Dark
Light
Dark
Light

Pembekalan Kabinet (Tentara) Merah-Putih Prabowo: Uji Loyalitas atau Indoktrinasi Militerisme?

Pembekalan Kabinet (Tentara) Merah-Putih Prabowo: Uji Loyalitas atau Indoktrinasi Militerisme?

Arina.id— Presiden Prabowo Subianto memboyong para anggota Kabinet Merah Putih ke kompleks Akademi Militer di Magelang, Jawa Tengah. Presiden menyatakan bahwa agenda selama empat hari—24-27 Oktober 2024—di sekolah pendidikan TNI Angkatan Darat itu bertujuan untuk pembekalan lanjutan terhadap para anggota kabinet agar mereka dapat kompak bekerja sebagai tim.

Di sana, para menteri, wakil menteri, staf khusus presiden, utusan presiden, hingga Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, diberi pelatihan dan pengarahan secara singkat oleh Prabowo tentang program-program pemerintahan, strategi menyatukan visi dan misi sebagai tim kerja, hingga upaya pencegahan korupsi.

Para peserta pembekalan dipakaikan pakaian loreng ala tentara lengkap dengan topi Komponen Cadangan (Komcad) dan sepatu lars. Mereka menginap di tenda-tenda glamping (glamour camping) dengan sejumlah fasilitas yang cukup mewah ala hotel. Setiap pagi para peserta wajib menjalani olahraga dan latihan baris-berbaris sebelum sarapan dan penyampaian materi pengarahan atau pembekalan. Agenda ditutup dengan Upacara Parade Senja.

Untuk apa dan mengapa di Akmil?

Rencana pembekalan para pembantu presiden di kompleks Akademi Militer (Akmil) itu sebenarnya telah disampaikan beberapa hari sebelum Prabowo dilantik sebagai Presiden pada 20 Oktober. Kemudian, tiga hari setelahnya, dalam rapat kabinet perdana di Istana Negara, Prabowo mengungkapkan tujuan dari rencananya tersebut.

"Saudara-saudara, saya sangat mengutamakan kerja sama sebagai tim. Untuk itu, dalam waktu dekat saya akan mengajak saudara-saudara ke Magelang, di mana kita akan melaksanakan beberapa hari, menambah pembekalan," kata Prabowo.

Prabowo menilai Magelang punya nilai historis sehingga dipilih sebagai lokasi pembekalan, sekalian berkoordinasi, untuk menteri kabinet. Dia meyakini pembekalan terhadap menteri akan memberikan nilai manfaat. Sebab, katanya, meski Republik Indonesia berdiri melalui Proklamasi di Jakarta, ujian nyata Republik setelah itu ialah di daerah-daerah, karena para pejuang melaksanakan perebutan kemerdekaan secara fisik.

Prabowo menjelaskan bahwa Magelang punya nilai historis bagi perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah. Dengan penggemblengan dan pengarahan di daerah itu diharapkan dapat memberikan kesan dan pesan yang baik untuk para menteri dan para pembantu lainnya.

"Daerah Magelang merupakan suatu sentra perlawanan kita terhadap penjajah mulai ratusan tahun, dikenal sebagai [wilayah basis] perjuangannya Pangeran Diponergoro, di antara lima gunung, itu saya kira cukup membawa aura tradisi keberanian, tradisi cinta Tanah Air," kata Presiden.

Pembekalan di Magelang bertujuan untuk menumbuhkan kebersamaan dan keguyuban Kabinet Merah Putih, kata Kepala Kantor Komunikasi Presiden Hasan Nasbi, berupaya menjelaskan tujuan spesifik kegiatan tersebut, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 23 Oktober.

Nasbi buru-buru mengklarifikasi spekulasi yang mulai berkembang tentang motif terselubung di balik agenda pembekalan, mengutip pernyataan Prabowo: "Beliau bilang tidak usah takut; ini bukan ospek atau militerisme".

"Ini untuk kebersamaan, keguyuban, untuk melakukan team building dan untuk melakukan koordinasi-koordinasi antarkementerian dan lembaga," dia menjelaskan.

Menambahkan penjelasan Prabowo, Nasbi menyebut Magelang dipilih sebagai lokasi agenda pembekalan karena kota itu memiliki simbol perjuangan dan heroisme. Atas dasar itu pula, katanya, Presiden Prabowo Subianto ingin membentuk kabinet yang patriotik karena "patriotisme harus menjadi inti dari perjuangan kabinet ini".

Dia juga sedari awal menyebut seragam—ala militer—yang akan dikenakan oleh para anggota kabinet, juga kegiatan olahraga dan latihan baris berbaris, menujukkan kekompakan para menteri.

Akan jadi pemerintahan otoriter?

Diakui atau tidak, agenda pembekalan itu sarat nuansa militer, tidak hanya dari lokasinya dan sejumlah kegiatannya serta seragam ala serdadu, tetapi juga karena kabinet ini didominasi oleh kalangan yang berlatar belakang militer, baik aktif maupun yang sudah pensiun.

"Dan kita juga mengetahui latar belakang Prabowo dari mana, sehingga tidak heran jika unsur militerismenya juga kuat," kata pengajar hukum tata negara pada Universitas Mulawarman, Samarinda, Herdiansyah Hamzah, dikutip dari Tempo, Kamis.

Penilaian Kabinet Merah Putih kental akan nuansa militerisme, kata dia, juga dikuatkan dengan didapuknya mantan ajudan Prabowo, Teddy Indra Wijaya, sebagai Sekretaris Kabinet. Padahal, Teddy merupakan prajurit TNI Angkatan Darat yang statusnya hingga kini masih aktif. Masuknya Teddy dalam kabinet, menurutnya, melanggar Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2005 tentang TNI karena cukup jelas bahwa militer aktif tidak boleh menduduki jabatan sipil.

Ia khawatir Kabinet Merah Putih menjelma menjadi pemerintahan otoriter, seperti Orde Baru. Sebab, gaya pemerintahan Orde Baru tak jauh berbeda dengan Kabinet Prabowo saat ini, yaitu menanamkan unsur militerisme di dalamnya. "Termasuk pelatihan ini, di tempatnya saja sudah jelas, Akademi Militer. Bahkan ada pakaian khusus yang harus dikenakan," kata Herdiansyah.

Akademisi dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Yance Arizona berpendapat serupa. Prabowo, menurutnya, tak perlu melakukan pembekalan khusus kepada jajaran di kabinetnya di Gunung Tidar, Magelang. Apalagi, katanya, sejak awal dinyatakan sebagai presiden terpilih, Prabowo kerap mengatakan tengah menggodok susunan kabinet yang sesuai dengan pemerintahannya mendatang. "Kalau ada pembekalan lagi, artinya penggodokan saat itu belum optimal," ujarnya.

Pengamat politik pada Universitas Al Azhar Jakarta, Ujang Komaruddin, menilai agenda tersebut digelar tidak terlepas dari latar belakang Prabowo sebagai pensiunan jenderal TNI. Prabowo, dia menganalisis, ingin para menteri dan pembantunya yang lain setia dan tegak lurus atas segala tugas dan perintah yang diberikan.

"Ya, agar ke depan bahwa menteri-menteri itu loyal kepada Presiden, bukan kepada partainya atau kepada kepentingan oligarki dan lain sebagainya," kata Ujang, dikutip dari CNNIndonesia.com, Rabu.

Obsesi Prabowo untuk memastikan para pembantunya loyal kepadanya, kata Ujang, juga dilandasi kenyataan bahwa sebagian di antara mereka ialah menteri Kabinet Indonesia Maju yang dipimpin presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Melalui kegiatan itu pula, Prabowo ingin menekankan kepada kabinetnya untuk bekerja dengan sungguh-sungguh yang mesti dimulai dengan membangun kekompakan, terutama karena para pembantu presiden terdiri lebih dari seratus tokoh dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Isyarat pemerintahan militeristik

Pakar semiotika pada Institut Teknologi Bandung (ITB) Acep Iwan Saidi menilai ada kode tertentu yang ingin diberikan Prabowo dengan memilih Akmil sebagai tempat pembekalan, yaitu isyarat akan adanya suasana militeristik.

"Ada banyak tempat untuk pembekalan, tapi Prabowo Subianto memilih Akmil. Akmil dan Prabowo Subianto yang mantan TNI merupakan 'entitas' dalam semiosfer (semesta tanda) militer," kata Acep, dikutip dari CNNIndonesia.com.

"Dengan demikian," dia menekankan, "pembekalan di Akmil tersebut mengirim kode militeristik. Para menteri akan dibekali di akademi militer bisa dibaca: para menteri, setidaknya, akan masuk ke dalam suasana militeristik."

Meski begitu, Acep menilai penentuan Akmil sebagai tempat pembekalan tidak dapat serta merta disimpulkan pemerintahan Prabowo akan militeristik. Namun, penentuan tempat tersebut telah memberikan sinyal bahwa pemerintahan Prabowo akan menuju ke arah yang militeristik.

"Dalam semiotika, pembekalan di Akmil itu masih berada pada taraf tanda qualisign: artinya, ia memiliki kualifikasi untuk disebut militeristik. Dengan kata lain, pemerintahan Prabowo Subianto memiliki potensi untuk bersifat militeristik," ujarnya.

Satu hal yang sudah pasti, Acep menekankan, para anggota Kabinet Merah Putih sekarang sudah menjalani suasana yang militeristik dalam pembekalan itu. "Para pembantu Prabowo Subianto tersebut telah berada di pintu masuk ke dalam suasana militer," katanya.

Pembekalan itu memang tidak akan menjadikan para menteri dan pembantu presiden yang lain menjadi serdadu. Tetapi, menurut pengamat kebijakan publik Riant Nugroho, Prabowo ingin para menteri juga memiliki ciri-ciri militer yang disiplin dan loyal pada pimpinan.

"Tampaknya Presiden Prabowo mengisyaratkan lima hal bagi anggota kabinetnya, sebagaimana ciri militer: disiplin, patuh/loyal kepada pemimpin, setia kepada negara dan bangsa," kata Riant, dilansir Media Indonesia, Kamis.

Riant juga menilai Prabowo ingin menterinya siap dalam segala situasi. "Siap dan berani bertempur/berperang di segala medan, sebagaimana prajurit yang cepat, sigap, cekatan, efisien-efektif, seperti ciri Kopassus (Komando Pasukan Khusus TNI AD), korps militer yang dulu dipimpinnya," katanya.

"The military way"

Prabowo segera menyangkal sejumlah pandangan yang menganggap agenda pembekalan atau retret Kabinet Merah Putih di kompleks Akmil itu bersifat militeristik. Prabowo menyatakan hanya ingin menggembleng seluruh jajaran menteri dan wakil menteri dengan latihan serta pengarahan.

Melalui keterangan tertulis tim medianya, dilansir Tempo, Prabowo menekankan bahwa retret di Akmil merupakan ‘The Military Way’ yang biasa dilakukan di pemerintahan, bahkan juga di perusahaan-perusahaan, untuk menyelaraskan kedisiplinan dan kesetiaan pada bangsa dan negara.

“Saya tidak bermaksud membuat Anda (anggota-anggota kabinet) militeristik. Salah; bukan itu. The military way ditiru oleh banyak pemerintah terutama perusahaan-perusahaan. The military way inti dari semua perusahaan adalah disiplin. Kedua, kesetiaan; benar-benar minta saudara tidak setia kepada Prabowo, [tapi] setia kepada bangsa dan negara Indonesia,” kata Prabowo.

Dalam pengarahan tersebut, Prabowo menyampaikan fokus dan komitmen masing-masing kementerian dan lembaga untuk bekerja mengentaskan kemiskinan, makan bergizi gratis, pemberantasan korupsi, swasembada pangan hingga swasembada energi. Pada akhir acara pengarahan, Prabowo bersama dengan jajaran menteri dan wakil menteri juga kompak menutup dengan foto bersama sembari menyemarakkan yel-yel.

Retreat Kabinet Prabowo di Magelang digelar secara terutup untuk diliput oleh pers. Setelah Kepala Negara memberikan arahan, akan ada beberapa materi yang disampaikan kepada menteri-menteri.
 


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo