Jakarta, Arina.id — Tim SAR gabungan telah menyisir seluruh ruang kapal yang dinilai aman bagi penyelam dalam operasi pencarian korban pada Kamis (1/10/2026). Namun, sejumlah ruang lainnya masih belum dapat dimasuki karena dinilai berisiko terhadap keselamatan penyelam.
Kepala Kantor SAR Banjarmasin I Putu Sudayana mengatakan, selama dua hari terakhir (30 September-1 Oktober 2026), tidak ada temuan baru dalam pencarian bawah air. Seluruh area yang memungkinkan untuk dimasuki telah dieksplorasi berdasarkan pertimbangan keselamatan penyelam.
“Seluruh area yang aman bagi penyelam sudah dieksplorasi dan disisir. Sisanya merupakan ruang yang memang berisiko untuk dimasuki,” ujar Sudayana dalam konferensi pers hari ke-19 Operasi SAR Virgo Transport 8 diakses Sabtu (3/10/2026).
Menurutnya, penyelaman ke sejumlah ruang tersebut tidak memungkinkan dilakukan karena dapat membahayakan keselamatan personel. Karena itu, tim SAR akan melakukan evaluasi bersama untuk menentukan langkah selanjutnya.
Sudayana mengatakan, evaluasi akan dilakukan dengan meminta informasi lebih rinci dari para penyelam mengenai kendala, kondisi ruang di dalam kapal, serta risiko yang mereka hadapi selama proses pencarian.
“Saya sebagai SMC tidak akan merekomendasikan penyelam masuk ke area yang membahayakan keselamatan mereka,” katanya.
Selain kondisi ruang di dalam kapal, kondisi badan kapal juga menjadi salah satu pertimbangan dalam operasi penyelaman. Sudayana menyebut kapal mulai tidak stabil dan terus mengalami pergeseran dengan tingkat kemiringan yang berubah.
Berdasarkan laporan tim penyelam, dasar laut di sekitar kapal berupa lumpur, bukan pasir. Kondisi tersebut membuat lumpur mulai masuk ke dalam kapal dan mengganggu jarak pandang penyelam.
“Lumpur mulai masuk sehingga menyulitkan penyelam untuk melihat, bahkan dengan menggunakan lampu karena lumpurnya sangat tebal,” jelasnya.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko bagi penyelam. Terlebih, terdapat bahan kimia yang mulai mengalami kebocoran dari kapal, termasuk minyak dan zat kimia lainnya.
Sudayana menegaskan, operasi SAR masih terus dilakukan. Tim akan melakukan evaluasi dengan melibatkan berbagai unsur sebelum menentukan langkah berikutnya.
Menurutnya, keputusan operasi tidak hanya diambil oleh Basarnas, tetapi mempertimbangkan masukan dari seluruh unsur yang terlibat. Di antaranya TNI Angkatan Laut, kepolisian, KSOP Kementerian Perhubungan, Distrik Navigasi, KPLP, Polisi Perairan, Polres Pelabuhan, SROP, BMKG, serta unsur terkait lainnya.
“Seluruh masukan tersebut akan menjadi bahan pertimbangan bagi pimpinan dalam mengambil keputusan,” ujarnya.
Dukungan Seluruh Unsur
Sudayana juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang mendukung operasi SAR, mulai dari TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Udara, kepolisian, Polda Kalimantan Selatan, Polda Kalimantan Tengah, hingga Polres Pelabuhan Trisakti.
Dukungan juga diberikan Kementerian Perhubungan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kesehatan, rumah sakit, Palang Merah Indonesia, serta berbagai potensi SAR lainnya.
“Semua pihak telah berperan dan memberikan dukungan luar biasa sehingga operasi SAR yang sangat sulit, melelahkan, dan membutuhkan waktu panjang ini dapat dilaksanakan,” katanya.
Ia menambahkan, operasi tersebut juga mendapat dukungan dari media melalui penyampaian informasi yang positif dan edukatif kepada masyarakat.
“Kami berharap dukungan dari masyarakat karena sampai saat ini tim kami masih siap melaksanakan operasi SAR,” pungkas Sudayana.
Tidak Temukan Korban di Hari Ke-19 Pencarian
Sebelumnya I Putu memaparkan bahwa pada hari ke-19 pencarian korban dilakukan menggunakan metode di permukaan maupun bawah permukaan air. Namun, pencarian di kedua area tersebut belum membuahkan hasil.
Pada Kamis (1/10/2026) penyelaman keempat menggunakan KN SAR Purworejo telah selesai. Kapal tersebut kemudian ditarik kembali ke Pelabuhan Trisakti dengan membawa seluruh tim penyelam.
Pada Jumat (2/10/2026 ) tim melakukan evaluasi bersama terkait operasi penyelaman pada badan utama kapal, termasuk berbagai kendala yang ditemukan di lokasi. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi bahan pertimbangan pimpinan untuk menentukan langkah selanjutnya.
Sejumlah unsur SAR masih bersiaga di lokasi, di antaranya KRI R.E. Martadinata, KRI Spica, KRI Banjarmasin, serta KN Pacitan dan KN Sar Jaya dari KPLP.
Hari Jumat juga tidak dilakukan penyelaman di lokasi. Namun, observasi dan pemantauan tetap dilakukan di tempat kejadian. Pencarian di permukaan air juga tetap dilaksanakan di wilayah kerja Kantor SAR Palangkaraya.
Kantor SAR Pontianak turut mengerahkan operasi SAR untuk mengantisipasi kemungkinan adanya korban yang hanyut dan masuk ke wilayah kerja Kantor SAR Pontianak.
Sementara itu, terkait proses evakuasi, I Putu menyebut empat korban yang ditemukan sehari sebelumnya telah terdata dan dievakuasi. Namun, proses membawa korban keluar dari lokasi membutuhkan waktu cukup lama karena perjalanan dari Kumai menuju lokasi mencapai sekitar lima jam.
Keempat korban tersebut baru kembali dari lokasi pada siang hari dan diperkirakan tiba di Kumai pada Kamis sekitar pukul 21.00 WIB. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi tim gabungan yang bertugas di Kumai karena akses menuju lokasi hanya dapat ditempuh melalui jalur laut menggunakan RIB dan perahu karet.
Untuk mempercepat proses evakuasi, empat korban tersebut dievakuasi menggunakan helikopter pada Jumat. Helikopter disiagakan di Pangkalan Udara Pangkalan Bun. Keempat korban yang ditemukan sebelumnya dievakuasi menggunakan pesawat atau helikopter Eli AR3604.
Dengan ditemukannya empat jenazah tersebut, total korban yang telah ditemukan mencapai 186 orang dari total 243 korban. Sebanyak 108 orang dinyatakan selamat, 78 orang meninggal dunia, sedangkan 57 orang dinyatakan masih hilang.
Bawa 243 Penumpang
Seperti diberitakan sebelumnya, Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 membawa 243 penumpang dan awak dilaporkan hilang kontak di perairan Laut Jawa pada Minggu, 13 September 2026. Sebelum komunikasi terputus, nakhoda sempat melaporkan kapal menghadapi cuaca buruk dan dalam kondisi miring.
Kapal tersebut berlayar dari Pelabuhan Surabaya menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Berdasarkan data pelayaran, KM Virgo Transport 8 bertolak pada Sabtu, 12 September 2026, pukul 10.13 GMT.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Banjarmasin I Putu Sudayana membeberkan kronologi awal hilangnya kapal Virgo Transport 8 ini mengalami cuaca buruk pada pukul 24.00 malam, itu dilaporkan oleh nahkoda ke pihak agen.
"Kemudian pada pukul 02.00 tanggal 13 September 2026, nahkoda kapal melaporkan bahwa kapal dalam miring," jelas Sudayana dalam konferensi pers di Banjarmasin, Minggu pagi (13/9/2026).
Editor: Kendi Setiawan


