Arina.id - Manila, Ibu Kota Filipina mencekam. Mirip Jakarta pada akhir Agustus 2025 lalu, Manila juga dilanda prahara demonstrasi puluhan ribu orang yang berujung kerusuhan. Para demonstran melakukan perusakan perkantoran, melempari polisi dengan batu, botol, bom molotov, dan memblokir jalan-jalan.
Protes dimobilisir aktivis muda dan mahasiswa (Gen-Z) Filipina ini sebenarnya terjadi sejak 15 September 2025 lalu. Namun eskalasi puncaknya membesar kemarin, Minggu 21 September 2025, ketika kerusuhan meledak di akses jalan menuju Gedung parlemen dan istana presiden.
Pemicu kerusuhan ketika pasangan kaya Sarah dan Pacifico Discaya, bos perusahaan konstruksi pemenang kontrak proyek pengendalian banjir--yang disorot karena diduga dikorupsi--melakukan flexing memamerkan puluhan mobil mewah dan SUV Eropa dan AS milik mereka dalam sebuah wawancara media. Kemarahan publik pecah setelahnya.
Sebanyak 49 orang dilaporkan ditangkap polisi sebab terlibat kerusuhan: melempari batu, botol dan bom molotov polisi. Titik demonstrasi juga tersebar di banyak area. Selain di depan gedung parlemen dan istana presiden, 33.000 lainnya berunjuk rasa di taman bersejarah dan monumen demokrasi Manila.
Seperti dilaporkan Newsday, demonstran murka atas skandal korupsi yang melibatkan anggota parlemen, pejabat, dan pemilik perusahaan konstruksi yang diduga menerima suap besar dari proyek-proyek pengendalian banjir Filipina, salah satu negara miskin di Asia Tenggara dan sering dilanda badai dan topan tersebut.
Dalam kerusuhan yang berlangsung berjam-jam, ratusan orang yang sebagian besar membawa pentungan, bendera Filipina dan poster bertuliskan slogan antikorupsi itu menyeran aparat hingga menyebabkan 70 polisi terluka. Akibat demontrasi rusuh, sekolah-sekolah dan perkantoran juga diliburkan.
Kemudian dalam aksinya para demonstran juga menggambar grafiti di tembok gedung--gedung sepanjang jalan, merobohkan tiang-tiang, memecahkan panel kaca dan mengacak-acak lobi sebuah penginapan di sepanjang jalan, merusak bank dan restoran.
Beberapa jam setelah penyerangan polisi mengidentifikasi beberapa demonstran membawa bendera hitam bergambar tengkorak dan tulang bersilang (Bajak laut One Piece). Polisi mengatakan situasi telah terkendali sambil memperingatkan bahwa kekerasan dan vandalisme tidak akan ditoleransi.
Protes korupsi dipicu pamer mobil mewah bos perusahaan konstruksi
"Saya merasa tidak enak karena kita terjerumus dalam kemiskinan dan kehilangan rumah, nyawa, dan masa depan kita. Sementara mereka meraup kekayaan besar dari pajak kita yang digunakan untuk membeli mobil mewah, perjalanan ke luar negeri, dan transaksi korporasi yang lebih besar," ujar aktivis mahasiswa Althea Trinidad.
Trinidad tinggal di Bulacan, provinsi rawan banjir di utara Manila. Di Bulacan itulah dugaan korupsi proyek pengendali banjir sedang diselidiki karena tidak memenuhi standar.
"Tujuan kami bukan untuk menggoyahkan stabilitas, melainkan untuk memperkuat demokrasi kita," ujar Kardinal Pablo Virgilio David, ketua Konferensi Waligereja Katolik Filipina, dalam sebuah pernyataan. Ia mengajak masyarakat untuk berdemonstrasi secara damai menuntut pertanggungjawaban.
Marcos pertama kali menyoroti skandal korupsi pengendalian banjir pada bulan Juli 2025 dalam pidato kenegaraan tahunannya. Ia kemudian membentuk komisi independen untuk menyelidiki apa yang ia sebut sebagai anomali dalam 9.855 proyek pengendalian banjir senilai lebih dari 545 miliar peso (USD 9,5 miliar).
Proyek-proyek itu seharusnya telah dilaksanakan sejak ia menjabat pada pertengahan 2022. Marcos menyebut skala korupsi tersebut "mengerikan" hingga menyebabkan pengunduran diri sekretaris kementerian pekerjaan umum.
Kemarahan publik meletus ketika pasangan bos kaya yang mengoperasikan beberapa perusahaan konstruksi pemenang kontrak pengendalian banjir memamerkan puluhan mobil mewah miliknya dalam sebuah wawancara media. Flexing mereka itu dianggap tidak peka terhadap kemiskinan rakyat Filipina.
Marcos mengatakan sama sekali tidak menyalahkan orang-orang atas protes terhadap skandal tersebut dan menyerukan agar demonstrasi berlangsung damai. Presiden menambahkan bahwa militer berada dalam "siaga merah" sebagai tindakan pencegahan.
Jurnalis Al-Jazeera, Barnaby Lo, melaporkan: "Bukanlah suatu kebetulan bahwa protes ini terjadi pada tanggal 21 September, yang merupakan peringatan deklarasi darurat militer oleh mantan Presiden Ferdinand Marcos, dan berlangsung di jalan raya yang sama tempat terjadinya dua revolusi kekuatan rakyat," kata Lo.
Lo menambahkan bahwa para pengunjuk rasa menginginkan presiden untuk melembagakan "reformasi berkelanjutan" yang akan "memberantas segala peluang korupsi di tingkat pemerintahan mana pun".
Aly Villahermosa, seorang mahasiswa keperawatan berusia 23 tahun mengatakan telah mengarungi banjir di negara yang rawan badai itu. "Kalau ada anggaran untuk proyek-proyek bayangan, kenapa tidak ada anggaran untuk sektor kesehatan?” ujarnya, seraya menambahkan bahwa pencurian uang rakyat sangat memalukan.
Editor: Muhammad Taufiq


