Arina.id - Sudah bisa ditebak, cuma Amerika Serikat (AS) yang menolak kalau bencana kelaparan di Gaza Palestina adalah akibat dari ulah manusia, yang dalam konteks ini adalah pemimpin Israel. Sementara 129 negara lain di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) berpendapat sebaliknya.
Dalam deklarasi yang diteken hampir semua negara anggota DK PBB, Rabu 27 Agustus 2025, mereka mengecam keras pemanfaatan kelaparan sebagai senjata perang yang sudah jelas-jelas dilarang oleh hukum humaniter internasional. DK PBB pun mendesak gencatan senjata "segera, tak bersyarat, dan permanen."
Pembebasan semua sandera di Gaza, dan masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah kantong tersebut harus segera dilakukan. Namun hanya AS yang ogah meneken deklarasi tersebut yang mendesak Israel "mengakhiri pembatasan pengiriman bantuan kemanusiaan segera dan tanpa syarat".
Seperti dilaporkan Anadolu, AS juga tidak sepakat dengan supaya agar Israel "segera membatalkan keputusannya untuk meningkatkan operasi militer di Gaza dengan tujuan merebut Kota Gaza".
Dalam kesempatan yang sama, DK PBB membahas bencana kemanusiaan di Gaza bersama pejabat PBB dan organisasi kemanusiaan yang memperingatkan bahwa bencana kelaparan berpotensi merebak di seluruh wilayah Gaza. "Kelaparan di Gaza sudah terjadi, ini adalah kelaparan yang direkayasa, yang telah diprediksi, kelaparan buatan manusia," ujar Inga Ashing, CEO Save the Children.
"Saat ini, anak-anak di Gaza secara sistematis dibuat kelaparan hingga meninggal. Ini adalah kebijakan yang disengaja. Ini merupakan penggunaan kelaparan sebagai metode perang dalam bentuk yang paling nyata," tegasnya.
Inga Ashing menyebutkan klinik Save the Children di Gaza dipenuhi anak-anak miskin yang mengalami malnutrisi parah hingga "tidak memiliki tenaga untuk berbicara atau bahkan menangis kesakitan. Mereka terbaring kurus kering, benar-benar sekarat."
Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Joyce Msuya, menyampaikan kepada anggota Dewan bahwa lebih dari setengah juta warga Palestina di Gaza menghadapi kelaparan, kemiskinan ekstrem, dan kematian, atau sekitar seperempat dari total populasi. Jumlah itu diperkirakan bisa meningkat menjadi lebih dari 640.000 orang pada akhir September.
Msuya menegaskan bahwa bencana kelaparan telah terjadi di Kegubernuran Gaza, wilayah yang sebelumnya menjadi pusat kota Gaza, dan diperkirakan akan menyebar ke Deir al-Balah serta Khan Younis pada akhir bulan depan jika tidak ada perubahan besar di lapangan. "Tidak ada satu orang pun di Gaza yang luput dari kelaparan," kata dia.
"Bencana ini bukan sekedar akibat dari kelaparan atau suatu bentuk bencana alam. Ini adalah bencana yang diciptakan -- hasil dari konflik yang telah menyebabkan jumlah korban tewas rakyat sipil, korban cedera, kehancuran, dan pengungsi yang masif," tuturnya.
Otoritas kesehatan Gaza, Rabu menyatakan kelaparan merenggut nyawa 10 orang lagi, termasuk 2 anak-anak. Dengan demikian, jumlah warga Gaza yang meninggal akibat kelaparan telah menyentuh 313 orang, termasuk 119 anak-anak.
Blokade total Zionis Israel sejak Maret telah menyebabkan bencana besar bagi 2,4 juta warga Gaza yang harus menghadapi ancaman kelaparan, penyakit menular, dan runtuhnya sistem layanan umum.
Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap pemimpin otoritas Zionis Israel Benjamin Netanyahu dan bekas kepala pertahanan Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Israel juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional terkait agresinya di wilayah tersebut.
Editor: Muhammad Taufiq


