Jakarta, Arina.id — KH Anwar Iskandar mengungkapkan pernyataan usai terpilih sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Musyawarah Nasional XI yang dilaksanakan di Hotel Mercure Ancol Jakarta, Sabtu (22/11/2025.
Kiai Anwar membuka pernyataannya dengan kalimat “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun”, yang menurutnya menggambarkan besarnya beban amanah yang kini harus dipikul.
“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Ini musibah buat saya karena bagaimanapun juga akan menambah tanggung jawab yang ujungnya akan dipertanyakan nanti di hadapan Allah SWT,” ujarnya saat menyampaikan sambutan setelah terpilih.
Wakil Rais 'Aam PBNU ini meminta doa kepada seluruh umat agar mampu menjalankan amanah tersebut dengan baik, baik di dunia maupun di akhirat.
MUI lanjutnya adalah “tenda besar umat Islam”, tempat berhimpunnya para ulama untuk bermusyawarah, bertukar pikiran, dan menghasilkan keputusan yang membawa manfaat dan maslahat bagi umat.
Menurutnya, masih banyak pekerjaan besar yang menanti. Banyak yang harus dilakukan untuk menyelamatkan umat dari paham agama yang menyimpang dan kebodohan. Semua menjadi salah satu kewajiban ulama.
Selain menjaga kemurnian pemahaman agama, Kiai Anwar menyoroti peran penting MUI sebagai Shadiqul Hukumah atau mitra pemerintah. Ia menegaskan bahwa ulama dan pemerintah harus berjalan beriringan dalam mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan diridai Allah SWT.
“Tugas penting lain adalah Shadiqul Hukumah, membersamai pemerintah dalam menghantarkan masyarakat adil dan makmur yang diridai Allah SWT,” katanya.
Ia juga mengutip kaidah fiqih untuk menegaskan peran strategis pemerintah dalam menghadirkan kesejahteraan, bahwa “tasharraful imam ‘ala ra’iyyah manutun bil maslahah”, segala kebijakan pemimpin harus berpijak pada kemaslahatan rakyat.
Dengan amanah besar di pundaknya, Kiai Anwar berharap MUI di bawah kepemimpinannya mampu menjaga umat, memperkuat peran ulama, dan tetap menjadi partner strategis pemerintah dalam membangun bangsa.
Dalam konteks berkhidmah, ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman perjuangan umat dan ulama yang artinya: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka cegahlah dan hentikanlah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka cegahlah dan hentikanlah dengan lisannya. Apabila tidak mampu, maka cegahlah dan hentikanlah dengan hatinya; dan hal ini merupakan buah iman yang paling rendah.”
Hadits tersebut, menurutnya, menjadi landasan moral bagi ulama dalam membimbing umat dan menjaga kemurnian ajaran Islam di tengah berbagai tantangan zaman.
Pada masa khidmah ini Munas menetapkan KH Ma'ruf Amin sebagai Ketua Dewan Pertimbangan MUI. Sementara Kiai Anwar didampingi Wakil Ketua Umum, yaitu KH M Cholil Nafis, KH Marsudi Syuhud, dan Buya Anwar Abbas. Sekretaris Jenderal diemban oleh H Amirsyah Tambunan dan Bendahara Umum H Misbahul Ulum.
Editor: Muhammad Faizin


