Dark
Light
Dark
Light

Profil Fahrul Nurkolis, Ilmuwan Muda UIN Yogyakarta Pemegang Hak Paten Senyawa Antidiabetes dan Antkanker

Profil Fahrul Nurkolis, Ilmuwan Muda UIN Yogyakarta Pemegang Hak Paten Senyawa Antidiabetes dan Antkanker

Jakarta, Arina.id - "Penelitian harus bisa menjawab permasalahan yang ada di masyarakat."

Begitu kata peneliti muda UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fahrul Nurkolis yang berhasil memiliki paten atas senyawa antikanker dan antidiabetes. Ia memperoleh hak paten dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum Republik Indonesia.

Pada usianya yang baru 25 tahun, Fahrul berhasil  menorehkan hak paten atas senyawa bioaktif dari tanaman Echinacea Purpurea, anggur laut, dan bawang dayak. 

Penelitiannya berfokus pada pengembangan senyawa alami yang berpotensi sebagai obat antikanker dan antidiabetes. Salah satu hasil inovasinya, peptida Pudijialanine rudyline dari anggur laut resmi mendapat Perlindungan Paten Sederhana untuk pengobatan diabetes dengan masa berlaku 10 tahun sejak 21 November 2024.

Prestasi ini semakin mengukuhkan namanya di kancah penelitian internasional. Fahrul telah menerbitkan 105 karya ilmiah di jurnal internasional bereputasi scopus, 5 bab buku internasional serta aktif diberbagai conference international terhitung ia pernah berpartisipasi dalam 16 konferensi di 16 negara. 

Fahrul yang lahir dan besar di Madiun, Jawa Timur ini mengaku telah menulis karya ilmiah sejak kelas 1 SMA.

"Saya mulai menulis sejak kelas 1 SMA, waktu itu saya sering ikut lomba karya tulis seperti esai, opini, artikel, dan jenis karya tulis lainnya. Alhamdulillah, dari sana saya sering menang dan terbiasa nulis," kata Fahrul dikutip dari laman UIN Suka Yogyakarta.

Kemampuannya diasah kembali saat ia menjadi mahasiswa di UIN Yogyakarta. Ia aktif mengikuti konferensi internasional dan membangun jejaring global. Hal ini tak terlepas dari dukungan kampusnya.

"Saya di dukung oleh lingkungan yang baik untuk memperkuat hobi ini," tuturnya.

Pria kelahiran 11 September 2000 ini bahkan menjadi lulusan terbaik dan tercepat setelah menempuh pendidikan selama 3 tahun 7 bulan dari Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun akademik 2023/2024. 

Ia berencana melanjutkan pendidikan untuk master research in Biology di Cambridge University United Kingdom. Saat ini, ia aktif meneliti di UIN Suka Yogyakarta. 

Fahrul berfokus pada penelitian tentang penemuan obat-obatan melalui Study Bioinformatika dan eksperimental dari bahan alam Indonesia.

Pada tahun 2020, penelitiannya tentang buah mangga yang mengandung senyawa antioksidan bagi penderita diabetes mengantarkannya diajang bergengsi Nordic Nutrition Conference ke-12 di Finlandia.

Ia juga menjadi delegasi termuda diajang tersebut. Ia penemu hak paten senyawa anti kanker yang diberi nama sesuai inisial namanya sendiri yaitu Fahrul (INDOL) Bongphenyl Akolionitrilee atau ITPA.

Kerja kerasnya membuahkan hasil ia menjadi delegasi termuda di Nordic Nutrition Conference di Finlandia, Asian Congress of Nutrition di China, dan Internasional Conference on Nutrition and Growth di Portugal.

Di dalam negeri, ia meraih penghargaan Medical Innovation Research in Health (MIRAH) Award dari Ikatan Dokter Indonesia, membuktikan kontribusinya di dunia medis.

Fahrul dipercaya sebagai Independen Consultant in Medical Writer for Danone Specialized Nutrition Indonesia, Academic editor di Plos One, Associate Editor di CYTA, Reviewer Board Elsevier, dan Ambassador of International Register of Preclinical Trial di Belanda.

Fahrul ingin memulai membangkitkan iklim atau atmosfir riset di Indoesia. Di luar sana, orang sudah berbicara dengan data dan fakta berbasis riset. Di dunia riset biologi khususnya di Indonesia masih sangat minim.

"Melalui langkah kecil ini, saya berharap dapat memantik ekosistem riset yang lebih baik dan sehat," ujar Fahrur melalui akun instagram pribadinya.

Fahrul mengungkapkan, ada tantangan terbesar dalam upaya hilirisasi riset farmasi berbasis bahan alam di Indonesia. Yakni lantaran kurangnya infrastruktur, regulasi dan pendanaan untuk mengembangkan hasil riset menjadi produk siap pasar. 

"Beberapa kendala yang sering saya temui, di antaranya adalah minimnya investasi dari industri farmasi dalam riset dan pengembangan (R&D). Juga, regulasi perizinan yang cukup kompleks untuk sertifikasi produk berbasis bahan alam," imbuh dia.

Ia mengatakan jika ekosistem riset dan hilirisasi dapat dibangun dengan baik maka Indonesia tidak hanya menjadi pusat penelitian farmasi berbasis bahan alam, tetapi juga pemain utama dalam industri farmasi global. 

"Indonesia memiliki segalanya, sumber daya alam yang kaya dan ilmuwan berbakat. Jika kita bisa mengatasi kendala dalam hilirisasi riset, Indonesia bisa jadi menjasi pemimpin global dalam industri farmasi berbasis bahan alam," tandasnya.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo