Dark
Light
Dark
Light

Di Balik Bentrok di Amsterdam: Suporter Israel Memang Rasis

Di Balik Bentrok di Amsterdam: Suporter Israel Memang Rasis

Bentrok pecah di Dam Square, Amsterdam, Kamis malam pekan lalu. Para pendukung Maccabi Tel Aviv, klub asal Israel, yang baru saja pulang menyaksikan tim kesayangannya dicukur gundul Ajax Amsterdam, 5-0, langsung tunggang langgang.  Mereka menyelamatkan diri ketika beberapa orang yang mengendarai sekuter dan mobil datang menyerang.  

Beruntung polisi anti huru-hara turun. Sebanyak 600 petugas polisi tambahan dikerahkan untuk menyelamatkan mereka. Beberapa penggemar dikawal ke hotel mereka dengan bus dengan pengawalan polisi. Dalam pemberitaan itu disebutkan, sekitar 10 penggemar Maccabi terluka.  

Lima orang dirawat di rumah sakit dan dipulangkan keesokan harinya.

Penyerangan ini bukan tanpa sebab. Sekitar 3 ribu pendukung klub Maccabi ini datang pada Rabu, atau sehari sebelum laga di Liga Europa itu dilangsungkan. Sejak datang ke Amsterdam, gerombolan suporter klub itu bikin onar.

Maccabi Tel Aviv memang dikenal memiliki basis penggemar yang rasis dengan menargetkan pemain Arab, termasuk mereka yang bermain di tim mereka sendiri. Sejak 2009 di bawah pemilik pengusaha kaya raya asal Kanada, Mitch Goldhar, jumlah pemain asal Arab di klub itu terus menurun.

Pendukung klub yang dikenal dengan nama Maccabi Fanatic juga merupakan pendukung PM Benjamin Netanyahu. Mereka bentrok dengan pengunjuk rasa antipemerintah di Israel pada 2015. Mereka juga  memajang spanduk anti pengungsi di pertandingan. Bahkan mereka menyerang seseorang yang membawa bendera Palestina.

Seperti itulah ulah mereka di Amsterdam. Dalam berbagai video di media sosial, mereka para pendukung klub Maccabi menurunkan bendera Palestina sambil meneriakkan slogan-slogan anti-Arab. “Persetan dengan Palestina” dan “Tidak ada anak yang tersisa di Gaza” adalah beberapa chant atau nyanyian yang terdengar dalam video itu.

Di Dam Square, penggemar Maccabi membakar bendera Palestina dan merusak sebuah taksi. Bahkan di antara mereka ada yang menyalakan flare  dan meneriakkan, “Ole, ole, biarkan [tentara Israel] menang”, dan “Persetan dengan orang-orang Arab”.

Mereka juga menyerang rumah-rumah yang memajang bendera Palestina. Bahkan mereka juga mengincar taksi yang banyak pengemudinya berasal dari negara-negara Arab.

Keruan saja aksi mereka membuat warga setempat gerah. Suasana makin tegang ketika sejumlah pengemudi taksi yang berasal dari negara-negara Arab, berkumpul di luar sebuah kasino. Di dalam arena judi itu terdapat sekitar 400 penggemar Maccabi. Namun mereka bubar setelah polisi datang.

Ulah pendukung klub Maccabi tak lantas berhenti. Saat menuju stadion Johan Cruyff, markas Ajax, Kamis malam, mereka meneriakkan slogan-slogan anti-Arab.  Lagi-lagi polisi bekerja keras. Selain mengawal mereka demonstran pro-Palestina pun dilarang berkumpul di luar stadion.

Saat berada di dalam stadion mereka pun tetap berulah. Saat mengheningkan cipta untuk para korban banjir di Valencia, Spanyol, mereka tetap bernyanyi-nyanyi.

Mereka Dikenal Rasis

Pendukung klub sepak bola Israel memang dikenal banyak ulah, selain itu juga dikenal rasis. Dalam penelitian yang dilakukan New Israel Fund (NIF) – sebuah lembaga filantropi di sana, pada 2023 didapatkan hasil yang mengkhawatirkan. Selama musim liga 2022-2023, sepak bola di negeri itu diwarnai peristiwa kekerasan juga rasisme.

Dari data yang dikumpulkan dengan melibatkan para sukarelawan, yang menghadiri semua pertandingan, setidaknya terdengar 190 insiden nyanyian rasis. Jumlah ini lebih dari dua kali lipat dari yang sebelumnya dianggap sebagai musim paling rasis yakni pada musim 2015-2016. Kala itu, sebanyak 79 terjadi insiden nyanyian rasis. Sebagian besar nyanyian diarahkan kepada orang Arab. Lalu juga terhadap nyanyian anti-kulit hitam 

Pendukung paling bermasalah adalah klub Beitar Jerusalem. Dari mereka terdengar nyanyian bernada rasis hingga 78 kasus. Di urutan kedua adalah klub Maccabi Tel Aviv – yang berulah di Amsterdam, dengan jumlah nyanyian rasisme mencapai 65 kasus.

Upaya untuk meredam rasisme di sepak bola bukannya tidak ada. Namun aturan itu tidak sungguh-sungguh diberlakukan. Selama musim tersebut, hanya ada delapan klub menghadapi proses disiplin formal dari Asosiasi Sepak Bola Israel. Namun, bagi para suporter – mereka benar-benar aman. Alias tidak ada tindakan yang diambil oleh polisi meskipun nyanyian bernada rasis  merajalela.

Matan Segal, Direktur Penghentian Kekerasan dan Rasisme Sepak Bola Israel, mengatakan musim tahun lalu itu menjadi yang paling parah dalam sejarah sepak bola negeri itu. “Sepak bola mencerminkan wajah masyarakat dan peristiwa yang terjadi di stadion-stadion Israel telah mengajarkan kita betapa mengkhawatirkannya situasi tersebut,” katanya.  

Begitulah. Namun yang terjadi perilaku buruk itu terus berulang. Bukannya mendapatkan hukuman atas kelakuannya, mereka juga kerap mendapatkan pembelaan.

Dalam kasus di Dam Square ini, Wali Kota Amsterdam Femke Halsema justru menyebut bahwa para penggemar Maccabi Tel Aviv telah diserang, dilecehkan, dan dilempari kembang api. Dia juga menyatakan serangan itu sebagai "pasukan tabrak lari anti-Semit". Dia sama sekali tak mengungkapkan beberapa kejadian sebelum yang menyebabkan bentrok itu.  

Suara berbeda justru datang dari Jazie Veldhuyzen, salah satu anggota Dewan Kota Amsterdam. Kepada Al Jazeera, dia menyebut para supporter Israel menghasut kekerasan setelah tiba di kota tersebut.

Menurut Veldhuyzen, penyerangan terhadap fans Maccabi merupakan reaksi dari warga Amsterdam terhadap kekacauan yang dilakukan  hooligan pendukung klub itu. "Mereka menyerang rumah warga di Amsterdam yang memasang bendera Palestina. Di situlah kekerasan dimulai,” katanya.

Dima Said dari Asosiasi Sepak Bola Palestina menyesalkan pembingkaian insiden itu sebagai antisemitisme. Menurut dia, semestinya klub-klub Israel seperti Maccabi Tel Aviv tidak diizinkan untuk berkompetisi di panggung internasional.

“Mereka melakukan tindakan genosida, pendudukan, dan perampasan terhadap warga Palestina?" katanya kepada Al Jazeera, berbicara dari Ramallah di Tepi Barat yang diduduki.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.


Editor: Fajar WH
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo