Arina.id - Diam-diam suara kegelisahan dari dalam gedung Royal Opera House--sebuah rumah seni dan budaya paling bergengsi di Inggris--itu menyeruak. Protes para pegawai dan pelaku seni: penyanyi, musisi, teknisi dan penari bermetamorfosis menjadi gerakan melawan kejahatan kemanusiaan di Gaza Palestina.
Paguyuban solidaritas para pelaku seni Royal Opera yang bermarkas di distrik Convent Garden London Inggris tersebut kemudian melabeli dirinya Artist for Palestine. Sebuah gerakan protes terhadap genosida Israel di Gaza. Hasilnya di luar perkiraan, mengingat hal serupa belum pernah terjadi sebelumnya, ternyata gerakan didukung para pelaku seni dan budaya di sana.
Apalagi sepanjang Royal Opera House berdiri--secara resmi sebagai perusahaan pada 1946 meskipun sejak 260 tahun sebelumnya sudah beraktivitas seni--belum pernah sekalipun terjadi mobilisasi massal sebesar dan setegas sekarang ini merespons gejolak politik dan perang.
Dalam waktu dekat, institusi seni kelas dunia itu sebenarnya akan kembali memproduksi Opera Tosca , yang rencananya akan tampil pada musim 2026 di Gedung Opera Nasional Israel, Tel Aviv. Namun karena tekanan dari internal: para pegawai dan pelaku seni--terkait genosida yang dilakukan Israel di Gaza, maka produksinya dibatalkan.
"Kami telah memutuskan bahwa produksi baru Tosca tidak akan dibawa ke Israel," demikian kata CEO Royal Ballet dan Opera, Alex Beard, seperti dimuat dalam pernyataan Artists for Palestine UK, yang telah berkomunikasi dengan pihak internal organisasi tersebut, seperti dikutip dari kantor berita Turki, Anadolu Agency, Selasa 05 Agustus 2025.

Tosca merupakan sebuah opera tiga babak karya Giacomo Puccini yang diiringi libretto Italia Luigi Illica dan Giuseppe Giacosa. Opera ini ditayangkan perdana di Teatro Costanzi Kota Roma pada tanggal 14 Januari 1900. Karya ini diadaptasi dari drama berbahasa Prancis tahun 1887 karya Victorien Sardou, La Tosca.
Karya melodramatis tersebut berlatar di Kota Roma pada Juni 1800, ketika eksistensi dan kendali Kerajaan Napoli atas Roma terancam oleh invasi Napoleon Bonaparte ke Italia. Opera ini menggambarkan tentang penyiksaan, pembunuhan, dan bunuh diri, serta menampilkan aria liris (nyanyian solo tentang kegetiran) karya Puccini yang mengaduk-aduk emosi.
Kritik dan protes para pelaku seni Opera House pada akhirnya memengaruhi manajemen perusahaan sehingga pada akhirnya mencabut rencana produksi di Israel. Di sisi lain Opera Nasional Israel juga telah merespons dengan menghapus semua referensi dan informasi terkait rencana produksi Opera Tosca dari situs webnya.
Pembatalan penampilan tersebut diambil setelah sebuah surat terbuka ditandatangani oleh 182 staf Royal Ballet dan Opera — termasuk penari, musisi, penyanyi, serta staf dari departemen artistik, teknis, dan administratif — yang mengecam sikap diam institusi terhadap tindakan genosida Israel yang mencapai 60.000 lebih warga Palestina.
Para karyawan juga menuntut agar perusahaan tidak memberikan produksi kepada institusi-institusi yang melegitimasi dan mendukung secara ekonomi sebuah negara yang terlibat dalam kematian massal warga sipil. "Kami menolak pertunjukan apa pun saat ini maupun di masa depan di Israel," bunyi surat tersebut.
Surat tersebut juga menyatakan solidaritas terhadap seorang penampil yang mengibarkan bendera Palestina di atas panggung dalam apa yang mereka gambarkan sebagai sebuah "tindakan keberanian dan kejelasan moral di atas panggung kami sendiri."
Meski Royal Opera House belum mengeluarkan pernyataan publik, pengumuman internal kepada staf menunjukkan contoh langka di mana pimpinan lembaga budaya besar di Inggris mengambil langkah cepat sebagai respons atas tekanan akar rumput dari dalam organisasinya sendiri.
Protes di Royal Opera House terjadi di tengah gelombang aksi yang lebih luas di sektor budaya Inggris. Para seniman, penulis, dan pekerja budaya Inggris telah meluncurkan kampanye yang mendokumentasikan boikot, divestasi, dan pernyataan publik dari institusi-institusi terkemuka.
Beberapa kampanye itu menghadapi perlawanan, termasuk sensor atau pencantuman dalam daftar hitam dari para pihak yang tidak suka karena Israel mendapat kritikan.
Royal Opera Didirikan sebagai Covent Garden Opera Company pada tahun 1946. Namun, sejarah pertunjukan opera di lokasi tersebut di Covent Garden sudah berlangsung lebih dari 260 tahun, sejak teater pertamanya dibangun pada tahun 1732.
Gedung megahnya juga sering disebut sebagai "Covent Garden" untuk memudahkan penyebutan, setelah lokasinya dipindahkan dari gedung opera sebelumnya karena pemugaran dan perluasannya pada tahun 1732. Gedung ini adalah rumah dari The Royal Opera, The Royal Ballet, dan Orkestra dari Royal Opera House.
Gedung ini sebelumnya dikenal dengan nama Theater Royal, ia telah menjadi rumah bermain selama seratus tahun pertama sejak Didirikan.
Editor: Muhammad Taufiq


