Jakarta, Arina.id – Pada zaman yang serba cepat ini, banyak hal yang menuntut kita untuk berbicara. Namun, tidak semua kesempatan adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan kata-kata.
Ada kalanya kita harus berbicara, tetapi ada juga saatnya kita harus memilih untuk diam.
Rasulullah Saw mengajarkan lewat salah satu hadits-nya, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."
Ketua Tim Umum dan Perpustakaan Balai Litbang Agama Makassar, A Hijaz Mukhtar, dalam tayangan video 'Diam adalah Emas' pada akun YouTube Arina Media Official, menjelaskan makna diam tersebut.
"Diam berarti menahan diri dari berkata-kata yang tidak baik. Diam yang terpuji adalah diam dari segala sesuatu yang diharamkan dan dilarang oleh Allah, seperti ghibah, berkata kasar dan lain sebagainya,” ujarnya.
Keutamaan Diam
Diam memiliki beberapa keutamaan. Kata Mukhtar, diam adalah emas ialah yang mendatangkan kebaikan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Diam adalah emas adalah diam yang dapat menyelamatkan kita dari kemungkinan keliru dalam berbicara.
Di era sekarang yang menuntut kita untuk banyak berbicara, tentu tidak ada salahnya jika yang kita menyampaikan ilmu yang bermanfaat atau hal-hal penting yang perlu dibicarakan.
"Namun, jika perkataan yang disampaikan yang tidak baik, maka itulah yang dapat menjadi sumber malapetaka bagi kita," dia mengingatkan.
Selain itu, dengan pesatnya perkembangan media sosial, sangat mudah bagi kita untuk terpancing untuk berbicara tanpa filter. Mulut dan jari sering kali sulit dikendalikan untuk tidak berkomentar.
"Untuk itu, pada bulan suci Ramadan ini, hendaknya kita melatih diri kita untuk tidak membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat karena lebih banyak orang celaka karena berbicara daripada tidak berbicara," ungkapnya.
Mukhtar juga mengingatkan dalam hadits Nabi Muhammad Saw tentang diam di atas, umat Islam disuruh bukan untuk tidak berbicara sama sekali, namun berbicara seperlunya, serta tidak mendiamkan kebenaran.
Editor: Kendi Setiawan


