Dark
Light
Dark
Light

Influencer dan Podcaster Geser Peran Media Konvensional di Banyak Negara

Influencer dan Podcaster Geser Peran Media Konvensional di Banyak Negara

Jakarta, Arina.id—Hadirnya media alternatif yang terfragmentasi, berisi berbagai podcaster, YouTuber, dan TikToker, kini menjadi rujukan utama informasi publik, terutama di kalangan anak muda.

Laporan Reuters Institute dan University of Oxford menunjukkan, tokoh-tokoh seperti Joe Rogan di AS hingga Hugo Travers di Prancis memainkan peran penting dalam membentuk opini publik—bahkan melampaui media arus utama.

Pada Pilpres AS tahun lalu misalnya, kedua kandidat presiden, Donald Trump dan Kamala Harris sama-sama memberikan wawancara kepada tokoh dan kreator konten yang telah membangun audiens signifikan melalui platform daring seperti YouTube dan X.

"Seperlima (22%) dari sampel Amerika Serikat kami mengatakan bahwa mereka menemukan berita atau komentar dari podcaster populer Joe Rogan seminggu setelah pelantikan, termasuk sejumlah besar pria muda," tulis laporan bertajuk Digital News Report 2025 itu.

"Dalam survei kami, untuk pertama kalinya kami dapat melihat seberapa berpengaruhnya beberapa dari mereka," sebut laporan itu.

Sebanyak 22% responden mengatakan mereka menjumpai podcaster dan komedian Joe Rogan yang membahas atau mengomentari berita pada minggu sebelumnya. Sebanyak 14% mengatakan hal serupa tentang Tucker Carlson, mantan pembawa berita Fox News, yang kini menyebarkan konten di berbagai media sosial dan jaringan video termasuk X dan YouTube.

Tokoh lain yang banyak diakses antara lain Megyn Kelly, Candace Owens, dan Ben Shapiro dari kubu kanan, serta Brian Tyler Cohen dan David Pakman dari kubu kiri.

"Analisis dari Digital News Report kami menunjukkan bahwa sebagian besar kreator teratas yang membahas politik adalah laki-laki," tulisnya.

YouTuber terkemuka di luar Amerika Serikat termasuk Julian Reichelt, mantan editor Bild di Jerman, dan Piers Morgan, mantan editor surat kabar dan presenter TV di Inggris. Namun, pengenalan nama mereka di Eropa jauh lebih rendah dibanding di AS.

"Satu pengecualian, yang juga kami catat dalam laporan tahun lalu, adalah kreator muda Prancis Hugo Travers, yang lebih dikenal dengan nama samaran HugoDécrypte. Ia telah membangun bisnis media populer berbasis YouTube dan TikTok, di mana ia mencoba menjelaskan berita kepada khalayak yang lebih muda."

Di Prancis, Hugo Travers menjangkau 22% dari mereka yang berusia di bawah 35 tahun dengan konten yang disalurkan terutama melalui platform YouTube dan TikTok. Influencer muda juga memainkan peran penting di banyak negara Asia, termasuk Thailand.

Dalam ekosistem alternatif yang terkadang membingungkan ini, garis pemisah antara jurnalisme, aktivisme, dan politik sering kali kabur. Di Rumania, Călin Georgescu membangun kampanyenya untuk kursi kepresidenan sebagian besar melalui penampilan rutin di podcast sayap kanan dan saluran TikTok yang sukses. Di sana, ia berbicara tentang kecintaannya pada judo di samping pandangannya yang anti-UE dan pro-Rusia.

"Meskipun dilarang berpartisipasi dalam pemilihan ulang pada bulan Mei, Georgescu tetap menjadi individu yang paling banyak disebutkan sebagai sumber berita di media sosial oleh responden Rumania," tulis Reuters.

Pembuat berita muda juga berdampak di belahan dunia lain. Di Thailand, batasan berekspresi sering kali dikontrol ketat. Generasi influencer media sosial mengubah sifat konsumsi informasi menjadi lebih blak-blakan dan jauh dari kesan formal. 

TikToker berpengaruh termasuk Anuwat Noom dengan lima juta pengikut dan Phakkawat Rattanasiriampai (Pond on News), yang telah membangun audiens lebih dari tiga juta pengikut dengan pandangan ringkas dan mudah dipahami tentang berita.

Kanchai Kamnerdploy, seorang aktor, jurnalis, dan pembawa berita, juga memiliki acara bincang-bincang yang sering kontroversial dan ditonton jutaan orang melalui Facebook, YouTube, serta TV konvensional.

"Lebih dari separuh responden Thailand kami (60%) mengatakan mereka melihatnya berdiskusi atau mengomentari berita pada minggu sebelumnya."

Jika digabungkan, tren-tren ini mendorong pertumbuhan sektor media alternatif yang digerakkan oleh pribadi, yang sering kali menentang organisasi berita tradisional—meskipun dalam praktiknya, banyak tokoh terkemuka justru berasal dari sana.

Jumlah tersebut bukan sekadar angka besar. Para kreator ini juga menjangkau khalayak yang sulit diraih oleh media tradisional.

"Beberapa tokoh paling populer terlalu diunggulkan oleh kaum muda, dengan khalayak yang condong ke kanan, dan dengan mereka yang kurang percaya pada media arus utama, menganggapnya bias atau bagian dari elit liberal."

Laporan Reuters Institute menunjukkan bahwa Hugo Travers kini memiliki tingkat jangkauan pada mereka yang berusia di bawah 35 tahun, yang sebanding dengan atau lebih tinggi daripada banyak industri media arus utama Prancis.

Terkait sumber informasi palsu atau menyesatkan, influencer dan tokoh daring dianggap sebagai ancaman terbesar di seluruh dunia (47%), bersama politisi nasional (47%).

Kekhawatiran terhadap influencer paling tinggi di negara-negara Afrika seperti Nigeria (58%) dan Kenya (59%). Sementara itu, politisi dianggap sebagai ancaman terbesar di Amerika Serikat (57%), Spanyol (57%), dan sebagian besar Eropa Timur termasuk Serbia (59%), Slowakia (56%), dan Hungaria (54%).

Laporan ini didukung oleh penelitian kualitatif di tiga pasar—Inggris, AS, dan Norwegia. Edisi keempat laporan ini berdasarkan data dari enam benua dan 48 pasar, termasuk Serbia.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo