Arina.id -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim bahwa dirinya turut punya andil atas terciptanya gencatan senjata dalam konflik India-Pakistan di kawasan Asia Selatan.
Dikutip dari The Hindu, pada Senin (12/3/2025) kemarin Presiden Trump mengatakan kepada awak media di Gedung Putih, bahwa ia telah melempar ancaman kepada kedua pihak yang berseteru (India-Pakistan).
Amerika Serikat bakal menghentikan perdagangan dengan India-Pakistan jika keduanya tidak segera berhenti saling serang.
“Saya katakan (kepada pemimpin India dan Pakistan), mari hentikan. Jika kalian berhenti kita akan berdagang. Jika kalian tidak berhenti saling serang kita tidak akan berdagang,” ucap Trump.
Trump menilai gencatan senjata antara India-Pakistan bisa terjadi karena banyak faktor. Tapi ia meyakini faktor utamanya karena perdagangan dengan AS.
“Dan tiba-tiba mereka bilang, ‘Saya rasa kami akan hentikan.’ Mereka memang berhenti, dan itu karena berbagai alasan, tapi perdagangan adalah alasan utamanya,” kata Trump, dikutip dari Antaranews.
Tak hanya penghentian saling serang India-Pakistan. Trump juga menggarisbawahi bahwa langkah yang sudah ia lakukan juga berhasil mencegah terjadinya perang nuklir. Hal itu mengingat India dan Pakistan adalah 2 negara yang sama-sama memiliki senjata nuklir.
“Kami berhasil mencegah konflik nuklir. Menurut saya, itu bisa saja jadi perang nuklir yang sangat buruk. Jutaan orang bisa tewas. Jadi, saya sangat bangga dengan hal itu,” imbuh Trump.
Dijelaskan oleh Trump, saat ini Amerika Serikat tengah menjajaki peningkatan kerja sama perdagangan dengan pihak India. Sementara dalam waktu dekat juga sudah diagendakan memulai perundingan dagang dengan Pakistan.
Konflik India-Pakistan mulai memanas usai serangan teroris pada 22 April 2025 di Pahalgam, atau kawasan Kashmir yang dikuasai India. Serangan brutal tersebut menewaskan puluhan wisatawan.
Pemerintah India menuding bahwa pihak Pakistan turut di belakang aksi terorisme tersebut. Akibatnya, pada 7 Mei 2025 militer India melancarkan serangan udara dan misil ke sejumlah wilayah Pakistan, yang diklaim India sebagai lokasi infrastruktur teroris.
Tindakan ofensif India sontak memicu eskalasi lebih besar. Karena selepas itu militer kedua pihak lantas saling jual-beli serangan. Eskalasi konflik mulai menurun pada 10 Mei, ketika India-Pakistan sepakat untuk memulai perundingan gencatan senjata.
Keputusan India-Pakistan untuk membawa konflik ke meja perundingan turut disambut positif oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
"Sekretaris Jenderal menyambut kesepakatan gencatan senjata antara India dan Pakistan sebagai langkah positif untuk mengakhiri permusuhan saat ini dan meredakan ketegangan," terang juru bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric, pada Sabtu (10/5/2025).
Editor: A. Sentosa


