Arina.id - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu segera mengumumkan rencana mengambil alih seluruh wilayah Jalur Gaza Palestina sepenuhnya. Kabar ini menjadi headline media-media Israel sejak kemarin, Senin 04 Agustus 2025.
Media-media seperti i24NEWS, The Jerusalem Post, Channel 12 dan Ynet, mengutip seorang sumber pejabat Israel yang mengatakan kalau Netanyahu memutuskan akan mengerahkan militer Zionis memperluas operasinya di seluruh kantong wilayah Palestina, termasuk area tempat tawanan Hamas ditahan.
"Keputusan (menduduki Palestina) telah dibuat,” kata Amit Sega, kepala analis politik di Channel 12, mengutip seorang pejabat senior yang tidak disebutkan namanya di kantor Netanyahu.
Hamas, kata dia, tidak akan membebaskan lebih banyak sandera tanpa penyerahan diri sepenuhnya. "Dan kami tidak akan menyerah. Jika kami tidak bertindak sekarang, para sandera akan mati kelaparan dan Gaza akan tetap berada di bawah kendali Hamas."
Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam rencana yang dilaporkan tersebut dan menyerukan masyarakat internasional segera melakukan intervensi guna mencegah rencana tersebut, baik sebagai bentuk tekanan, uji coba untuk mengukur reaksi internasional, maupun yang benar-benar serius.
Al Jazeera mengonfirmasi ke kantor Netanyahu namun belum mendapat respons. Justru reaksi datang dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun ia mengisyaratkan tidak akan menolak atau menentang kemungkinan rencana Israel mengambil alih Gaza.
Selasa, 05 Agustus 2025, ketika dikonfirmasi rencana Netanyahu itu, Trump mengatakan saat ini hanya fokus memberi makanan kepada orang-orang di Gaza. "Selebihnya, saya belum bisa memastikannya. Itu semua akan bergantung pada Israel," kata Trump.
Selama ini Washington memang sekutu utama Israel. Negeri Paman Sam itu telah menyuapi Zionis dengan bantuan militer miliaran dolar setiap tahunnya, bahkan terus meningkat secara signifikan setelah dimulainya perang Israel di Gaza pada Oktober 2023.
Selama periode perang ini, Israel juga telah menggunakan perintah pemindahan paksa terhadap warga Palestina masuk ke kantong-kantong wilayah Gaza yang terus menyusut, mengubah 86 persen wilayah tersebut menjadi zona militerisasi.
Namun, peningkatan operasi militer di sisa wilayah Gaza justru akan kian membahayakan kehidupan warga Palestina yang sudah berbulan-bulan lamanya menanggung derita akibat bombardir serdadu Netanyahu.
Rencana Netanyahu untuk menaklukkan Gaza juga menimbulkan kekhawatiran tentang keselamatan sisa tawanan Israel yang ditahan di daerah kantong itu oleh Hamas dan kelompok Palestina lainnya.
Pejabat tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Miroslav Jenca, mengatakan pendudukan penuh atas Gaza akan berisiko menimbulkan konsekuensi bencana. "Hukum internasional sudah jelas dalam hal ini. Gaza harus tetap menjadi bagian integral dari negara Palestina di masa depan," ujar Jenca kepada Dewan Keamanan PBB.
Israel memerintahkan pasukannya merangsek ke permukiman warga Palestina pada 2005. Oleh sebab itu para ahli hukum mengatakan bahwa daerah kantong itu secara teknis tetap berada di bawah pendudukan, karena militer Israel terus mengendalikan wilayah udara, perairan teritorial, dan pelabuhan masuk Gaza.
Sejak dimulainya perang pada 2023, pejabat sayap kanan Israel telah menyerukan pembentukan kembali kehadiran militer Israel dan permukiman di dalam Gaza. Netanyahu juga mengisyaratkan Israel bakal mengeluarkan semua warga Palestina dari daerah kantong tersebut--pembersihan etnis--sebuah rencana yang digaungkan Trump sendiri pada Februari 2025.
Trump, saat itu, mengusulkan pembersihan penduduk Gaza untuk membangun "Riviera Timur Tengah" sebagai gantinya. Laporan terkini tentang niat Israel untuk memperluas operasi daratnya di Gaza muncul di tengah meningkatnya kecaman internasional atas kelaparan mematikan di sana.
Israel telah memblokir hampir semua bantuan memasuki Gaza sejak Maret, menjadikan lokasi GHF (Gaza Humanitarian Fund) yang didukung AS hampir menjadi satu-satunya tempat bagi warga Palestina untuk mendapatkan makanan.
Ratusan warga Palestina telah ditembak oleh militer Israel saat mencoba mencapai fasilitas GHF yang berada jauh di dalam garis kendali Israel. Meskipun demikian, AS tetap mendukung organisasi tersebut, walau ada permohonan internasional agar PBB diizinkan untuk mendistribusikan bantuan tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, Israel telah mengizinkan beberapa truk makanan dan pengiriman bantuan melalui udara untuk mendistribusikan bantuan ke Gaza, tetapi bantuan tersebut masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan warga Gaza.
Militer Israel juga dituduh menargetkan para pencari bantuan yang mencoba mencapai truk bantuan dari lokasi GHF di Gaza utara. Sampai saat ini, serangan Israel terhadap Gaza telah menewaskan lebih dari 61.000 orang dan meratakan sebagian besar wilayah.
Editor: Muhammad Taufiq


