemerintah Gaza menuduh tentara Israel mengerahkan robot-robot bermuatan bahan peledak dan menerapkan strategi "bumi hanguskan".
Sejak Oktober 2023, Israel telah menewaskan lebih dari 63.600 warga Palestina di Gaza. Serangan militer itu telah menghancurkan wilayah tersebut, yang kini menghadapi bencana kelaparan.
Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Benjamin Netanyahu dan mantan kepala pertahanan, Yoav Gallant, atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional terkait perang yang dilancarkannya di wilayah Jalur Gaza.
Editor: Muhammad Taufiq


