Jakarta, Arina.id—Karhutla di Bromo meluas, area terdampak sekitar 520 hektare dan mengancam ekosistem serta habitat puluhan satwa liar dilindungi.
"Tercatat hingga saat ini ada 520 hektare kawasan terdampak kebakaran," kata Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha dilansir Antara, Senin (10/8).
Api yang muncul kembali di Penanjakan dan Bukit Dingklik membuat pengelola menutup total akses wisata menuju Gunung Bromo dari Cemorolawang, Wonokitri, Jemplang, Coban Trisula, hingga Senduro.
Nugraha menyebut, kebakaran menghanguskan savana, padang rumput, semak belukar, hingga cemara gunung. Hilangnya tutupan vegetasi bukan cuma mengurangi ruang hidup dan sumber pakan satwa, tapi juga meningkatkan risiko erosi saat musim hujan.
Pemerintah daerah dan kementerian terkait menekankan kombinasi pemadaman dan pencegahan. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengungkap penyebab kebakaran di Bromo terus meluas tiap hari harinya.
"Angin dan juga memang bahan bakar bagi kebakaran hutan ini adalah alang-alang. Jadi, makanya yang kita lakukan saat ini kombinasi pemadaman dan pencegahan," kata Emil.
Sementara itu, Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni menegaskan pelaku yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Bromo akan dihukum berat. Raja Juli menyatakan aparat berkomitmen untuk menindak tegas semua pihak yang terbukti melakukan aktivitas terlarang yang memicu kebakaran.
"Siapa pun yang melakukan pembakaran hutan dan lahan akan mendapatkan hukuman setimpal," kata Raja Juli.
Sebelumnya, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menyatakan kebakaran di kawasan Gunug Bromo diduga disebabkan aktivitas manusia.
Dugaan berasal dari titik api awal yang diketahui di area Blok Bantengan. Balai Besar TNBTS menyebut terdapat jalur tradisional atau jalan tembusan yang menghubungkan antara Desa Arjosari dengan Ranu Pani di lokasi itu.
Pihak TNBTS menyatakan, terdapat kemungkinan aktivitas membuat perapian saat cuaca dingin di area tersebut. Namun, perapian yang tidak dipadamkan dengan baik disinyalir memicu kebakaran.
TNBTS merupakan kawasan konservasi yang terdaftar oleh UNESCO sebagai Jaringan Cagar Biosfer Dunia. TNBTS memiliki ekosistem unik yang terdiri dari gurun atau lautan pasir dan sabana. Di dalam ekosistem sabana tersebut, terdapat hamparan padang rumput yang dikenal sebagai Bukit Teletubbies.
Selain sabana, TNBTS juga memiliki pepohonan berusia ratusan tahun, seperti pinus gunung (Casuarina junghuhniana), konifer jamuju (Dacrycarpus imbricatus), edelweiss (Leontopodium nivale), serta berbagai anggrek dan rerumputan langka. Tumbuhan dan pepohonan di sekitar TNBTS antara lain centigi (Vaccinium varingiafolium), akasia (Acacia), cemara, dan berbagai rerumputan.
Tumbuhan-tumbuhan ini juga berfungsi sebagai habitat bagi berbagai satwa yang hidup di TNBTS. Kawasan ini merupakan rumah bagi setidaknya 38 spesies satwa liar yang dilindungi, termasuk 24 spesies burung, 11 spesies mamalia, 1 spesies reptil, dan 2 spesies serangga. Spesies-spesies ini antara lain elang jawa (Nisaetus bartelsi), macan tutul jawa (Panthera pardus melas), dan lutung jawa (Trachypithecus auratus).
Editor: Suci


