Jakarta, Arina.id — Peter mendorong orang-orang di sekelilingnya dan berhasil mendekati wajah si gajah. “Tolong,” kata Peter, “Kau tahu di mana adikku? Bisakah kau memberitahuku?" Lalu ia merasa tidak enak hati karena berbicara. Gajah itu kelihatan sangat lelah dan sedih. “Kumohon,” Peter berbisik pada gajah itu, “Bisakah kau, mungkinkah kau membuka matamu? Dapatkah kau menatapku?” Setelah lama sekali, gajah itu membuka mata dan memandang Peter langsung. Ia memandang Peter dengan tatapan tunggal, tajam, dan putus asa.
Cerita di atas adalah penggalan dari novel anak-anak berjudul The Magician’s Elephant (Gramedia, 2009) ditulis oleh Kate DiCamillo. Novel itu menceritakan kisah hidup Peter, bocah yatim piatu yang berusaha menemukan adiknya. Menurut ramalan, ia akan berjumpa adiknya dengan perantara seekor gajah. Keyakinan itu yang mendorongnya nekat menemui sang gajah, hewan dari alam liar yang muncul di kota karena kesalahan seorang pesulap.
Gajah itu bersedih ketika terpisah dari habitat dan keluarganya. Yang lebih memilukan, ia merasa asing berada di antara manusia yang begitu berisik dan penuh hiruk-pikuk. Perasaan gajah itu hanya bisa ditangkap oleh Peter, bocah tulus yang juga merasakan pedihnya tanpa keluarga. Novel itu meninggalkan ingatan sisi lain sosok gajah yang biasa dicitrakan sebagai hewan kuat, tangguh, dan solid. Gajah juga hewan melankolis, rapuh dan perasa.
Belum lama ini, media memberitakan 350 gajah di Botswana, Afrika bagian Selatan, mati karena meminum air beracun. Ini adalah peristiwa besar yang belum pernah tercatat. The Guardian (30/11/2024) menyebutkan bahwa para gajah sempat berputar-putar terlebih dahulu sebelum pingsan lalu mati. Menurut Davide Lomeo, peneliti dari King’s College London, gajah-gajah keracunan air yang mengandung ganggang biru-hijau (cyanobacteria) beracun.
Menurutnya, krisis iklim telah membuat meningkatnya jumlah ganggang berbahaya tersebut. Timnya telah meneliti 3.000 lubang air di Kawasan itu, hasilnya ditemukan data bahwa air telah terkontaminasi ganggang biru-hijau sejak 2020. Dalam laporannya, peneliti juga menduga hewan lain ikut menjadi korban karena meminum dari sumber air yang sama.
Kisah ini tentu amat memilukan. Gajah-gajah tidak punya pilihan selain minum dari lubang-lubang air di kawasan mereka tinggal. Kita membayangkan wajah para gajah itu seperti yang dijelaskan oleh Peter: lelah, sedih, putus asa, dan menderita karena sakit. Cerita kematian hewan liar disusul oleh berita lainnya: 35 gajah di Zimbabwe mati karena bakteri misterius dan 200.000 antelop saiga mati karena keracunan darah atau septikemia hemoragik yang berkaitan dengan Krisis iklim di Kazakhstan.
Perubahan iklim telah mengubah ketersediaan air secara drastis dan menyediakan tempat bagi bakteri dan alga berbahaya untuk membunuh populasi hewan. Perlahan, jumlah kematian satwa liar terus bertambah. Akibat dari kepunahan itu tidak hanya akan terjadi pada ekosistem di alam liar, tetapi juga kehidupan manusia.
Apa yang akan terjadi jika hewan liar mulai punah, terutama para gajah? Nationalgeographic.grid.id (28/1/2023) dalam tulisan bertajuk Dunia Hewan: Jika Gajah Punah, Karbon di Atmosfer Akan Tinggi, menukilkan bencana yang akan ditanggung ketika gajah mulai berguguran, salah satunya meningkatnya pemanasan planet. Hewan megaherbivora memiliki andil sangat penting dalam rantai ekosistem, mereka tidak hanya membantu dalam proses reboisasi hutan secara alami tetapi juga menjaga keseimbangan pertumbuhan pohon-pohon dengan kerapatan karbon tinggi. Pohon itu amat diperlukan untuk kelangsungan makhluk hidup. Gajah secara langsung terikat untuk mempengaruhi tingkat karbon di atmosfer.
Krisis iklim menyebabkan munculnya kerusakan alam. Kerusakan alam menyebabkan krisis iklim. Siklus ini terus terjadi dan berulang. Salah satunya pada tragedi matinya 350 gajah di Botswana. Krisis iklim yang berdampak pada pencemaran air membuat ratusan gajah mati. Kematian banyak gajah akan berdampak buruk pada rusaknya ekosistem di alam, terutama pertumbuhan dan keseimbangan banyak pohon. Hal itu tentu akan semakin memperparah perubahan iklim bumi. Jika hal ini dibiarkan, lambat laun manusia akan kesulitan untuk menjalani hidup.
Bagaimana upaya untuk melakukan tindakan preventif dari bencana tersebut? Climate Change terkait erat dengan tangan-tangan manusia. Masalah itu disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya pembakaran bahan bakar fosil yang melibatkan batu bara, minyak bumi, dan gas alam. Deforestasi atau penebangan hutan secara besar-besaran yang berdampak pada masalah penyerapan karbon. Penggunaan Cloro Flour Carbon (CFC) yang tidak terkontrol, juga turut menyumbang sengkarut iklim dunia.
Hal yang bisa kita upayakan adalah memulainya dari yang paling dekat dan mungkin. Untuk mencegah kematian dari banyak satwa liar dan perubahan suhu di bumi, kita bisa mencobanya dengan mengurangi penggunaan energi, yaitu mematikan lampu dan peralatan elektronik saat tidak digunakan. Mengurangi sampah, yaitu melakukan pemisahan sampah dan membuat kompos sendiri. Memiliki produk ramah lingkungan, yaitu membeli barang bekas, mengurangi plastik sekali pakai, dan menghindari perilaku konsumtif. Dan beberapa tindakan lainnya.
Meski terdengar sangat sederhana dan kecil. Tapi, jika hal itu konsisten dilakukan secara massal, perubahan besar pasti akan terjadi. Semua hal selalu berawal dari sesuatu yang kecil dan sederhana. Tidak harus menunggu besar untuk memulai. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Begitupun dalam mengurangi krisis iklim yang kini sedang kita hadapi.
Editor: Kendi Setiawan


