Arina.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bakal membuat keputusan bergabung dengan Israel menyerang Iran atau tidak dua pekan lagi. Trump seperti memberi kesempatan kepada negeri para Mullah itu untuk bernegosiasi soal program nuklirnya yang dianggap sebagai pangkal masalah perang.
Hari ini, Jumat 20 Juni 2025, menteri luar negeri dari tiga negara Eropa (E3), yakni; Inggris, Prancis dan Jerman akan bertemu dengan mitranya dari Iran Abbas Araqchi di Jenewa. Mereka sedang berusaha kembali menciptakan jalan diplomasi dengan Iran mengenai program nuklirnya.
Seperti dilaporkan The Guardian, pertemuan tersebut terjadi sehari setelah Presiden AS Donald Trump menetapkan batas waktu 14 hari bakal menyerang Iran atau tidak. Gedung Putih mengatakan bahwa presiden AS akan "membuat keputusan mengenai apakah akan menyerang Iran dalam waktu dua minggu".
Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy, berbicara setelah pertemuan dengan mitranya dari AS Marco Rubio pada hari Kamis kemarin, 19 Juni 2025, mengatakan sudah waktunya mengakhiri situasi menyedihkan di Timur Tengah dan mencegah eskalasi regional yang tidak akan menguntungkan siapa pun.
Pembicaraan akan diadakan di Jenewa, tempat kesepakatan awal antara Iran dan negara-negara besar dunia untuk mengekang program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi pada tahun 2013 sebelum kesepakatan komprehensif pada 2015. Negosiasi nuklir terakhir antara Iran dan AS gagal ketika Israel melancarkan serangan mendadak terhadap Iran pada 12 Juni.
Seorang pejabat Iran mengatakan Teheran selalu menyambut baik diplomasi, tetapi mendesak negara E3 menggunakan semua cara untun menekan Israel agar menghentikan serangannya terhadap Iran. "Iran tetap berkomitmen pada diplomasi sebagai satu-satunya jalan untuk menyelesaikan perselisihan – tetapi diplomasi sedang diganggu," kata pejabat itu.
Sementara itu, Israel--yang oleh Iran dijuluki sebagai Setan Kecil--secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap perubahan rezim di Iran. Melalui pernyataan Menteri Pertahanan Negeri Zionis, Israel Katz, mengatakan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei “tidak boleh lagi dibiarkan ada”.
Adapun untuk kondisi terkini update perang, Israel terus melancarkan serangan terhadap reaktor nuklir Iran Fordow yang sedang berkembang pesat . Televisi pemerintah Iran mengatakan tidak ada bahaya radiasi apa pun akibat serangan. Fasilitas tersebut telah dievakuasi sebelum serangan. Israel juga menargetkan Situs Nuklir Natanz yang telah diserang beberapa kali.
Serangan Israel terhadap Iran selama seminggu telah menewaskan sedikitnya 657 orang dan melukai 2.037 lainnya, kata Kelompok Hak Asasi Manusia yang berpusat di Washington. Mereka mengidentifikasi 263 warga sipil dan 164 personel pasukan keamanan tewas.
Namun Iran tidak memberikan jumlah pasti berapa korban tewas secara berkala selama konflik dan telah meminimalkan korban di masa lalu. Pembaruan terakhirnya pada hari Senin, menyebutkan jumlah korban tewas mencapai 224 orang dan 1.277 orang terluka.
Sedangkan korban dari pihak Israel, setidaknya puluhan orang tewas dan 240 orang terluka akibat serangan rudal pada Kamis pagi kemarin, demikian dilaporkan AP Media. Media tersebut melaporkan bahwa empat orang terluka parah, mengutip pernyataan Kementerian Kesehatan Israel.
Ulama Syiah terkemuka Irak, Ayatollah Ali Sistani, memperingatkan agar tidak menyerang pemimpin Iran dan mengatakan bahwa perang Iran-Israel dapat menjerumuskan seluruh kawasan ke dalam kekacauan . Sistani mengatakan setiap serangan terhadap pemimpin agama dan politik tertinggi Iran akan memiliki konsekuensi mengerikan bagi kawasan.
Editor: Muhammad Taufiq


