Dark
Light
Dark
Light

Jumlah Kasus Covid-19 Kembali Melonjak di Hong Kong

Jumlah Kasus Covid-19 Kembali Melonjak di Hong Kong

Arina.id -- Jumlah kasus Covid-19 kembali melonjak di Hong Kong, China. Otoritas kesehatan setempat melaporkan bahwa peningkatan jumlah pasien yang dinyatakan positif mencapai hingga 13,7 persen, yakni sejak awal April sampai Mei 2025.

Jumlah tersebut memperlihatkan penambahan signifikan, dari rata-rata 6,2 persen dalam 4 pekan sebelumnya, dengan 81 orang masuk kategori gejala berat.

South China Morning Post mengabarkan saat ini 30 orang sudah dinyatakan meninggal dunia. Jumlah 90 persen korban adalah penderita berusia 65 tahun ke atas, dengan membawa riwayat komorbid.

Kenaikan jumlah penderita Covid-19 kali ini menjadi yang tertinggi dalam setahun terakhir. Sampel dari hasil tes saluran pembuangan serta para pasien di klinik, juga menunjukkan lonjakan jumlah penderita.

"Dengan referensi dari data masa lalu, kami memperkirakan penyebaran Covid bakal tetap pada level tinggi, setidaknya dalam beberapa pekan ke depan," kata Edwin Tsui Lok-kin selaku kontroler Pusat Proteksi Kesehatan Hong Kong, dikutip dari CNN Indonesia.

Sementara itu juga diketahui bahwa hanya 1 orang korban meninggal dunia, yang sudah menerima vaksin booster dalam 4 bulan terakhir.

"Berdasarkan perkiraan dari pusat, di antara pasien lansia berusia 65 tahun atau lebih tua, 75 persen dari mereka (yang meninggal) tinggal di panti asuhan dan 90 persen di perumahan belum menerima vaksin booster,” ungkap Edwin Tsui.

“Saya kembali mengimbau kepada warga yang berisiko tinggi (baik lansia maupun mereka yang memiliki penyakit kronis) untuk mendapatkan vaksin sedini mungkin," imbuhnya Tsui.

Otoritas Kesehatan Hong Kong (CHP) mencatat bahwa Covid-19 telah berkembang menjadi penyakit endemik di Hong Kong.

Siklus aktif terjadi tiap 6 hingga 9 bulan, karena adanya pergeseran varian dominan dan menurunnya kekebalan populasi. Dua gelombang terakhir pada tahun 2023 dan 2024, berlangsung masing-masing selama 15 dan 7 minggu.

Edwin Tsui Lok-kin mengatakan bahwa varian XDV telah menjadi strain dominan di Hong Kong sejak akhir Maret 2025. Walau begitu, tidak ada bukti yang menunjukkan XDV menyebabkan penyakit yang lebih parah.

Tsui prihatin terhadap rendahnya tingkat vaksinasi booster di antara penduduk lansia. Ia bahkan memperkirakan 90 persen lansia di komunitas belum menerima vaksin booster Covid-19.

"Kami akan terus memantau mutasi virus sesuai dengan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia, untuk mendeteksi varian mendatang dengan virulensi yang lebih tinggi atau potensi penghindaran vaksin," kata Tsui.

Sementara itu, ahli spesialis pernapasan Leung Chi-chiu mengatakan kepada China Daily bahwa tidak perlu kekhawatiran berlebihan tentang endemik kali ini.

Diungkapkan bahwa strain Covid yang beredar saat ini bukanlah varian terbaru, dan telah banyak diamati di berbagai wilayah termasuk daratan China. Oleh karenanya risiko kesehatan yang relatif lebih rendah.


Editor: A. Sentosa
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo