Dark
Light
Dark
Light

Ijazah Amalan dan Doa Malam Idul Fitri dari Mbah Maimoen Zubair

Ijazah Amalan dan Doa Malam Idul Fitri dari Mbah Maimoen Zubair

Arina.id – Sejumlah ulama menganjurkan kepada umat Islam untuk melakukan amal ibadah di malam hari raya Idul Fitri guna menyambut hari kemenangan. Di antara ulama tersebut adalah KH Maimoen Zubair atau lebih dikenal dengan Mbah Moen. Ulama kharismatik yang wafat dan dimakamkan di Makkah ini memberikan ijazah amalan doa khusus di malam  Idul Fitri.

Muh. Fiqih Shofiyul Am mengisahkan bahwa saat ia nyantri kepada Mbah Moen, para santri selalu didorong untuk menghidupkan malam hari raya Idul Fitri. Bagi Mbah Moen sendiri, ritual ini dianggap sebagai amalan yang sangat penting, bahkan seolah-olah wajib dan tidak boleh ditinggalkan.

“Penulis waktu masih nyantri kepada beliau, baik ketika hari aktif atau ketika momentum pasanan, beberapa kali mendengar dawuh itu dan beliau tidak bosan untuk menitahkan kepada para santri untuk melaksanakannya,” jelas Fiqih dalam artikel Pesan Mbah Maimoen untuk Hidupkan Malam Hari Raya dengan Ibadah, diakses Sabtu (29/5/2025)

Dalam artikelnya, Fiqih mengutip pernyataan Mbah Moen, sebagaimana berikut:

 “Senakal-nakalnya santri meskipun tidak pernah bertahajud atau bahkan tidak pernah sholat sunnah jangan sampai meninggalkan untuk menghidupkan malam dua hari raya dengan ibadah meskipun hanya dengan sholat sunnah bakdiyah Isya dua rakaat dan satu rakaat sholat witir, dan sholat isya serta subuhnya berjamaah, agar nanti hatinya tidak mati di hari di mana hati akan mati, dan ini bagiku sudah seperti wajib” .

Dawuh Mbah Moen tersebut, jelas Fiqih, merujuk pada ajaran guru beliau, yaitu Mbah Abdul Karim Manab Lirboyo saat Mbah Moen masih nyantri di sana. Tentunya, dawuh itu bersumber dari catatan para ulama terdahulu yang berlandaskan pada hadits Nabi Muhammad.

Fiqih kemudian mengutip pernyataan Al-Damiri dalam kitab Najmul Wahhaj (Beirut, Darul Minhaj: 2019/II/556), sebagaimana berikut:

يُسْتَحَبُّ إِحْيَاءُ لَيْلَتَي العِيْدِ لِقَوْلِهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ أَحْيَا لَيْلَتَي العِيْدِ أَحْيَا اللهُ قَلْبَهُ يَوْمَ تَمُوْتُ القُلُوْبُ

Artinya: “Disunnahkan untuk menghidupkan malam dua hari raya (fitri dan adha) karena hadits Nabi Muhammad: Siapa yang menghidupkan malam dua hari raya maka Allah akan menghidupkan hatinya dimana hari seluruh hati akan mati”. 

Fiqih juga mengutip keterangan Sulaiman al-Jamal dalam kitab Hasyiyah al-Jamal alal Minhaj (Beirut, Darul Kutub Ilmiyah, 2013:III/63-64) yang menyebutkan bahwa menghidupkan malam hari raya ini dilakukan dengan ritual ibadah, bisa dengan sholat atau ibadah lainnya. Selain itu, Al-Jamal juga menjelaskan maksud dari matinya hati dalam redaksi hadits yang dikutip sebagaimana berikut:

وَالْمُرَادُ بِمَوْتِ الْقُلُوبِ شَغَفُهَا بِحُبِّ الدُّنْيَا أَخْذًا مِنْ خَبَرِ { لَا تَدْخُلُوا عَلَى هَؤُلَاءِ الْمَوْتَى قِيلَ مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْأَغْنِيَاءُ } وَقِيلَ الْكُفْرُ أَخْذًا مِنْ قَوْله تَعَالَى { أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ } أَيْ كَافِرًا فَهَدَيْنَاهُ وَقِيلَ الْفَزَعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَخْذًا مِنْ خَبَرِ { يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ أَوْ غَيْرُهَا وَاسَوْأَتَاه أَتَنْظُرُ الرِّجَالُ إلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَالنِّسَاءُ إلَى عَوْرَاتِ الرِّجَالِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنَّ لَهُمْ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ شُغُلًا لَا يَعْرِفُ الرَّجُلُ أَنَّهُ رَجُلٌ وَلَا الْمَرْأَةُ أَنَّهَا امْرَأَةٌ }

Artinya: “Arti dari kematian hati adalah ketertarikan kuat untuk mencintai dunia berdasarkan hadits: 'Jangan kalian bersama mereka-mereka yang mati, siapakah mereka wahai Rasulullah, mereka adalah orang-orang kaya'. Ada juga yang mengartikan kekufuran atas dasar surat al-An’am ayat 122 'Apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan', yakni sudah kafir kemudian kami beri petunjuk.

"Ada juga yang mengartikan ketakutan di hari kiamat atas dasar hadits: "Seluruh manusia akan dikumpulkan dalam padang Mahsyar di Hri Kiamat tidak beralas kaki dan tidak berbusana, dan tidak berkhitan, Ummu Salamah berkata atau yang lain (keraguan rawi), duhai kemaluan apa mereka tidak saling memandang aurat satu sama lain, Nabi menjawab mereka di hari itu sangat sibuk sampai tidak mengetahui jenis kelaminnya sendiri”. 

Mengenai matinya hati, Fiqih juga mengutip penjelasan Imam As-Shawi dalam kitab Bulughatus Salik li Aqrabil Masalik, (Beirut, Darul Kutub Ilmiyah, 1995:I/345-346) sebagaimana berikut:

وَمَعْنَى عَدَمِ مَوْتِ قَلْبِهِ عَدَمُ تَحَيُّرِهِ عِنْدَ النَّزَعِ وَعِنْدَ سُؤَالِ الْمَلَكَيْنِ وَفِي الْقِيَامَةِ. بَلْ يَكُونُ مُطْمَئِنًّا ثَابِتًا فِي تِلْكَ الْمَوَاضِعِ 

Artinya: “Arti dari tidak matinya hati adalah dia tidak mengalami kebingungan ketika naza’ (tercabutnya nyawa dari tubuh), dan ketika ditanya oleh Munkar dan Nakir, dan juga tidak bingung ketika di hari kiamat, akan tetapi dia selalu tenang tegar di fase-fase itu”. 

Selain melaksanakan sholat sunnah, Mbah Moen juga menganjurkan santri-santrinya untuk berdoa di malam dua hari raya, waktunya adalah setelah melakukan sholat Tahajud atau sholat sunnah lain.

“Karena malam itu termasuk malam terkabulkannya doa,” jelas Fiqih.

Anjuran dari Mbah Moen ini berlandaskan pada kutipan al-Ramli terhadap riwayat Ibnu Abbas dalam kitab Nihayatul Muhtaj, (Beirut, Darul Hadits, 2017:II/183.), sebagaimana berikut:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ يَحْصُلُ إحْيَاؤُهُمَا بِصَلَاةِ الْعِشَاءِ جَمَاعَةً وَالْعَزْمُ عَلَى صَلَاةِ الصُّبْحِ جَمَاعَةً ، وَالدُّعَاءُ فِيهِمَا وَفِي لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَتَيْ أَوَّلِ رَجَبٍ وَنِصْفِ شَعْبَانَ مُسْتَجَابٌ فَيُسْتَحَب

Artinya: “Dari Ibnu Abbas menghidupkan dua malam hari raya bisa dilakukan dengan sholat Isya berjamaah dan berniat akan melakukan sholat subuh berjamaah juga, dan berdoa disunnahkan di malam itu karena malam itu serta malam Jumat, dua malam awal bulan Rajab, dan malam pertengahan bulan Sya’ban adalah malam terkabulnya doa”. 

Menurut Fiqih, Pesan dan ijazah dari Mbah Moen ini dianggap sangat penting untuk diamalkan oleh masyarakat, terutama bagi para santri atau siapa pun yang pernah belajar langsung kepada beliau. Pasalnya, bagi Mbah Moen sendiri amalan ini sudah seperti sebuah kewajiban yang selalu diamalkan. 

“Bahkan ketika membaca redaksi Yauma Tamutul Qulub beliau terseduh dan meneteskan air mata. Semoga kita bisa mengamalkan dawuh beliau ini dengan baik dan ikhlas karena Allah ta’ala,” tutup Fiqih dalam artikelnya.


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo