Arina.id -- Greenland menggelar pemilu parlemen pada Selasa (11/3/2025), di tengah bayang-bayang ambisi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang ingin menguasai pulau wilayah otonom Denmark tersebut.
Total terdapat 72 TPS (tempat pemungutan suara) di seluruh wilayah Greenland, yang mengakomodir 40.500 warga pemilih. Para warga yang sudah memiliki hak pilih memberikan suaranya untuk anggota parlemen, dengan jumlah 31 kursi.
Isu terkait rencana Donald Trump yang ingin menguasai Greenland cukup dominan dalam tema kampanye di Greenland. Hal tersebut yang juga disinyalir turut memantik minat warga setempat untuk menyalurkan hak pilih.
Bahkan dikabarkan proses pemungutan suara sampai diperpanjang 30 menit akibat tingginya partisipasi warga dalam pemilu kali ini.
Tempat pemungutan suara dibuka pada pukul 11.00 GMT (18:00 WIB) dan ditutup pada pukul 22.00 GMT (Rabu, jam 05:00 WIB).
Dengan jumlah total 31 kursi parlemen, maka secara matematis dibutuhkan 16 kursi untuk menguasai suara mayoritas parlemen.
Para anggota terpilih memiliki masa jabatan 4 tahun, melalui sistem perwakilan proporsional. Ada 6 partai politik yang ikut kontestasi politik di Greenland tahun ini.
Greenland berstatus bekas koloni Denmark sejak 1953, kemudian memperoleh otonomi terbatas pada 1979 termasuk membentuk parlemen sendiri.
Meski punya hak otonomi, Copenhagen tetap memegang kendali atas kebijakan luar negeri Greenland. Juga masalah pertahanan dan mata uang yang digunakan.
Tahun 2009, Greenland sempat memenangkan hak untuk memproklamirkan kemerdekaan penuh melalui referendum. Tapi sampai saat ini belum ada tindakan nyata yang dilakukan untuk brpisah dari Denmark.
Tema kemerdekaan menjadi isu utama jelang pemilu Greenland 2025. Qupanuk Olsen salah satu kandidat dari Partai Naleraq (pro-kemerdekaan), meyakini bahwa Greenland harus segera menuju kemandirian penuh.
“Saya sangat yakin bahwa kita akan segera menjalani kehidupan yang berlandaskan budaya, bahasa, dan peraturan kita sendiri, bukan berdasarkan aturan dari Denmark," ujar Olsen, dikutip dari Voice of America, Rabu (12/3/2025).
Sementara Partai Inuit Ataqatigiit yang kini memegang pemerintahan berpendapat bahwa Greenland belum siap merdeka dalam waktu dekat.
Sementara itu sejak dilantik menjadi Presiden AS pada Januari 2025, Donald Trump kembali menyampaikan niatannya untuk menguasai Greenland.
Trump berpendapat pulau besar di wilayah kutub utara tersebut punya peran penting untuk meningkatkan keamanan nasional AS.
Editor: A. Sentosa


