Jakarta, Arina.id—Gugurnya tiga prajurit Indonesia yang bertugas sebagai penjaga perdamaian (peacekeeper) di Lebanon mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera menghentikan misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
SBY menjelaskan bahwa satuan pemeliharaan perdamaian PBB, seperti Kontingen Garuda XXIII/S yang sedang mengemban tugas di Libanon saat ini, dimaksudkan untuk menjaga perdamaian (peacekeeping), bukan 'peacemaking'. Penjaga perdamaian tidak dipersenjatai secara kuat dan tidak pula diberi mandat untuk melaksanakan tugas-tugas pertempuran.
"Seharusnya PBB New York segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan pengugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini,” ujarnya melalui akun X resminya, @SBYudhoyono pada Ahad (5/4).
SBY menjelaskan, pasukan penjaga perdamaian tidak dipersenjatai secara kuat dan tidak diberi mandat untuk menyerang, sebagaimana diatur dalam Piagam PBB. Kontingen Garuda XXIII/S yang bertugas di Lebanon seharusnya berada di wilayah garis biru, zona pemisah antara Israel dan Lebanon. Namun, menurutnya, kondisi di lapangan telah berubah karena pertempuran Israel dan Hizbullah merembet hingga ke area tersebut.
Menurutnya, situasi ini sangat berbahaya bagi pasukan penjaga perdamaian. Ia menyebut Israel telah maju sejauh 7 km dari garis biru, sehingga kontingen Indonesia kini berada di zona perang. Ia pun mendesak PBB melakukan penyelidikan serius atas kejadian yang mengungkap tiga prajurit TNI.
“Secara pribadi saya mendukung langkah-langkah pemerintahan Presiden Prabowo yang mendesak PBB untuk melakukan penyelidikan secara serius,” jelasnya.
UNIFIL dan Peran Indonesia
Dilaporkan laman unifil.unmission.org. UNIFIL merupakan misi penjaga perdamaian PBB yang dibentuk pada tahun 1978 melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB 425 dan 426. Misi ini dibentuk setelah konflik antara Israel dan Lebanon, dengan tujuan utama memastikan pengiriman pasukan Israel dari Lebanon selatan serta membantu pemerintah Lebanon memulihkan otoritasnya di wilayah tersebut. itu, serangan besar oleh Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) ke wilayah perbatasan memicu serangan balasan Israel yang meluas hingga ke wilayah Lebanon. Situasi ini mendorong pemerintah Lebanon mengajukan protes ke PBB.
Seiring perkembangan konflik, mandat UNIFIL terjadi terutama setelah perang Israel-Hizbullah pada tahun 2006. Saat ini, UNIFIL bertugas menyatukan, mendukung Angkatan Bersenjata Lebanon, serta membantu memastikan akses kemanusiaan bagi warga sipil di wilayah konflik.
Selain itu, pasukan UNIFIL juga melakukan patroli darat dan laut, mengawasi pelanggaran garis gencatan senjata yang dikenal sebagai Blue Line, serta membantu menciptakan stabilitas keamanan di sepanjang perbatasan Lebanon dan Israel.
Berdasarkan mandat terbaru Dewan Keamanan PBB, tugas utama UNIFIL mencakup: Memantau permusuhan antara Israel dan Hizbullah; Mendukung Angkatan Bersenjata Lebanon dalam menjaga stabilitas wilayah; Membantu memastikan bantuan bagi warga sipil; Mengawasi pelanggaran wilayah udara dan darat di sepanjang Blue Line; dan membantu menciptakan lingkungan yang aman bagi warga sipil.
Indonesia memiliki hubungan historis dan emosional yang kuat dengan misi perdamaian di Lebanon. Sejak tahun 2006, Indonesia secara konsisten mengirimkan ribuan personel dan menjadi salah satu negara kontributor pasukan terbesar bagi UNIFIL.
Saat ini, UNIFIL memiliki lebih dari 10.000 personel, yang terdiri dari pasukan militer, staf sipil, dan pendukung lainnya dari berbagai negara. Indonesia tercatat sebagai penyumbang pasukan terbesar dalam misi ini, dengan lebih dari 1.200 personel yang tergabung dalam Kontingen Garuda. Selain Indonesia, negara lain yang berkontribusi antara lain: India, Ghana, Nepal, Italia, Malaysia, Spanyol, Prancis, China, dan Irlandia.
Insiden terbaru menunjukkan bahwa meskipun berstatus penjagaan perdamaian, pasukan UNIFIL tetap menghadapi risiko besar di lapangan. Konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon selatan yang terus bereskalasi membuat wilayah tugas UNIFIL menjadi semakin kompleks dan berbahaya. Di satu sisi, mereka bertugas menjaga stabilitas. Namun di sisi lain, mereka berada di tengah dinamika konflik bersenjata yang belum sepenuhnya mereda.
Editor: Suci


