Dark
Light
Dark
Light

Pertobatan Habib Ja'far di X Twitter: Radikalisme di Media Sosial Bisa Merusak Karakter Manusia

Pertobatan Habib Ja'far di X Twitter: Radikalisme di Media Sosial Bisa Merusak Karakter Manusia

Ciputat, Arina.id – Pendakwah milenial sekaligus pegiat media sosial, Habib Husein Ja'far Al Hadar, menegaskan bahwa radikalisasi di media sosial sangat berbahaya dan dapat merusak karakter seseorang. Pernyataan ini ia sampaikan dalam diskusi bertema Merayakan Toleransi di Rimba Digital yang digelar oleh Islami.co di Outlier Cafe, Ciputat, pada Rabu (11/12/2024).

Habib Ja'far menjelaskan bahwa media sosial, terutama platform berbasis grup seperti Twitter, Facebook, dan WhatsApp, sangat rentan terhadap penyebaran ideologi radikal. Menurutnya, media sosial dapat menciptakan ilusi dan persepsi yang salah tentang orang atau isu tertentu, bahkan tanpa adanya interaksi langsung.

"Di media sosial, Anda bisa dibuat benci terhadap seseorang yang belum pernah Anda kenal. Ini adalah salah satu bahaya penetrasi media sosial," kata Habib Husein.

Ia menceritakan pengalaman pribadi saat berada di sebuah tongkrongan. Seorang teman mengalihkan pembicaraan ke isu yang sedang ramai di media sosial dengan nada negatif, membuatnya merasa heran.

"Saya belum pernah kenal dia, ketemu dia, saya sudah membencinya. Anda jangan memframing seperti itu, kalau benci iya benci aja sendiri, tidak usah ajak-ajak," Habib mengulang percakapan bersama temannya saat itu. 

Pengalaman tersebut mendorong Habib Husein untuk berhenti menggunakan Twitter selama dua tahun terakhir. Menurutnya, Twitter penuh dengan framing yang mengarahkan pengguna untuk memberi komentar terhadap isu yang tidak perlu, hanya karena topik tersebut sedang menjadi trending.

"Itu yang membuat saya taubat dari twitter, karena twitter penuh dengan framing yang mengarahkan (Anda) tahu sesuatu yang tidak butuh dan tidak perlu. Makanya saya taubat aja dari twitter, ini udah tahun kedua taubat dari twitter," ucapnya. 

Selain Twitter, Habib juga menyoroti Facebook dan WhatsApp sebagai platform berbasis grup yang rentan terhadap penyebaran ideologi radikal. Beberapa riset menunjukkan bahwa kedua platform ini sering digunakan untuk menyebarkan ide-ide komunal yang bernada negatif.

"Grup-grup di media sosial sering menjadi ruang dengung, di mana Anda hanya mendengar hal-hal yang ingin Anda dengar, bukan yang perlu Anda dengar," tambah Habib Husein.

Habib menekankan bahwa ruang dengung semacam ini sangat berbahaya. Dalam grup yang terisolasi dari perspektif lain, radikalisasi bisa berkembang tanpa ada keberagaman, pluralitas, atau moderasi. 

"Itu yang menyebabkan radikalisme dan pembodohan, di mana yang didengar hanya satu sisi dan dunia seolah hanya milik mereka," jelasnya.

Habib Husein menjelaskan radikalisme di media sosial lebih berbahaya daripada di dunia nyata sebab memiliki potensi besar untuk menghancurkan karakter seseorang. Ia mengibaratkan keberadaan hp dengan celurit-senjata tajam yang berbentuk pisau melengkung menyerupai bulan sabit.

"Dulu di kampung saya, orang yang membawa celurit ditakuti. Sekarang, sebenarnya HP yang harus dijauhi. Celurit bisa melukai tubuh, tetapi HP dapat melukai hati seseorang. Orang yang sudah terluka hatinya mudah digiring ke mana-mana," jelasnya.

Habib Husein menekankan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, media sosial telah menjadi salah satu platform kuat bagi gerakan radikalisme dan terorisme bahkan aplikasi dan game digital sering digunakan untuk koordinasi. 

"Indoktrinasi melalui media sosial digital yang terus menerus akan mengubah orang baik menjadi orang jahat itu yang harus diwaspadai dari media sosial. Pada dasarnya manusia itu baik, diciptakan dari ruh tuhan yang bahkan ketika disuruh perang untuk yang wajib saja, Tuhan katakan kamu pasti benci perang karena dasarnya kamu hatinya hello kitty," kata Habib.

Sebagai langkah pencegahan, ia menyarankan untuk mulai berani membuat kontra narasi atau menyediakan alternatif narasi. Menurutnya, narasi yang bertentangan tidak selalu diperlukan, tetapi memberikan perspektif lain bisa menggugah orang agar tidak terjebak dalam doktrin radikal yang disebarkan melalui media sosial.

"Itu yang menuntut saya untuk menjadi wali YouTube saja, karena yang lebih dibutuhkan orang wali YouTube itu untuk memastikan trigger-trigger yang aneh itu," tandas Habib Husein.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo