Jakarta, Arina.id—Presiden Paraguay Santiago Pena mengajukan pengunduran diri pada Kamis (5/11/2026), di tengah krisis politik yang dipicu kolapsnya Ueno Bank. Keputusan tersebut disampaikan beberapa jam sebelum parlemen melanjutkan proses pemakzulan terhadap dirinya.
Pena mengumumkan keputusan tersebut melalui video yang diunggah di media sosial X. Ia menyatakan pengunduran diri itu dilakukan demi menjaga stabilitas negara, perdamaian sosial, dan keberlangsungan institusi demokrasi.
“Saya telah mengambil keputusan untuk mengajukan pengunduran diri sebagai Presiden Republik. Saya melakukannya dengan mempertimbangkan stabilitas negara, perdamaian sosial, dan kebutuhan untuk menjaga institusi demokrasi kita,” kata Pena sebagaimana dikutip Associated Press (AP).
Ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Paraguay atas krisis yang terjadi.
“Saya ingin meminta maaf kepada masyarakat jika dalam suatu kesempatan saya telah mengecewakan mereka. Tidak pernah menjadi niat saya untuk mengkhianati kepercayaan yang telah mereka berikan,” ujarnya.
Pena mengatakan dirinya tetap bersedia menghadapi proses pemakzulan di parlemen. Ia menilai memberikan penjelasan kepada masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawabnya sebagai presiden.
“Saya akan melakukan hal tersebut bukan karena harga diri pribadi, melainkan karena mempertanggungjawabkan tindakan dan memberikan penjelasan juga merupakan tanggung jawab saya kepada rakyat Paraguay,” katanya.
Pengunduran diri tersebut tidak langsung menghentikan proses pemakzulan. Beberapa menit setelah pengumuman Pena, majelis rendah parlemen Paraguay menyetujui pemakzulan dengan suara 78-0. Proses selanjutnya diserahkan kepada Senat untuk menentukan keputusan akhir.
Wakil Presiden Pedro Alliana dipersiapkan untuk menggantikan Peña apabila pengunduran dirinya disetujui parlemen.
Krisis politik tersebut bermula setelah Bank Sentral Paraguay mengambil alih Ueno Bank, lembaga keuangan digital yang memiliki sekitar tiga juta nasabah di negara berpenduduk sekitar 6,5 juta jiwa.
Regulator menemukan persoalan dalam penyaluran kredit kepada perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan pemilik bank. Selain itu, pemeriksaan juga menemukan dokumentasi pinjaman yang tidak memadai serta sejumlah pengeluaran yang keliru dicatat sebagai aset.
Setelah laporan keuangan disesuaikan, modal Ueno Bank diketahui turun hingga kurang dari setengah batas minimum yang diwajibkan secara hukum. Kondisi tersebut membuat operasional bank dihentikan dan nasabah kehilangan akses terhadap rekening serta simpanan mereka.
Ueno Bank juga diketahui mengelola sekitar 850 juta dolar AS dana publik, termasuk dana yang berkaitan dengan lembaga negara dan program pensiun. Kolapsnya bank tersebut memicu kekhawatiran masyarakat mengenai keamanan tabungan dan pengelolaan dana publik.
Situasi semakin menjadi sorotan setelah terungkap bahwa Pena pernah memiliki saham di Grupo Vazquez, kelompok usaha yang mengendalikan Ueno Bank hingga Maret 2025. Hubungan bisnis tersebut memunculkan tuduhan konflik kepentingan dari anggota parlemen oposisi.
Mereka juga mengatakan adanya penyalahgunaan dana pensiun dan upaya menutupi persoalan pengawasan terhadap bank tersebut. Pena membantah melakukan pelanggaran dan menyatakan persoalan itu harus diselesaikan melalui proses hukum.
Krisis tersebut turut memicu demonstrasi selama beberapa hari di ibu kota Asuncion. Nasabah, pensiunan, mahasiswa, dan pekerja turun ke jalan menuntut pengembalian simpanan serta pertanggungjawaban pemerintah.
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah Paraguay menyiapkan mekanisme pengembalian simpanan melalui dana penjaminan. Langkah ini diharapkan dapat melindungi sebagian besar nasabah yang terdampak.
Editor: Suci


