Arina.id - Untuk ke sekian kalinya Amerika Serikat (AS) memveto rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB (DK PBB) terkait nasib Gaza Palestina. Dalam pemungutan tersebut, selain Amerika Serikat, sebanyak 14 anggota DK PBB lainnya menyetujui rancangan resolusi tersebut.
Rancangan resolusi PBB ini berisi seruan gencatan senjata dan pembebasan seluruh sandera yang masih ditahan di Gaza. Rancangan tersebut disusun oleh 10 anggota tidak tetap DK PBB.
"Menuntut diberlakukannya gencatan senjata segera, tanpa syarat, dan permanen di Gaza serta menegaskan lagi seruan supaya semua sandera yang masih ditahan kelompok perlawanan Palestina, Hamas, segera dibebaskan," demikian bunyi resolusi tersebut, seperti dilaporkan sputnik, Kaims 19 September 2025.
Resolusi tersebut juga mendesak Israel mencabut semua pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza dan memastikan kelancaran distribusinya kepada warga sipil di wilayah kantong Palestina itu.
Veto AS terhadap rancangan resolusi untuk mengakhiri agresi Israel di Jalur Gaza kali ini merupakan yang kesekian kalinya. Pada Juni, AS memveto rancangan resolusi serupa.
Dilaporkan Al-Jazeera, AS telah memveto lusinan resolusi DK PBB yang mengkritik Israel, termasuk setidaknya 53 orang sejak 1972. Seiring dengan meningkatnya kekerasan antara Israel dan Palestina yang terjadi di hari kesepuluh, Amerika seperti terjebak dalam permainan tersebut.
Adapun terkait pemukiman Israel, AS juga setidaknya sejak tahun 1983 telah memblok isunya. Yang terbaru adalah pada tahun 2011, ketika rancangan resolusi yang bertujuan untuk menegaskan kembali bahwa semua aktivitas pemukiman Israel di wilayah Palestina, termasuk Jerusalem Timur, adalah ilegal dan merupakan hambatan besar untuk mencapai perdamaian atas dasar solusi dua negara.
Pada hari Senin, 15 September 2025, Washington juga memblokir pernyataan gabungan yang menyerukan gencatan senjata secepatnya antara Israel dan Hamas. Kemudian veto kali ini juga dilakukan Amerika ketika Israel memperluas serangannya pada Kamis, 19 September 2025.
Veto yang acapkali dilakukan Amerika terkait Israel ini menuai kekecewaan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan pejabat PBB lain.
Perwakilan permanen Inggris untuk PBB, Barbara Woodward, mengatakan "Ekspansi Israel dalam operasi militernya membawa kita lebih jauh dari kesepakatan yang dapat membawa sandera pulang dan mengakhiri penderitaan di Gaza."
Editor: Muhammad Taufiq


