Ringkasnya tugas penghulu adalah menikahkan orang. Tuan Kadhi, begitu orang Melayu menyebut juru nikah. Pada masa imperium Islam di Sumatera, sultan menunjuk Tuan Kadhi sebagai hakim negara yang bertugas mengurus segala masalah umat.
Tuan Kadhi juga berhak memutuskan sengketa waris, mengatur syariat, hingga menikahkan mempelai. Tapi sesungguhnya tugas penghulu tidak sesederhana mengesahkan pernikahan.
Tidak dijelaskan kapan mulai berlaku, namun Sultan Hamengkubuwono pernah menunjuk seorang Kiai Pengulu untuk mengurus segala macam masalah keagamaan.
Kiai penghulu memimpin lembaga khusus bernama Kawedanan Pengulon yang membawahi para abdi dalem pamethakan atau kaum. Para abdi dalem ini bertugas antara lain menyiapkan khutbah Jumat, menjadi modin—juru adzan, atau merawat masjid dan makam.
Kesultanan Yogyakarta mempertahankan Kawedanan Pengulon hingga hari ini. Dari Utara Masjid Gede Kauman, seorang Kiai Pengulu memimpin tata cara peribadatan Islam di lingkungan Keraton hingga ke sekitarnya.
Penghulu Kreatif
Begitu juga Bayu Pamungkas, penghulu muda yang saat ini bertugas di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sawangan, Magelang. Usai menjalankan tugas sebagai Penghulu Ahli Pertama, Bayu memanfaatkan waktu luangnya untuk melakukan kerja-kerja kreatif sebagai desainer logo.
Bukan desainer amatiran, Bayu Pamungkas beberapa kali menang kontes merancang logo. Termasuk logo Kampung Zakat, program andalan Kementerian Agama RI yang kini menyasar 1.000 desa binaan.

Informasi lomba desain Kampung Zakat diterima mendadak dari Kasi Penyelenggara Zakat dan Wakaf Kemenag Magelang, Faizah Hanik. Dia tahu, salah seorang pegawai Kemenag Magelang punya bakat cemerlang merancang logo.
"Sehari kemudian saya bingung ini mau dibuat konsep seperti apa. Saya buat corat-coret kemudian muncul inisial Kampung Zakat yang menjadi keunikan logo itu. Saya ambil huruf K dan Z sebagai dasar logo yang menunjukkan identitas merek secara visual," kata Bayu.
Elemen huruf K dan Z dimodifikasi hingga memberi gambaran visual dua tangan yang saling berhadapan. Ini menggambarkan sikap saling tolong menolong dan gotong royong yang menjadi esensi zakat.
Warna biru dan hijau dipilih sebagai warna dominan yang melambangkan kepercayaan, kestabilan, profesionalisme. Menggambarkan bahwa Kampung Zakat dioperasikan dengan penuh integritas dan ketulusan.
"Logo ini merepresentasikan nilai Islam, kepedulian sosial, dan semangat menuju kemajuan melalui zakat. Orang yang memberi dan menerima (zakat), sama-sama ingin mengarah menuju kebaikan."
Jago Desain Logo
Terpilih sebagai pemenang sayembara logo Kampung Zakat tahun 2024, bukan kali pertama pengalaman Bayu menjuarai lomba desain. Sudah 35 kali dia menjuari kontes merancang logo tingkat internasional.
Sebagian besar karyanya menang dan dibeli perusahaan yang membuka kesempatan mendesain logo melalui situs desain terkenal 99design.com. Portofolio karya Bayu sebagai desainer profesional, ditampilkan pada situs desain yang memiliki kantor cabang di Amerika, Australia, dan Jerman.
Dari semua karyanya, paling terkesan adalah desain logo HTO TV Italia. Stasiun televisi berlogo singa jantan itu beberapa kali memamerkan karya Bayu melalui sejumlah platform media mereka.
"Saya cenderung (sering) mengikuti lomba di tingkat dunia. Melalui kontes desain. Ada platform itu. Kurang lebih ada 35 kali juara. Jadi saya mengasah pengalaman dari situ."
Di lingkungan Kementerian Agama, prestasi Bayu Pamungkas otomatis tidak jauh dari dunia seni grafis. Selain pemenang sayembara Kampung Zakat tingkat Nasional, dia juga Juara Favorit Nasional Lomba Video Kreatif dan peraih APRI Jawa Tengah Award 2024.
Bayu Pamungkas merasa bakat seni desain mengalir alamiah pada dirinya. Dia mengaku belajar desain secara otodidak. "Saya belajar dari website desain, buku, dan YouTube. Pergi ke warnet, lihat tutorial desain terus dipraktikan. Belajarnya ya di warnet itu."
Buta Warna Parsial
Lulus dari bangku sekolah menengah kejuruan, Bayu berniat melanjutkan kuliah ke jurusan teknik elektro. Serangkain tes masuk perguruan tinggi dijalaninya dengan lancar.
Tapi takdir berkata lain. Hasil tes kesehatan menyatakan dia menderita buta warna parsial. Matanya kesulitan mengenali beberapa campuran komposisi warna.
Bayu terpaksa mengemasi mimpinya menjadi sarjana elektro. Sebab bidang pekerjaan itu mengandalkan kode-kode warna untuk mengenali banyak komponen penting seperti resistor atau kabel.
"Setelah tahu hasil dokter itu, rasanya panas-dingin. Muka sampai merah. Kayak mau nangis tapi malu. Cuma bisa tarik nafas. Terus saya hubungi guru saya. Akhirnya.. Bismillah saja."
Bayu Pamungkas kemudian banting setir masuk kuliah jurusan Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sambil kuliah dia tetap belajar desain logo dengan maksud menjadikannya sekadar hobi.
Setelah lulus kuliah tahun 2016, Bayu sempat mengabdikan diri mengurus Panti Asuhan Aisyiyah di tanah kelahirannya, Porwodadi selama 1,5 tahun. Dia kemudian keluar dan memilih fokus menjadi desainer grafis.
Baru tahun 2020 atas dorongan orang tua, Bayu mendaftar dan lolos seleksi CPNS Kementerian Agama. Penempatan pertama menjadi pegawai KUA di Kecamatan Pakis.
Inovasi KUA Digital
Berpindah-pindah tempat dinas ke beberapa kecamatan, Bayu sempat tugas pada Bidang Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Magelang. Selama pandemi Covid, dia menggagas aplikasi Bimwin Virtual yang memberi layanan Bimbingan Perkawinan Virtual melalui teknologi berbasis Android.
Melihat pengarsipan dokumen wakaf yang masih tersebar, selama bertugas di KUA Kecamatan Mungkid, Bayu Pamungkas mendesain penyimpanan dokumen digital. Berkas-berkas wakaf di-scan untuk kemudian disimpan dalam aplikasi Taawud (Tatakelola Arsip Wakaf Digital).
Di Kantor Urusan Agama Salaman, Bayu Pamungkas menyetir program bimbingan konseling mengenal pasangan melalui pendekatan psikologis. Bekerjasama dengan Talent DNA dan Universitas Ari Ginanjar, program ini dimaksudkan menekan jumlah perceraian.
Program ini menuntut peran lebih penghulu, sehingga tidak hanya bertugas menikahkan tapi juga mendorong pasangan agar membentuk keluarga sakinah dan langgeng.
Aktivitasnya dalam Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Pengurus Wilayah Jawa Tengah, membuka kesempatan Bayu Pamungkas lebih dikenal terampil mendesain logo. “Saya yang mendesain ukiran gebyok kayu di ruang pelayanan Kantor Kemenag Magelang. Saya yang bikin desain ukirannya, terus dikerjakan oleh perajin Jepara.”
Pengabdian Amal Logo
Di tengah kesibukan, pada malam hari seusai menyelesaikan tumpukan tugas, Bayu tetap menyempatkan diri mengerjakan hasrat kreatifnya. Tidak hanya menggarap desain untuk lomba atau permintaan sesama pegawai Kemenag, dia menerima jasa merancang logo cuma-cuma.
Bayu Pamungkas bersedia membantu membuatkan logo lembaga-lembaga Islam non profit seperti yayasan, tempat pendidikan Qur’an (TPQ), dan masjid, tanpa memungut bayaran.
Dia melihat desain logo institusi Islam yang tidak berorientasi keuntungan, sering digarap seadanya tanpa konsep. “Logonya tidak terkonsep. Jadi tidak ada branding sedemikian rupa. Saya mengamalkan sedikit kemampuan saya. Saya ingin bermanfaat untuk masyarakat,” ujar Bayu.
Sejauh ini jasa pembuatan logo secara cuma-cuma hanya menyebar secara getok tular. Bayu masih menganggapnya sebagai kerja pribadi. Belum memikirkan apakah akan melembagakan kerja sosial yang ia bayangkan bernama ‘Amal Logo’ ini.
Sebagai pegawai pemerintah, Bayu Pamungkas ingin memaksimalkan tenaga dan pikirannya untuk mengabdi pada masyarakat. “Bisa lewat potensi yang ada di ASN. Sebagai pengabdian pada negara dan masyarakat. Bagi saya masyarakat yang membutuhkan desain, ya lembaga sosial dan non-profit itu.” (MRD)
Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama.
Editor: Muhammad Taufiq


