Yogyakarta, Arina.id—Masjid Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) Yogyakarta jadi lokasi Sahur Bersama Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Selasa (3/3/2026) sejak dinihari. Lebih dari 1.000 peserta dari beragam latar belakang memadati lokasi acara yang telah hampir dua dekade rutin digelar dari kota ke kota tersebut.
Sahur bersama tidak sekadar menjadi agenda seremonial Ramadhan. Di Yogyakarta, kegiatan tersebut menjelma ruang perjumpaan lintas agama, suku, dan profesi. Hadir dalam acara itu komunitas ojek daring, paguyuban becak Yogyakarta, tokoh lintas iman, komunitas difabel, serta organisasi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga.
Rektor UIN Sunan Kalijaga, Noorhaidi Hasan, dalam sambutannya menegaskan pentingnya merawat nilai demokrasi dan kebangsaan melalui momentum kebersamaan seperti ini.
“Kita perlu merayakan kebersamaan ini, karena dari sinilah kita belajar memahami satu sama lain serta menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” ujarnya.
Turut hadir jajaran pimpinan universitas, antara lain Mohammad Sodik dan Abdur Rozaki. Hadir pula Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan Jaringan Gusdurian, Jay Akhmad, bersama para anggota jaringan dari berbagai daerah.
Dalam sesi dialog, Nyai Shinta membuka ruang percakapan lintas iman secara terbuka. Ia mengisahkan bahwa tradisi sahur bersama telah dimulainya sejak masa kepemimpinan mendiang Abdurrahman Wahid sebagai Presiden.
“Sahur bersama ini adalah bagian penting dari perjalanan hidup saya. Ini bukan sekadar seremonial, melainkan komitmen untuk merawat kebersamaan dan semangat toleransi di Indonesia,” tuturnya.
Menurutnya, menyapa kelompok-kelompok marjinal melalui sahur bersama merupakan cara sederhana namun bermakna untuk menghapus sekat sosial dan menumbuhkan empati.
Dalam pidatonya, Nyai Shinta juga mengangkat tema kejujuran. Ia mengawali dengan pertanyaan kepada hadirin, “Siapa yang jujur?” Pertanyaan itu mengundang refleksi sekaligus tawa hangat peserta.
Ia menegaskan bahwa kejujuran merupakan fondasi kesejahteraan dan kedamaian. “Kejujuran adalah kunci untuk mencapai keharmonisan, baik dalam keluarga maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Acara ditutup dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka dan Bagimu Negeri. Suasana haru menyelimuti masjid saat para peserta berdiri bersama, meneguhkan kembali komitmen menjaga Indonesia sebagai bangsa yang majemuk.
Editor: Kendi Setiawan


