Dark
Light
Dark
Light

Riset: Mayoritas Rakyat Amerika Menolak Kekejaman Israel di Gaza, Beda sama Pemerintahnya

Riset: Mayoritas Rakyat Amerika Menolak Kekejaman Israel di Gaza, Beda sama Pemerintahnya

Arina.id - Sikap Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang 'kepala batu' terus doyong mendukung Israel tidak senapas dengan sikap rakyatnya. Jajak pendapat yang dilakukan lembaga riset Gallup menunjukkan dukungan rakyat negeri Paman Sam terhadap serangan Israel ke Gaza terus menurun.

Survei terbaru mereka menunjukkan hanya 32 persen orang Amerika menyetujui tindakan militer Israel ke Gaza, turun 10 poin dari jajak pendapat serupa pada September 2024 lalu. Sementara 60 persen lebih tidak setuju. Mayoritas publik AS marah dengan kekejaman yang dilakukan serdadu Israel terhadap warga Gaza dalam beberapa waktu belakangan ini.

Survei yang dirilis pada Selasa, 29 Juli 2025, itu juga menunjukkan adanya perpecahan partisan sangat besar terkait isu tersebut. Sebanyak 70 persen responden yang mengidentifikasi diri sebagai anggota Partai Republik--partainya Donald Trump-- menyatakan setuju dengan tindakan Israel. Sementara dari Demokrat yang setuju hanya 8 persen.

Shibley Telhami, seorang profesor di Universitas Maryland yang juga Direktur Critical Issues Poll, mengatakan survei terbaru menunjukkan tren meningkatnya ketidakpuasan terhadap Israel. Mereka menganggap Zionis sudah melebihi batas kemanusiaan dalam perang di Gaza.

"Yang kita saksikan di sini adalah menguatnya paradigma generasi di kalangan anak muda Amerika, terutama kaum muda Demokrat dan Independen, tetapi juga ada beberapa kaum muda Republik, yang kini memandang kengerian di Gaza seperti menggambarkan karakter Israel itu sendiri," ujar Telhami, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Dari sisi demografi usia, hanya 9 persen responden di bawah 35 tahun yang mengatakan setuju terhadap tindakan militer Israel di Gaza dan hanya 6 persen mengatakan mereka memiliki pendapat yang baik tentang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu .

Studi ini menindaklanjuti jajak pendapat Pew Research Center akhir April 2025 lalu, yang menemukan mayoritas responden--termasuk 50 persen dari Partai Republik yang berusia di bawah 50 tahun--mengaku memiliki panilaian negatif terhadap Israel. Sayangnya, meskipun pandangan publik Amerika berubah, namun pemerintah tetap teguh mendukung Zionis.

Sejak dimulainya perang di Gaza, 07 Oktober 2023, AS telah memberikan bantuan militer miliaran dolar kepada Israel, serta dukungan diplomatik di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Baik Trump maupun pendahulunya, Joe Biden, telah menjadi pendukung setia serangan Israel terhadap Gaza, yang oleh kelompok hak asasi manusia digambarkan sebagai genosida.

Laporan Kementerian Palestina, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 60.000 warga Palestina di Gaza. Mereka menghancurkan gedung-gedung dan rumah warga. Kemudian melakukan blokade dan pengepungan yang berdampak pada kondisi warga sipil di sana. Rakyat Gaza kini menghadapi kelaparan akut; orang tua, perempuan dan anak-anak menjadi korban.

Pengepungan tersebut dianggap sebagai pemicu kelaparan yang mematikan. PBB pada Selasa kemarin mengatakan terdapat "bukti yang semakin kuat tentang kelaparan dan kelaparan yang meluas". Akan tetapi Kongres AS tetap teguh pro-Israel. Awal bulan ini misalnya, upaya legislatif memblokir dukungan pertahanan rudal senilai USD 500 juta bagi Israel gagal dalam pemungutan suara 422-6 di Parlemen.

Lantas pertanyaannya apa yang menjelaskan perpecahan antara pandangan rata-rata orang Amerika dan kebijakan perwakilan terpilih mereka? Telhami menjawab hal itu disebabkan oleh prioritas pemilih. Kebijakan luar negeri AS, kata dia, secara tradisional bukanlah faktor pendorong dalam pemilu. Misalnya, isu-isu domestik seperti aborsi, ekonomi, dan pengendalian senjata api biasanya mendominasi agenda elektoral Partai Demokrat.

Ia juga mencatat pengaruh kelompok pro-Israel, seperti Komite Urusan Publik Amerika-Israel (AIPAC), yang telah menghabiskan jutaan dolar untuk mengalahkan kritikus pemerintah Israel, khususnya kaum progresif dalam pemilihan pendahuluan Demokrat.

Namun, menurut profesor itu, segala sesuatunya berubah. "Palestina kini terus menjadi isu penting di masyarakat," ujarnya sambil menjelaskan para pemilih AS kini semakin cerdas dan menjadikan isu Palestina sebagai "introspeksi" untuk pemilu mendatang. 

"Bukan hanya Gaza. Kitalah yang memungkinkan terjadinya kengerian di Gaza sebagai sebuah negara--dalam hal bantuan atau dukungan kita, atau bahkan dalam beberapa kasus, kolaborasi langsung," kata Telhami.

"Bahwa hal ini sebenarnya menciptakan pergeseran paradigma tentang siapa kita, bukan hanya tentang: 'Apakah kita mendukung Israel? Apakah kita mendukung Palestina?'" Ia melanjutkan, pergeseran pandangan ini dibuktikan dengan kemanangan Zohran Mamdani dari Partai Demokrat dalam pemilihan Wali Kota New York City bulan lalu.

"Kemunculan Zohran Mamdani di New York membuat orang-orang merenung karena ia mampu membangkitkan kegembiraan, bukan seperti yang dipikirkan sebagian orang, kemenangannya tidak dipengaruhi pernyataannya tentang Israel-Palestina, melainkan (menurut saya) kemenangannya justru karena pandangannya tentang Israel-Palestina."


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo