Jakarta, Arina.id — Akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahruddin Faiz, mengajak masyarakat untuk memahami pesan dan hikmah di balik pengalaman pahit, termasuk kesedihan dan patah hati. Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi jalan untuk memperkuat diri sekaligus meningkatkan kedekatan kepada Allah.
Fahruddin Faiz menjelaskan, pemikiran Maulana Jalaluddin Rumi mengajarkan bahwa rasa sakit yang dialami seseorang membawa pesan yang perlu didengarkan dan dipahami. Karena itu, seseorang tidak seharusnya terus-menerus larut dalam kesedihan, tetapi berusaha menemukan pelajaran dari pengalaman tersebut.
“Latihanlah mendengarkan lukamu sendiri. Latihanlah memahami pesan yang dibawa oleh kesedihan dan dukamu,” jelasnya mengutip pemikiran Rumi dalam tayangan Ruang Sinau diakses Sabtu (10/10/2026).
Ia menuturkan, setiap pengalaman pahit perlu direnungkan untuk menemukan hikmah yang dapat mengarahkan seseorang pada kehidupan yang lebih baik.
Dalam perspektif spiritual, pengalaman tersebut juga dapat menjadi pengingat agar manusia semakin dekat kepada Allah dan menghidupkan cintanya kepada-Nya.
Faiz menambahkan, tidak ada ketetapan Allah yang sia-sia. Karena itu, seseorang perlu belajar membaca makna di balik setiap peristiwa, termasuk ketika mengalami patah hati atau menghadapi keadaan yang menyakitkan.
Menurutnya, ayat-ayat Allah tidak hanya berupa ayat tertulis dalam Al-Qur’an, tetapi juga ayat-ayat kauniyah yang dapat direnungkan melalui berbagai peristiwa kehidupan.
“Patah hatimu dan lukamu itu ayat-ayat Allah juga. Coba dengarkan pesannya dari situ,” ungkapnya.
Ia mengajak masyarakat untuk melihat pengalaman pahit sebagai kesempatan untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki hubungan dengan Allah. Dengan demikian, kesedihan tidak hanya menjadi sumber penderitaan, tetapi juga ruang untuk menemukan makna dan memperkuat kehidupan spiritual.
Menemukan Harapan di Balik Kehancuran
Faiz kemudian mengutip pemikiran Maulana Jalaluddin Rumi yang menggambarkan kehancuran sebagai tempat tersembunyinya harapan dan harta karun. Menurutnya, seseorang perlu berusaha menemukan pelajaran berharga di balik pengalaman yang membuat hidupnya terasa runtuh.
“Di mana ada kehancuran, di situ ada harapan akan harta karun,” tuturnya.
Ia menjelaskan, sebagaimana harta karun yang tersembunyi di balik puing-puing, pengalaman pahit juga dapat menyimpan pelajaran yang tidak langsung terlihat. Seseorang perlu mencermati dan merenungkan pengalaman tersebut agar mampu menemukan hal berharga yang dapat membantunya bangkit kembali.
Faiz menegaskan, kesedihan tetap membutuhkan waktu untuk diproses. Namun, seseorang juga perlu berusaha melangkah ke depan setelah memberikan ruang bagi dirinya untuk merasakan dan memahami kesedihan tersebut.
“Bacalah kesedihanmu, dengarkan pesannya. Carilah mutiara-mutiara di baliknya. Terus lahirlah kembali jadi sosok yang baru yang lebih tangguh,” pesannya.
Tidak Perlu Merasa Kesepian
Selain membahas kesedihan, Faiz juga mengingatkan bahwa seseorang tidak harus merasa kesepian ketika menghadapi masalah seorang diri. Ia mengakui bahwa kehadiran teman untuk bercerita memang penting, terutama ketika seseorang sedang mengalami kesulitan.
Namun, ketika tidak menemukan orang yang dapat menjadi tempat berbagi, seseorang tetap bisa belajar memahami dirinya sendiri.
Mengutip pemikiran Rumi, Faiz menyampaikan bahwa alam semesta seolah-olah hadir dalam diri manusia. Ia menjelaskan, pikiran manusia terus bergerak dan menyimpan beragam pengalaman, pertanyaan, serta perasaan yang dapat menjadi bahan perenungan.
Karena itu, berada seorang diri tidak selalu berarti mengalami kesepian. Seseorang dapat menggunakan waktu tersebut untuk mengenali perasaan, memahami persoalan yang dihadapi, dan menemukan kekuatan dari dalam dirinya.
Faiz menyadari bahwa menjalani proses tersebut tidak mudah, terutama bagi mereka yang sedang berada dalam kesedihan mendalam. Meski demikian, ia mengajak masyarakat untuk menjalaninya secara perlahan dan tidak menyerah pada keputusasaan.
Ia menekankan bahwa memahami luka, menemukan hikmah, dan membangun kembali kekuatan diri merupakan proses yang membutuhkan waktu. Dengan kesediaan untuk mendengarkan pesan di balik pengalaman pahit, seseorang diharapkan dapat bangkit dan menjalani kehidupan dengan lebih tangguh.
Editor: Kendi Setiawan


