Dark
Light
Dark
Light

Rowahan sampai Ziarah Kubur, Begini Cara Orang Betawi Sambut Ramadan

Rowahan sampai Ziarah Kubur, Begini Cara Orang Betawi Sambut Ramadan

Jakarta, Arina.id—Menjelang Ramadan, warga Betawi punya cara tersendiri untuk menyambut bulan suci. Mulai dari doa bersama lewat Rowahan, tradisi Munggahan yang jadi ajang kumpul keluarga, hingga ziarah kubur yang sarat makna. 

Tradisi pertama yang lazim dilakukan adalah Rowahan. Mengutip dari Dinas Kebudayaan Bekasi, Rowahan atau ruwahan (Jawa) telah lama dikenal oleh masyarakat Betawi. Hanya saja acara rowahan di Betawi diadakan secara bergiliran, dari satu rumah ke rumah yang lain, dan tidak terfokus pada satu tempat, seperti di kuburan umum atau musala.

Acara rowahan di Betawi biasanya dilakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Sya'ban. Pelaksanaanya diadakan di rumah anak laki-laki pertama atau bungsu (bontot), yang sumber pembiayaannya ditanggung bersama-sama oleh anggota keluarga besar lainnya.

Rowahan merupakan kegiatan penutupan pengajian sekaligus persiapan menyambut Ramadan. Dalam acara ini, keluarga besar biasanya berkumpul untuk membaca Surah Yasin, tahlil, dan salawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Usai doa bersama, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Menu khas Rowahan biasanya terdiri atas semur jengkol, pecak ikan mas, tahu-tempe, sayur asem goreng, dan sayur sop. Suguhan lain tape uli ketan, kue cincin dan geplak. Tak jarang, tetangga juga turut diundang untuk berbagi sembako sebagai persiapan menyambut puasa.

Rowahan, biasanya orang-orang akan mengumpulkan air putih dalam aneka tempat minum untuk dikumpulkan di tengah. Air yang sudah dibacakan Yasin itu dipercaya berkhasiat, lalu dibawa pulang oleh masing-masing jemaah dan diminumkan kepada anaknya. Biasanya para orang tua akan mengatakan;

"Minum nih air Yasin, Tong, biar jadi bener,” sebagai doa agar anaknya menjadi pribadi yang baik.

Kedua, munggahan. Munggah berasal dari kata unggah, yang berarti naik ke atas. Dalam tradisi Betawi, munggahan adalah hari-hari terakhir sebelum datangnya Ramadan. Menurut kebiasaan, anak-anak yang sudah menikah, tetapi masih mempunyai orang tua, akan datang membawakan makanan ke rumah orang tuanya.

Makanan munggahan bisa berupa yang sudah matang ataupun masih mentah Bahan-bahan itu untuk diolah sebagai teman sahur atau berbuka puasa pertama kali di bulan Ramadan.

Tradisi terakhir yang tak kalah penting adalah ziarah kubur. Biasanya dilakukan satu hingga dua minggu sebelum Ramadan, masyarakat Betawi akan berkunjung ke makam orang tua atau leluhur mereka yang telah wafat.

Selain mendoakan, si anak akan membersihkan makam yang sudah kotor ditumbuhi oleh tanaman-tanaman parasit.

Tradisi ini memiliki makna yang dalam, sebab bagi orang Betawi, tanah merupakan simbol kehidupan dan kematian.

Banyak keluarga Betawi memiliki lahan atau kebon yang luas, di mana makam keluarga sering kali berada tidak jauh dari rumah. Tanah dianggap sebagai warisan yang harus dijaga, bukan untuk dijual. Karena itu, di beberapa kampung Betawi, kuburan keluarga masih bisa ditemukan di lingkungan tempat tinggal mereka.

Tradisi Rowahan, Munggahan, dan Ziarah Kubur menjadi wujud nyata kearifan lokal masyarakat Betawi dalam menyambut Ramadan bulan suci yang selalu ditunggu dengan penuh syukur dan kebersamaan.


Editor: Suci
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo