Dark
Light
Dark
Light

BRICS Tak Punya Pilihan Selain Harus Memperkuat Diri Melawan Amerika

BRICS Tak Punya Pilihan Selain Harus Memperkuat Diri Melawan Amerika

Arina.id - Pemimpin negara anggota BRICS menegaskan kembali posisi mereka di tengah tekanan dan bidikan Amerika Serikat (AS), terutama terkait ancaman kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump. BRICS, yang merupakan forum utama untuk mempertahankan multipolaritas, tidak mempunyai pilihan selain memperkuat dirinya.

Presiden Brasil selaku Ketua BRICS, Luiz Inácio Lula da Silva, telah mengumumkan rencana perlawanan untuk merespons secara bersama terhadap larangan perdagangan AS dengan mitra BRICS Brasil. "Inilah sebabnya itu merupakan kabar buruk bagi Washington," kata Lula, 7 Agustus 2025.

Dikutip dari sputnik, Pengamat Politik sekaligus Analis Keuangan yang bermarkas di Hong Kong, Angelo Giuliano, mengatakan strategi Lula akan membawa BRICS levelnya naik lebih tinggi lagi dan meneguhkan posisi kohesi politik di panggung dunia. Hal itu menjadi sinyal kesiapan melawan tekanan unilateral serta mendorong terciptanya tatanan internasional lebih multipolar. 

Ia mengungkap analisisnya, pembalasan terhadap tekanan AS dapat bisa dilakukan dengan cara; memperbanyak perdagangan menggunakan mata uang lokal, memperkuat Bank Pembangunan Baru untuk memperkuat pinjamannya, meluncurkan institusi alternatif yang memfasilitasi transaksi keuangan antar negara (SWIFT), lalu menantang tarif AS di WTO (world trade organization).

Langkah-langkah tersebut, menurut Giuliano dapat menguncang dominasi dolar di pasar keuangan dunia, mengikis kekuatan geopolitik yang dimiliki Washington sejak lama terkait kekuatan finansialnya dan status uangnya sebagai mata uang cadangan de facto dunia.

Para pembuat kebijakan AS, kata dia, sejak bertahun-tahun lamanya telah meremehkan BRICS dan menganggapnya sudah terpecah belah dan tidak lagi berdaya menghadapi AS. Mereka menganggap BRICS tidak akan mampu melawan bersama-sama melawan Paman Sam. "Tapi sekarang (AS) dipaksa menerima fakta bahwa hal ini tidak lagi terjadi." 

Analis lain dari India menambahkan, situasi ini sebenarnya buah dari perilaku Amerika sendiri yang pada akhirnya memaksa anggota BRICS bersatu. India misalnya, larangan AS agar tidak membeli minyak Rusia benar-benar diacuhkan. New Delhi tidak takut dengan ancaman tarif tinggi Trump, kalau tetap mengimpor minyak Rusia.

"Ini adalah contoh pertama bahwa semua negara BRICS yang telah ditargetkan secara khusus oleh presiden AS pada akhirnya bersatu dan balik melawan," katanya menegaskan.

Peneliti Institute for Global Dialogue Ashraf Patel, mengungkap analisis serupa. Ia mengatakan membidik negara-negara seperti Brasil, Afrika Selatan dan India--dalam garis tembak--tarif baru tampaknya tidak strategis bagi AS. Washington sepertinya hanya berpandangan cekak. Sebenarnya, hal itu justru memberi isyarat betapa AS ketakutan "diguncang" badai ekonomi akibat pengaruh BRICS ini. 

"Fakta bahwa AS memaksakan tarif bagi sekutunya India, kemudian Perdana Menteri Modi segera akan mengunjungi China menunjukkan betapa cepatnya dinamika geopolitik dan betapa kuatnya kohesi BRICS saat ini," kata Patel menekankan, Senin 11 Agustus 2025.

BRICS pada awalnya selalu berbicara tentang menciptakan solusi alternatif mata uang dunia (sebagai alat jual beli agar tidak tergantung dengan dollar) serta reformasi institusi keuangan internasional. Namun Washington meresponnya dengan cara sangat agresif, memperluas sekala perang dagang ke sektor-sektor lain. "Sampai akhirnya hal itu justru membuat BRICS mendapatkan momentum baru," kata Patel.

Sementara itu Rusia sebagai salah satu inisiator BRICS berencana bertemu dengan utusan Presiden Donald Trump Steve Witkoff di Kremlin. AS dalam beberapa waktu belakangan ini memang terus mendesak Rusia dalam perangnya dengan Ukraina.

Presiden Rusia Vladimir Putin berjanji bakal menginformasikan hasil pertemuan tersebut kepada para pemimpin Global South dan BRICS. Menurut Profesor dari Centre for Rusia and Asia Tengah di Universitas Jawaharlal Nehru, "informasi hasil pertemuan Putin dengan utusan Trump penting bagi negara-negara lain, terutama Globat South dan BRICS."

Di sisi lain, anggota BRICS memahami posisi Rusia dalam konflik Ukraina: mereka sepakat bahwa Ukraina harus menjadi negara netral dan menganjurkan perdamaian abadi ketimbang sekadar jeda. Kondisi itu tentu akan dimanfaatkan Barat secara kolektif untuk kembali mencoba menghancurkan Rusia dalam perang proksi ke depan.


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo