Sore itu Kamis 14 Maret 2024, hawa dingin menyelimuti Desa Pasurenan Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Hujan yang mengguyur cukup lama, telah reda; menyisakan kabut tipis yang menambah syahdu suasana. Sementara bias mentari masih meninggalkan secercah cerah sebelum tenggelam di pegunungan barat desa.
Selepas Asyar, warga Desa Pasurenan telah bersiap menyambut tamu penting dari kabupaten, yang hendak melaksanakan tarawih keliling (tarling) di desa mereka. Aparat desa, para sesepuh, tokoh agama, dan tokoh masyarakat telah berkumpul di sebuah rumah yang disiapkan sebagai titik transit para tamu. Para pemuda siaga membantu aparat menyiapkan parkir, sedang kaum perempuan sibuk menyiapkan hidangan terbaiknya.
Setelah satu jam menunggu, seorang aparat desa memberi kode, bahwa rombongan tamu sudah memasuki batas desa. Tak sampai lima menit, belasan mobil memasuki area parkir. Paling depan adalah mobil foredger (patwal) Kepolisian. Di belakangnya mobil-mobil bagus membawa para pejabat utama Kabupaten Banjarnegara. Antara lain Kepala Kantor Kementerian Agama , Kapolres dan anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) serta puluhan pejabat dari berbagai dinas instansi.
Kepala Desa Pasurenan beserta tokoh masyarakat berdiri menyambut para pejabat, yang langsung berbaur dengan maayarakat.
Ramadhan tahun 1445 Hijriah ini, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara kembali menggelar tarawih keliling di 20 kecamatan yang ada. Tiap-tiap kecamatan dipilih 1 desa. Untuk Kecamatan Batur, Desa Pasurenan yang terpilih. Kades Pasurenan, Toto Eko Priyanto, sangat senang desanya disambangi oleh tim tarling yang merupakan para pimpinan dan pejabat pada pusat pemerintahan di wilayahnya.
Rangkaian tarling di Desa Pasurenan diawali dengan ramah tamah dan buka bersama. Usai shalat Maghrib, rombongan tarling menuju Masjid An Nuur Desa Pasurenan untuk shalat Isya dilanjutkan shalat Tarawih berjamaah dengan masyarakat. Tim tarling kabupaten menyesuaikan tata laksana ibadah setempat, terkait imam dan jumlah rakaat.
Usai shalat Tarawih inilah, dibuka ruang komunikasi antara pejabat dengan jamaah dan warga. Layaknya ajang gendhu-gendhu rasa masyarakat boleh curhat kepada para pemimpina mereka, tentang kondisi desa dan permasalahan yang tengah dihadapi, tentunya dalam konteks yang rileks dan cair, jauh dari formalitas birokrasi.
Kesempatan ini digunakan kades Toto Eko Priyanto untuk melaporkan perkembangan penanganan bencana di desanya, dan hal-hal yang dibutuhkan segera. Desa Pasurenan belum lama ini memang terkena musibah angin puting beliung. Tak sedikit rumah yang menderita kerusakan akibat kejadian tersebut.
Sang kades mengatakan bahwa saat ini desanya masih membutuhkan banyak material dan peralatan guna mengganti kerusakan rumah warga.
"Kami masih membutuhkan atap seng untuk rumah warga yang terkena dampak angin ribut. Mudah-mudahan dengan kunjungan dari para pejabat pemerintahan aspirasi kami bisa tersampaikan,” kata Toto.
Sedangkan warga lain, menyampaikan keluhan kondisi jalan rusak serta subsidi pupuk yang cukup berbelit.
Menanggapi hal itu, kepala Kementerian Agama Banjarnegara Drs H. Karsono mewakili Penjabat Bupati Banjarnegara mengatakan akan segera melaporkan aspirasi warga kepada bupati.
"Saya akan menyampaikannnya harapan masyarakat desa Pasurenan sebagai masukan kepada pemerintah daerah untuk ditindaklanjuti. Semoga bencana ini cepat ditangani dan mohon bersabar menghadapi masalah ini," kata Karsono.
Lebih jauh ia juga meminta kepada seluruh Muslim dan masyarakat untuk kembali menjaga kedamaian pasca pemilu 2024 kemarin.
“Mari jadikan bulan suci Ramadhan ini untuk menyatukan kembali masyarakat usai pemilu kemarin. Kita kembali rekatkan ukhuwah, jangan mudah terprovokasi agar Banjarnegara tetap aman dan kondusif,” ajak Karsono.
Tarling di Desa Pasurenan diakhiri dengan pengajian oleh H Sumarna dari Kementrian Agama Banjarnegara. Sumarna menguraikan tentang nikmatnya bulan suci Ramadhan. Disebutkan, seseorang yang menyambut bulan Ramadhan dengan suka cita, maka diharamkan baginya api neraka.
“Ramadhan adalah tamu agung yang berkunjung ke rumah kita. Mari kita sambut dengan sebaik-baiknya. Kita hindari hal yang sia-sia, sebaliknya kita jalani amalan di bulan suci ini selayaknya Ramadhan terakhir kita,” ajaknya.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banjarnegara, KH Sobri mengungkapkan, kegiatan tarawih keliling oleh Pemda sangat bagus. Hal itu juga merupakan upaya mendekatkan diri pemimpin dengan masyarakat yang dipimpinnya. Tarawih keliling bisa jadi sarana untuk menyosialisasikan program-program pemerintah. Terlebih, para pejabat bisa memberikan penjelasan tentang kebijakan-kebijakan yang belum dipahami masyarakat.
"Ajang ini juga memberi masyarakat kesempatan untuk menyampaikan langsung aspirasi mereka kepada para pejabat, tentang persoalan yang tengah dihadapi guna dicarikan titik temu atau solusi," kata Sobri.
Namun, pesan Sobri, yang lebih utama adalah manfaat silaturahminya. Meski silaturahmi itu tidak saat Ramadhan saja, tapi berlanjut di masa yang akan datang.
Desa Pasurenan memang dingin karena berada di ketinggian yang tak terpaut jauh dengan Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng. Biasanya, usai tarawih dan mengaji di masjid dan mushola, para warga ingin segera tidur pulas. Namun, malam ini nampaknya mereka tak ingin buru-buru menutup hari. Ada kesan mendalam dari kegiatan tarawih keliling tadi. Wejangan dan perhatian para umaro dan ulama dari kabupaten tadi sangat mengena. Ada kehangatan dari jabat erat dan lambaian tangan mereka, yang mungkin baru kali ini bersua. Terutama bagi warga desa yang selama ini hanya bergulat dalam ruang domestik dan lingkup keterbatasan.
Masyarakat merasa terayomi. Merasakan kehadiran negara di tengah berbagai masalah yang ada. Tarawih keliling yang sederha, telah mampu menghapus sekat-sekat birokrasi.
Editor: Kendi Setiawan


