Dark
Light
Dark
Light

Eropa Barat Melawan, Bakal Balas Kebijakan Baru Amerika Menaikkan Tarif Impor

Eropa Barat Melawan, Bakal Balas Kebijakan Baru Amerika Menaikkan Tarif Impor

Arina.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam bakal menaikkan tarif bea masuk lebih tinggi secara meluas untuk barang-barang yang masuk ke negaranya (impor). Ancaman kebijakan Trump tersebut tentu mengejutkan dunia.

Trump berdalih kalau tarif yang diberlakukan negara adidaya itu sekarang tidak adil bagi Amerika. Tarif yang dipungut justru menguntungkan negara lain. Saat ini, AS telah mengumumkan kenaikan tarif sebesar 25 persen untuk baja, aluminium, mobil, dan suku cadang mobil, dengan bea masuknya.

Lebih lanjut kenaikan tarif juga bakal diterapkan untuk barang-barang semikonduktor, farmasi dan kayu. Lebih dari itu, Trump juga mengancam akan memberlakukan tarif yang luas pada berbagai barang-barang global yang masuk.

Eropa segera bereaksi dengan ancaman Trump yang tidak main-main itu. Jajak pendapat segera dilakukan sebuah lembaga survei YouGov EuroTrack. Hasilnya, mayoritas warga Eropa Barat mendukung pembalasan terhadap tarif baru yang lebih tinggi yang diancamkan oleh presiden Amerika itu.

"Jika AS benar-benar mengenakan tarif pada barang-barang UE, survei menemukan bahwa mayoritas mendukung tarif pembalasan terhadap Amerika," kata laporan itu, yang mensurvei tujuh negara, yaitu Inggris, Denmark, Prancis, Jerman, Italia, Spanyol dan Swedia.

Dikutip dari ANTARA, warga Denmark adalah yang paling mendukung pembalasan dengan 79 persen, menurut survei tersebut. "Di Jerman, yang diperkirakan akan terpukul sangat keras mengingat besarnya industri manufaktur mobil mereka, dua pertiga mendukung (68 persen)," kata laporan itu.

Kemudian Italia juga menjadi negara yang paling tidak mendukung tarif pembalasan dengan 56 persen. Tarif AS akan berdampak signifikan pada ekonomi Eropa, menurut 60-76 persen negara yang disurvei.

Terkait perdagangan dengan AS hingga saat ini, sekitar 40-67 persen warga Eropa mengatakan bahwa mereka menganggap UE bersikap adil terhadap AS, meskipun Trump mengeklaim kebijakannya "tidak adil".

Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Raja Denmark Frederik X bahkan menyerukan Eropa yang "lebih mandiri" dalam forum ekonomi Prancis-Denmark.

"Selama beberapa tahun ini, kami yakin --dan bisa saya katakan bahwa Denmark dan Prancis bersatu dalam hal ini-- bahwa kedaulatan, otonomi strategis, dan kemandirian sangatlah penting," kata Macron.

Dia mengatakan Eropa telah mengalami konsekuensi dari ketergantungan yang berlebihan secara langsung. Dia menambahkan, meski AS telah menjadi sekutu yang tangguh selama beberapa dekade, tidak ada jaminan bahwa prioritas AS akan selaras dengan prioritas Eropa di tahun-tahun mendatang.

Macron dan Raja Frederik X menyerukan lebih banyak investasi dan pengembangan dalam perawatan kesehatan, pertahanan, dan energi di Eropa.

"Di semua bidang utama, kita harus mengembangkan program Eropa bersama, membelanjakan bersama, dan menciptakan pasar yang kuat demi pertahanan Eropa. Ini adalah tujuan yang harus kita tetapkan untuk diri kita sendiri," kata Macron.

Dia mengatakan bahwa Eropa harus menyampaikan agenda yang memadukan daya saing, pertahanan, dan keamanan secara erat. "Kompleksitas adalah perusak daya saing dan kemampuan kita untuk menyampaikan agenda yang jelas dan efisien," kata dia, seraya menambahkan bahwa inovasi di Uni Eropa dapat bergerak lebih lambat daripada AS.

Macron juga menyatakan keyakinannya pada kemitraan Prancis-Denmark. "Kami berbagi nilai-nilai yang sama, dan di saat nilai-nilai ini menghadapi tantangan, bahkan oleh beberapa sekutu terdekat kita dalam sejarah, nilai-nilai tersebut mendapatkan kembali kekuatan dan maknanya," kata dia.

Raja Frederik X mengatakan kebutuhan akan kemitraan strategis berada pada "titik tertinggi dalam sejarah" karena negara-negara menghadapi "konteks global yang baru, masa-masa yang tidak pasti," dan "ancaman keamanan yang muncul."

Dia menegaskan bahwa Eropa harus "memperkuat interoperabilitas," berinvestasi dalam keamanan siber, dan berkolaborasi untuk melindungi nilai-nilai bersama.

Interoperabilitas adalah kemampuan sistem, perangkat lunak, atau perangkat keras untuk saling berkomunikasi, bertukar data, dan menggunakan informasi secara efektif, tanpa memandang batas geografis, politik, atau organisasi.

"Saya yakin bahwa kami dapat lebih memperkuat hubungan bilateral dan membangun Eropa yang tangguh di masa depan," kata Raja Frederik X.


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo