Dark
Light
Dark
Light

Pengakuan Santri Ciganjur: Tak Sekadar Kitab Kuning, Gus Dur Rekomendasikan Buku-buku Penting

Pengakuan Santri Ciganjur: Tak Sekadar Kitab Kuning, Gus Dur Rekomendasikan Buku-buku Penting

Jakarta, Arina.id — Terlepas dari sosok seorang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang secara dramatis disebut pintar sebelum lahir karena turunan dari keluarga paling berpengaruh di tubuh Nahdlatul Ulama, ia adalah seorang pembaca tulen. 

Sebagai pengasuh sekaligus pengajar di Pesantren Ciganjur, kelaziman itu ia turunkan ke santri-santri. Kebiasaan membaca banyak buku inilah yang akhirnya membentuk pemikiran terbuka, kritis, dan kaya akan wawasan di berbagai bidang seperti agama, politik, sosial, dan budaya, sehingga ia dikenal sebagai intelektual besar yang produktif menulis dan menggabungkan analisis sosial-keagamaan dalam karyanya. 

Syaifullah Amin, salah satu santri yang pernah belajar langsung kepada Gus Dur di Pesantren Ciganjur, menyebut Gus Dur kerap memberikan rekomendasi buku yang wajib dibaca oleh para santri, di antaranya adalah Aera Eropa: Peradaban sebagai Penyimpangan dari Pola Umum karya Jan Romein.

Buku ini mengkaji peradaban Eropa, menganggapnya sebagai sesuatu yang berbeda (penyimpangan) dari tren peradaban di belahan dunia lain, dengan perspektif sejarah yang luas.

"Dulu waktu kami ngaji, Buku yang dianjurkan dan dipresentasikan dihadapan Gus Dur adalah Aera Eropa," kata salah satu santri di Pesantren Ciganjur yang mengalir langsung dari Gus Dur, Syaifullah Amin kepada Arina.id, Sabtu (20/12/2025).

Buku selanjutnya, The Mystery of Capital: Why Capitalism Triumphs in the West and Fails Everywhere Else karya ekonom Peru, Hernando de Soto. 

Buku ini antara lain menjawab mengapa para petani di negara berkembang hampir selalu terperangkap dalam jurang kemiskinan, hanya bisa menanam untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri. 

Salah satunya dalah soal kepemilikan lahan yang informal sembari menunjukkan contoh keberhasilan ekonomi kapitalisme Jepang dan Amerika yang dirancang sejak zaman sebelum Perang Dunia I.

"Buku ini membahas Revolusi Petani di Amerika Selatan," jelas penulis Buku Bukti-Bukti Gus Wali itu.

Gus Dur juga merekomendasikan buku lain seperti Agricultural Involution: The Processes of Ecological Change in Indonesia (1963) karya Clifford Geertz. Selain Orientalism yang ditulis oleh Edward W. Said. Buku ini membahas tentang representasi budaya yang merupakan dasar dari orientalisme. 

Said dalam Orientalism menggambarkan orientalisme sebagai upaya Dunia Barat untuk “menundukkan” masyarakat di Dunia Timur yang meliputi penduduk asli di Asia, Afrika Utara, dan Timur Tengah.

"Di antara buku lainnya Gus Dur selalu menganjurkan agar santri bisa membaca buku-buku babon dari tempatnya. Di antara yang dikaji adalah Orientalisme," kata Amin.

Selain bacaan umum, Gus Dur mewajibkan santri menguasai ilmu alat sebelum memperdalam tasawuf seperti pembacaan Al-Hikam untuk membentuk kepekaan batin.

"Santri juga diharapkan bisa mengetahui tentang  jurisprudensi Islam dengan belajar fikih dan ushul fikih," imbuhnya.

Selain itu juga Gus Dur menganjurkan dan mengajarkan membaca kitab-kitab atau buku sastra seperti Kitab al-Hamasah antologi puisi Arab klasik yang terkenal, disusun pada abad ke-9 oleh penyair Muslim Arab, Abu Tammam dan Muallaqah Al Ishabah karya Imru' al-Qais.

Gus Dur bahkan meminta santri membaca berbagai tafsir dari lintas aliran, baik Sunni maupun Syiah. Tujuannya agar mereka memahami spektrum pemikiran dan kondisi sosial-keagamaan secara lebih luas.

"Biar tahu pikiran dan situasi bangsa lain yang tidak direkomendasikan oleh arus utama," pungkasnya.
 


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo