Dark
Light
Dark
Light

Kisah Pilu Bayi Mohammed, Mati Kaku Sedingin Es akibat Kedinginan di Tenda Gaza

Kisah Pilu Bayi Mohammed, Mati Kaku Sedingin Es akibat Kedinginan di Tenda Gaza

Arina.id - Dengan wajah pucat dan air mata berderai tak henti-hentinya, Eman Abu al-Khair, ibu muda itu duduk meriung di dalam tenda, menggenggam sekantong kecil pakaian bayinya. Buah hatinya, Mohammed, yang baru lahir 14 hari lalu itu meninggal karena hipotermia. 

Hati Eman hancur, genosida Israel di Gaza menyebabkannya mengungsi, lalu melahirkan bayinya di tengah suasana mencekam dan kehidupan yang berantakan. Bayinya mati kedinginan dalam pengungsian setelah tidak mendapat cukup selimut dan kehangatan.

"Saya masih bisa mendengar tangisan kecilnya di telinga saya," kata Eman kepada Al-Jazeera, rasa sakit terlihat di wajahnya. "Saya tidur dan hanyut, tidak percaya bahwa tangisannya yang membangunkan saya di malam hari tidak akan pernah saya dengar lagi."

Sabtu malam, 13 Desember 2025, kisah pilu itu terjadi. Di pengungsian al-Mawasi, sebelah barat Khan Younis di Jalur Gaza selatan, tempat mereka pindah setelah mengungsi dari rumah mereka di Timur Khan Younis, Eman menidurkan bayinya. Ia terbangun dan melihat kondisi si bayi sangat mengkhawatirkan.

Suhu telah turun, dan tanpa tempat berlindung serta pakaian layak untuk bayi yang baru lahir. "Tubuhnya (Mohammed) sedingin es. Tangan dan kakinya membeku, wajahnya kaku dan kekuningan, dan dia hampir tidak bernapas," kenangnya.

"Saya segera membangunkan suami saya sehingga kami bisa membawanya ke rumah sakit, tetapi dia (Suami) tidak dapat menemukan sarana transportasi untuk membawa kami ke sana."

Saat itu sudah larut malam, dan hujan lebat masih mengguyur, sehingga sang ayah tidak mungkin mencapai rumah sakit bahkan dengan berjalan kaki. Tanpa alternatif kendaraan, keluarga harus menunggu situasi sampai pagi.

"Segera setelah siang hari menyingsing, kami bergegas dengan gerobak yang ditarik hewan menuju rumah sakit," kata Eman. "Tapi sayangnya, kami datang terlambat. Kondisinya sudah kritis."

Staf medis di Rumah Sakit Bulan Sabit Merah di Khan Younis terkejut dengan kondisi bayi yang memburuk. Wajahnya benar-benar membiru, dia kejang, mendorong dokter membawanya ke unit perawatan intensif anak. Mohammed menghabiskan dua hari dalam perawatan intensif dengan ventilator sebelum meninggal dua hari kemudian, 15 Desember 2025..

"Bayi saya tidak memiliki masalah medis. Tesnya tidak menunjukkan penyakit. Tubuh mungilnya tidak tahan dingin yang ekstrem di dalam tenda," kata Eman sambil berlinang air mata.

Pada hari Selasa, 16 Desember 2025, Kementerian Kesehatan Gaza mengumumkan kematian seorang bayi karena penurunan suhu tubuh parah, disebabkan oleh dingin ekstrem di tengah kondisi kehidupan keras di Gaza. Dalam sebuah pernyataan pers, kementerian mengatakan, bayi Mohammed Khalil Abu al-Khair, berusia dua minggu meninggal karena hipotermia akut.

"Anak itu, Abu al-Khair, tiba di rumah sakit dua hari lalu dan dirawat di unit perawatan intensif, tetapi dia meninggal kemarin," kata pernyataan itu. Dengan kematian Mohammed, jumlah anak-anak yang meninggal karena cuaca dingin di Gaza telah meningkat menjadi empat bulan ini, setelah kementerian mengumumkan tiga kematian serupa selama minggu sebelumnya.

Perayaan berubah menjadi kehancuran

Keluarga Abu al-Khair telah menyambut kelahiran Mohammed pada 1 Desember 2025 dalam suasana sukacita dengan perayaan setelah kehamilan yang melelahkan. Seperti yang digambarkan oleh Emán, perayaan itu dipenuhi dengan kesulitan, dengan perang yang masih berlangsung.

"Kehamilan saya sangat sulit. Kami mengalami kondisi sangat sulit dan kelaparan, dan saya kelelahan," katanya. "Tapi semua penderitaan saya memudar ketika Mohammed lahir sehat. Saya tidak pernah membayangkan kami akan kehilangannya setelah hanya dua minggu menggendongnya."

Eman menceritakan upaya putus asanya untuk menjaga si jabang bayi yang baru lahir tetap hangat menggunakan setiap pakaian dan selimut yang dia miliki, sementara ayah bayinya, Khalil, mencoba mengamankan tenda dan menutup setiap lubang untuk melindungi bayi dari dingin.

Tetapi semua upaya mereka gagal. "Kami tinggal di tenda, di jalan, seperti yang Anda lihat. Apa yang benar-benar bisa dilakukan selembar kain atau nilon?" katanya, menunjuk ke sekeliling tenda. "Dinginnya tak terlukiskan. Setiap pagi, kami bangun dan menemukan air membanjiri tempat tidur kami dari bawah."

Eman bertanya-tanya kejahatan apa yang dilakukan bayinya dan anak-anak lain seusianya, sehingga pantas mendapatkan nasib "buruk" kehidupan dalam tenda-tenda di Gaza. "Anak-anak kami telah mati dengan segala cara: pengeboman, penembak jitu, kelaparan, kedinginan, satu demi satu. Anak saya bukan yang pertama, dan dia tidak akan menjadi yang terakhir."

Yang terjadi di Gaza bukan kehidupan

Munir al-Bursh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, telah memperingatkan kematian lebih lanjut di antara anak-anak, orang tua dan orang sakit karena suhu ekstrem di dalam tenda-tenda pengungsian yang basah kuyup.

Al-Bursh mengatakan, kelembaban dan genangan air di dalam tenda menciptakan lingkungan yang mudah dalam penyebaran penyakit pernapasan di antara para pengungsi, sementara pasien tidak dapat mengakses layanan kesehatan.

Meskipun gencatan senjata dimulainya pada Oktober 2025, tapi sedikit sekali rekonstruksi terjadi di Gaza, di mana sebagian besar bangunan tempat tinggal telah dihancurkan oleh pemboman Israel dan pembongkaran sistematis.

Israel juga terus menyerang Gaza secara teratur dan menunjukkan sedikit tanda-tanda bahwa mereka bersedia mengizinkan dimulainya rekonstruksi nyata, setidaknya dalam waktu dekat. Itu berarti bahwa kondisi yang menyebabkan kematian seperti menimpa Mohammed kemungkinan akan terus berlanjut.

Di sisi lain, ancaman malnutrisi akut juga mengancam warga di sana, terutama anak-anak dan ibu menyusui. Seperti disampaikan Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus. Ia mengatakan lebih dari 100.000 anak dan 37.000 ibu hamil dan menyusui di Jalur Gaza diperkirakan masih akan mengalami gizi buruk hingga April 2026.

Pernyataan itu disampaikan menyusul laporan badan PBB yang memperingatkan bahwa sedikitnya 1,6 juta warga Gaza menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang tinggi hingga pertengahan April tahun mendatang. Tedros mengingatkan bahwa dalam skenario terburuk, termasuk kemungkinan kembali pecahnya konflik dan terhentinya bantuan kemanusiaan di seluruh Jalur Gaza berisiko menghadapi ancaman kelaparan pada pertengahan April 2026.

Dalam unggahan di Platform X, ia menyebutkan bahwa kemajuan yang telah dicapai dalam mencegah kelaparan masih sangat rapuh. Menurut dia, penduduk di Jalur Gaza terus berjuang di tengah kerusakan infrastruktur yang masif, hilangnya mata pencaharian dan produksi pangan lokal, serta berbagai pembatasan terhadap operasi kemanusiaan.

"Di saat bersamaan, hanya 50 persen fasilitas kesehatan di Gaza yang berfungsi sebagian dan itu pun menghadapi krisis pasokan dan peralatan esensial, yang kerap terhambat oleh prosedur masuk yang rumit dan pembatasan karena dianggap sebagai barang berpotensi guna ganda," katanya.

Tedros menambahkan, untuk meningkatkan layanan penyelamatan jiwa dan memperluas akses layanan kesehatan, WHO mendesak percepatan persetujuan dan akses masuk untuk pasokan dan peralatan medis penting dan struktur rumah sakit prefabrikasi ke Jalur Gaza.


 


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo