Arina.id. Puluhan ribu tentara Korea Utara dikerahkan untuk membantu Rusia demi merebut kembali wilayah Kursk. Namun, bagaimana kabar dan peran tentara Korea Utara dalam perang Rusia Ukraina terkini?
Pada 29 Oktober 2024, AP News melaporkan Korea Utara telah mengirim sekitar 10.000 tentara ke Rusia. Mereka dikabarkan pergi dengan tujuan latihan dan kemungkinan besar berperang melawan Ukraina selama beberapa pekan.
Hal ini dikatakan oleh Pentagon. Menurut pihak Barat, perang Rusia-Ukraina diyakini semakin memanas melihat kedatangan tentara Korea Utara itu sekaligus membikin situasi di Indo-Pasifik memburuk.
Juru bicara Pentagon, Sabrina Singh, kala itu menyebutkan tentara Korea Utara bergerak lebih dekat ke Ukraina dan menuju wilayah perbatasan Kursk.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte NATO, membenarkan laporan intelijen Ukraina yang menyebutkan unit militer Korea Utara sudah tiba di wilayah Kursk.
Rudal Korea Utara di Perang Rusia Ukraina
Kabar paling anyar terkait tentara Korea Utara di Perang Rusia Ukraina terkini menyebutkan sedikitnya 100 tentara Korea Utara telah tewas selama terlibat pertempuran di perang Ukraina.
Sebagaimana mengutip BBC, Kamis, 19 Desember 2024, hal ini dikatakan seorang anggota parlemen Korea Selatan, Lee Sung-kwon. Katanya, berdasarkan penjelasan Badan Intelijen Nasional, 1.000 tentara Korea Utara lainnya juga mengalami luka.
Korban termasuk petinggi militer. Banyaknya jatuh korban ditengarai karena tentara Korea Utara dinilai kurang memahami medan dan perang drone.
Di lain sisi, laporan Al-Jazeera menyebutkan Korea Utara turut memproduksi rudal balistik dan memasok ke Rusia. Rudal itu konon digunakan di Ukraina.
Kabar ini berdasarkan keterangan yang disampaikan peneliti yang bekerja untuk UN Security Council (UNSC) atau Dewan Keamanan PBB (DK PBB). Mereka menemukan sisa-sisa rudal Korea Utara di medan perang Ukraina.
"Ini adalah bukti publik pertama bahwa rudal telah diproduksi di Korea Utara dan kemudian digunakan di Ukraina dalam hitungan bulan, bukan tahun," beber Jonah Leff, kepala Conflict Armament Research yang berbasis di UK.
Sementara juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara berdalih Washington dan sekutu terus saja memperpanjang situasi perang di Ukraina hingga menuding sudah membukan keamanan di Eropa dan Asia Pasifik semakin memburuk.
Editor: Abdul Fatah


