Di sebuah pulau kecil di ujung selatan Sulawesi Selatan, seorang perempuan muda berusia 27 tahun menyalakan api perubahan. Namanya Anggi Anggraini, lebih akrab disapa Anggi Rainy — Penyuluh Agama Islam dari KUA Kecamatan Buki, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, berjuang menanamkan semangat anti korupsi di kalangan remaja.
Dari ruang kelas hingga media sosial, Anggi membawa pesan yang sederhana namun kuat. Iman tanpa kejujuran hanyalah ucapan.
Perjalanan Anggi dimulai di UIN Alauddin Makassar, tempat ia menempuh pendidikan di jurusan Aqidah Filsafat Islam. Setelah lulus pada 2019, ia mengajar Pendidikan Agama Islam di sebuah SD di Kabupaten Gowa.
Namun, hidup membawanya ke arah yang tak terduga. Saat mengikuti seleksi CPNS Kementerian Agama tahun 2021, ia diterima sebagai Penyuluh Agama Islam Ahli Pertama dan ditempatkan di daerah kepulauan Selayar — jauh dari hiruk pikuk kota besar.
“Saya tidak menyangka akan ditugaskan di pulau. Tapi justru di sanalah saya merasa benar-benar mengabdi,” ujarnya.
Di wilayah yang serba terbatas itu, Anggi menemukan panggilan sejatinya: membimbing masyarakat dan menanamkan nilai moral di tengah generasi muda yang haus teladan.
Kegelisahan yang Melahirkan IMANI
Kehidupan di Selayar membuat Anggi semakin peka terhadap perubahan karakter remaja. Ia sering melihat perilaku kecil seperti mencontek atau berbohong dianggap biasa. “Padahal dari kebiasaan kecil seperti itulah akar korupsi bisa tumbuh,” tuturnya.

Kegelisahan itu menjadi titik awal lahirnya gagasan IMANI — Insan Muda Anti Korupsi. Nama itu bukan hanya singkatan, tetapi juga mengandung makna spiritual.
“IMANI berasal dari kata iman. Saya ingin menegaskan bahwa integritas dan kejujuran tidak bisa dilepaskan dari keimanan,” jelasnya, Minggu 26 Oktober 2025.
Bagi Anggi, korupsi bukan hanya masalah hukum, tapi juga masalah moral dan iman. Maka dakwah antikorupsi, baginya, adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar — mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Menanam Kejujuran di Sekolah lewat BRUS
Dari ide IMANI, Anggi kemudian menginisiasi kegiatan BRUS (Bimbingan Remaja Usia Sekolah) di SMAN 8 Selayar dan MTsN Selayar. Ia menyulap ruang penyuluhan menjadi tempat dialog yang hangat antara guru, siswa, dan nilai-nilai moral.
Dalam setiap sesi, Anggi tidak sekadar berceramah. Ia mengajak siswa berdiskusi, bermain peran, dan mensimulasikan kasus-kasus kecil tentang kejujuran dan tanggung jawab.
“Awalnya mereka mengira antikorupsi itu urusan pejabat. Tapi setelah saya beri contoh sederhana seperti mencontek, mereka mulai paham bahwa korupsi bisa bermula dari hal kecil,” ceritanya.
Salah satu momen paling berkesan baginya adalah ketika seorang siswa menghampirinya seusai kegiatan dan berkata, “Bu, saya tidak mau mencontek lagi, karena ternyata itu juga bentuk korupsi.”
Bagi Anggi, kalimat itu sudah menjadi hadiah terbesar dari perjuangannya. Berjuang di wilayah kepulauan bukan tanpa tantangan. Fasilitas terbatas, jarak sekolah yang jauh, hingga minimnya dukungan administrasi kerap membuatnya lelah.
“Tapi setiap kali melihat semangat para remaja dan perubahan kecil dalam sikap mereka, saya kembali yakin bahwa perjuangan ini harus diteruskan,” katanya.
Ia pun bersyukur karena mendapat dukungan dari sekolah, para guru, dan pihak Kemenag. Namun, ia berharap pemerintah daerah juga bisa memberi ruang lebih luas bagi inovasi penyuluh muda.
Program seperti IMANI perlu diperkuat karena menyentuh akar persoalan bangsa — yaitu karakter,” tegasnya.
Dakwah di Dunia Digital
Tak hanya aktif di lapangan, Anggi juga membawa dakwahnya ke dunia maya. Melalui akun Instagram @anggi.rainy, ia menyebarkan pesan antikorupsi dan nilai-nilai Islam lewat konten visual ringan dan inspiratif — mulai dari kutipan motivasi, video pendek, hingga infografis edukatif.
“Remaja sekarang lebih banyak di media sosial, maka dakwah juga harus hadir di sana,” ujarnya.
Ia mengakui, tidak semua tanggapan positif. Kritik dan cibiran pernah datang, terutama saat membahas isu korupsi. Namun Anggi memilih untuk tidak berhenti. “Selama niatnya baik dan disampaikan dengan adab, saya yakin pesan akan sampai,” katanya bijak.
Bagi Anggi, kejujuran adalah inti dari iman. Ia percaya bahwa generasi muda yang tumbuh dengan nilai kejujuran akan menjadi benteng bangsa dari budaya korupsi.
“Cara sederhana menanamkan semangat antikorupsi adalah membiasakan diri jujur dalam hal kecil — tidak mencontek, tidak mengambil hak orang lain, dan berani mengakui kesalahan,” ujarnya.
Ia selalu menutup penyuluhan dengan pesan yang menjadi moto hidupnya. “Bangunlah integritasmu sejak sekarang, karena iman tanpa kejujuran hanyalah ucapan.”
Melihat perjalanan yang telah ia tempuh, Anggi merasa bahwa tugas di pulau kecil bukan keterbatasan, melainkan anugerah.
“Berdakwah di pulau kecil seperti Selayar memberi saya pelajaran besar. Perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil, asal dilakukan dengan ikhlas,” katanya lembut.
Ia berharap program IMANI bisa berkembang menjadi gerakan komunitas yang menjangkau lebih banyak sekolah dan remaja di seluruh Indonesia.
“IMANI adalah ikhtiar kecil dari daerah kepulauan, tapi kami hadir dengan harapan besar: membangun generasi muda yang beriman, berintegritas, dan berani berkata benar,” tutupnya. (MH)
Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama
Editor: Muhammad Taufiq


