Arina.id ~ Staf Khusus Menteri Agama (Menag) Bidang Komunikasi dan Media Wibowo Prasetyo mengajak para petugas haji Indonesia untuk menjaga nama baik bangsa Indonesia dan juga nama baik diri sebagai petugas haji.
Hal ini bisa dilakukan dengan memberi pelayanan terbaik kepada jemaah dan mensyiarkan serta memasifkan konten penyelenggaraan haji yang positif kepada masyarakat dunia.
“Sekarang kita ingin mengajak bapak-ibu menjadi bagian integral komunikasi publik layanan haji 2024,” ajaknya saat menyampaikan materi pada kegiatan Bimbingan Teknis PPIH Arab Saudi, Jumat (22/4/2024)
Upaya yang dilakukan adalah melakukan strategi komunikasi tunggal satu pintu agar keluarga jemaah haji Indonesia yang ada di tanah air marasa tenang dan senang. Petugas tidak boleh memberi informasi yang bisa menjadikan gaduh suasana.
“Mulai saat ini, tekadkan niat yang kuat dan menjadi bagian penting dari informasi postif dari penyelenggaraan haji,” ajaknya.
Sebagai sosok yang paling dekat dengan jamaah dan membersamai jemaah haji selama 24 jam, petugas haji adalah influencer yang memiliki pengaruh. Dengan memanfaatkan media sosialnya, petugas bisa menarik perhatian masyarakat bahwa penyelenggaraan haji sukses.
“Jika ada masalah, kita akan menyesal. Apakah bapak ibu tidak menyesal jika ada jamaah hilang? Pasti menyesal dan bisa jadi berdosa,” tanyanya.
Oleh karena itu, Gus Bowo, sapaan karibnya, berharap penyelenggaraan haji tahun ini zero complain. “Maka kesuksesan penyelenggaraan ibadah haji pasti kita dapat. Dan indeks layanan haji Indonesia pasti positif,” ungkapnya.
Ia mengungkapkan bahwa petugas haji Indonesia mendapatkan apresiasi dari dunia sebagai petugas yang paling disiplin. Penilaian ini pintanya, harus terus dipertahankan dan ditingkatkan dengan semua tusi (tugas fungsi) memposisikan diri sebagai influencer, atau KOL Key Opinion Leader yang positif
“Saya berharap penyelenggaraan ibadah haji harus fun. Kalau gembira, maka pelayanan yang dilakukan bapak-ibu diterima lebih baik oleh jemaah. Jangan yang tegang-tegang,” pintanya.
Ia meminta petugas untuk menjadikan jamaah haji sebagai orang tua sendiri. Jika dengan orang tua sendiri tidak bisa melayani, maka yang bersangkutan tidak bisa jadi petugas haji.
“Satu kata pun tidak boleh menyakiti jemaah. Terima kritik mereka dengan senyum. Upayakan hal terbaik untuk mengganti,” ajaknya.
Jika ada masalah lanjutnya, petugas bisa menyampaikan kepada penanggung jawab untuk dicarikan solusinya. Bukan malah diunggah di medsos dengan caption seolah-olah penyelenggaraan ibadah haji tidak kompeten.
“Itu artinya bapak ibu mencoreng muka sendiri,” katanya.
Wujud Informasi Positif
Gus Bowo meminta para petugas haji untuk mewarnai informasi tentang haji dengan cerita-cerita kebahagiaan. Petugas haji perlu terus memproduksi konten-konten edukasi bagi jemaah haji dan memasifkannya dengan memanfaatkan HP untuk hal-hal yang positif.
Petugas haji harus bisa menjadi tempat melakukan cek fakta kebenaran sebuah peristiwa. Perlu diangkat peristiwa yang menyenangkan baik itu dalam bentuk berita, rekaman suara, atau foto dengan caption.
“Bapak ibu harus menjadi clearance atas narasi haji yang salah, narasi yang dibelokkan semisal masalah kualitas katering dan isu perpindahan hotel jemaah haji,” ajaknya.
Gus Bowo pun mengajak petugas untuk menviralkan tagar #haji2024, #petugashajimelayani, dan #hajiramahlansia.
Editor: Muhammad Faizin


