Dark
Light
Dark
Light

Utang Puasa Ramadan Digabung dengan Puasa Muharram, Bolehkah?

Utang Puasa Ramadan Digabung dengan Puasa Muharram, Bolehkah?

Arina.id - Bulan Muharam termasuk salah satu bulan mulia dalam Islam. Banyak amalan yang dianjurkan untuk dilakukan, salah satunya adalah berpuasa sunah. Di antara puasa yang sangat dianjurkan adalah puasa Tasu’a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram).

Namun, sebagian umat Islam khususnya kaum perempuan yang memiliki utang puasa Ramadan akibat haid sering kali merasa bingung. Apakah boleh menggabungkan puasa sunah Muharram dengan puasa qadha Ramadan? Apakah tetap mendapatkan pahala keduanya?

Salah satu dalil yang menunjukkan keutamaan berpuasa di bulan Muharam adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Ketika itu, Rasulullah ditanya tentang puasa apa yang paling utama setelah puasa Ramadan. Beliau pun menjawab, “Puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharam.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ: أَيُّ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ أَفْضَلُ؟ قَالَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

Artinya: ”Dari Abu Hurairah, Nabi SAW pernah ditanya: “Puasa apa yang paling utama setelah puasa Ramadan?" Beliau menjawab:”Puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram.” (Fath al-Ghaffār al-Jāmi’ liahkām Sunnah Nabiyyinā al-Mukhtār, juz. 2, hal. 909, No. 2818)

Jika seseorang masih memiliki utang puasa Ramadan, tetapi tidak ingin melewatkan keutamaan puasa sunah di bulan Muharam, maka solusinya adalah dengan menggabungkan keduanya dalam satu niat. Menurut ulama, hal ini diperbolehkan dan pelakunya akan mendapatkan dua pahala sekaligus: pahala puasa qadha Ramadan dan pahala puasa sunah Muharam.

أَفْتَى جَمْعٌ مُتَأَخِّرُونَ بِحُصُولِ ثَوَابِ عَرَفَةَ وَمَا بَعْدَهُ بِوُقُوعِ صَوْمِ فَرْضٍ فِيهَا

Artinya: ”Sebagian ulama kontemporer berpendapat bahwa apabila seseorang melaksanakan puasa wajib, seperti puasa qadha Ramadan, yang kebetulan jatuh pada hari Arafah, lalu ia berniat untuk keduanya sekaligus, maka ia berpeluang memperoleh pahala puasa Arafah sekaligus pahala puasa qadha Ramadan.” (Fathul Mu’in, halaman 281)

Bahkan jika bertepatan dengan dua momen sekaligus, misalnya puasa sunah Muharram bersamaan dengan puasa Senin-Kamis, sementara ia juga ingin mengqadha puasa Ramadan, maka ia boleh meniatkan ketiganya sekaligus. Pun ia akan mendapatkan pahala dari ketiganya.

Sebagaimana keterangan Syekh Abu Bakar Syatha Ad Dimyati dalam kitab I’anatut Thalibin:

اِعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ يُوجَدُ لِلصَّوْمِ سَبَبَانِ، كَوُقُوعِ عَرَفَةَ أَوْ عَاشُورَاءَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ أَوِ الخَمِيسِ، أَوْ وُقُوعِ الِاثْنَيْنِ أَوِ الخَمِيسِ فِي سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ، فَيَزْدَادُ تَأَكُّدُهُ رِعَايَةً لِوُجُودِ السَّبَبَيْنِ، فَإِنْ نَوَاهُمَا حَصَلَا

Artinya: ”Perlu diketahui, terkadang ada dua niat yang bisa digabung dalam satu puasa. Misalnya, saat puasa Arafah atau Asyura jatuh pada hari Senin atau Kamis, atau ketika seseorang ingin berpuasa Senin-Kamis sekaligus menjalankan puasa enam hari di bulan Syawal. Dalam kondisi seperti ini, kita bisa meniatkan keduanya sekaligus. Pahala dari kedua jenis puasa tersebut akan didapatkan, meskipun hanya menjalankan satu puasa”

Demikian semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo