Jakarta, Arina.id — Nilai tukar rupiah di pasar spot terus melemah pada perdagangan kemarin, Selasa 8 Maret 2025, rupiah tercatat berada di level Rp16.849 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 1,84 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Mengacu pada data Revinity, depresiasi rupiah kali ini berbanding terbalik dengan penguatan sebesar 0,12 persen pada penutupan perdagangan 27 April 2025. Sementara itu, indeks dolar (DXY) justru turun 0,13 persen ke angka 103,12.
Pada pembukaan perdagangan hari ini, Rabu 9 April 2025 pun nilai tukar rupiah juga terus melemah hingga level Rp 16.860 per dollar Amerika. Nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi ini disinyalir lantaran kebijakan kenaikan tarif yang diambil oleh Amerika.
Kebijakan tarif yang diumumkan langsung Presiden AS Donald Trump tersebut memicu ketidakpastian global dan memanaskan kembali perang dagang. Indonesia akan dikenai tarif resiprokal hingga 32 persen imbas dari defisit neraca dagang AS terhadap Indonesia.
Dalam diskusi virtual bertajuk Peran Gerakan Mahasiswa dalam Menjaga Persatuan Nasional di Tengah Perang Dagang AS-China pada Selasa 8 April 2025, pengamat Ekonomi Yanuar Rizki menyampaikan bahwa posisi Indonesia dalam konflik ekonomi global saat ini cukup rentan.
“Indonesia berada di posisi offside. Kita sudah lama tidak menjadi bangsa industrialis. Dari sisi barang, kita tergantung pada China. Bahan mentah seperti nikel dan batu bara kita kirim ke China untuk diolah, lalu kita beli kembali produk jadinya. Kita bukan negara industri, tapi negara trader,”ujarnya.
Yanuar menambahkan, tarif tinggi yang dikenakan AS bukan ditujukan langsung ke Indonesia melainkan sebagai strategi untuk membatasi akses barang China. Namun, karena Indonesia lebih berperan sebagai perantara atau trader, efeknya tetap terasa.
"Kenapa Vietnam tidak sama dengan kita? Karena Vietnam juga mengerjakan pekerjaan rumahnya. Dulu mereka juga hanya trader durian. Tapi pada 2024, Vietnam berhasil menjadi produsen durian terbesar kedua yang memasok pasar premium di China," ungkapnya.
Ia juga membandingkan kondisi moneter Indonesia dengan Vietnam. Meski mata uang Vietnam lemah (sekitar 26.000 per USD), korelasi antara depresiasi mata uang dan ekspor mereka tinggi, yakni 0,97. Artinya, pelemahan mata uang mendorong ekspor. Sebaliknya, di Indonesia, korelasinya hanya 0,48.
“Sebaliknya, korelasi antara depresiasi rupiah dan inflasi dari sisi impor sangat tinggi, sebesar 0,95. Ini artinya kita lebih rentan terkena dampak harga barang impor yang naik, bukan mendapat keuntungan dari ekspor,”tegasnya.
Yanuar menyarankan bahwa daripada menyalahkan pihak luar atau terlalu gaduh menghadapi perang dagang, Indonesia sebaiknya fokus membangun industri dan menyusun strategi ekonomi jangka panjang.
Sebelumnya, Bank Indonesia memutuskan untuk melakukan intervensi di pasar off-shore (Non Deliverable Forward/NDF) guna stabilisasi nilai tukar rupiah dari tingginya tekanan global.
Kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan pemerintah AS pada 2 April dan respons kebijakan retaliasi tarif oleh pemerintah China pada 4 April 2025 telah menimbulkan gejolak pasar keuangan global, termasuk arus modal keluar dan tingginya tekanan pelemahan nilai tukar di banyak negara khususnya negara berkembang.
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah telah terjadi di pasar off-shore (Non Deliverable Forward/NDF) di tengah libur panjang pasar domestik dalam rangka Idul Fitri 1446H.
"Intervensi di pasar off-shore (Non Deliverable Forward / NDF) dilakukan Bank Indonesia secara berkesinambungan di pasar Asia, Eropa, dan New York," kata Kepala Departemen Komunikasi Direktur Eksekutif Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya, Senin (7/4/2025).
Bank Sentral itu juga akan melakukan intervensi secara agresif di pasar domestik sejak awal pembukaan tanggal 8 April 2025 dengan intervensi di pasar valas (Spot dan DNDF) serta pembelian SBN di pasar sekunder.
Selain itu, BI juga akan melakukan optimalisasi instrumen likuiditas rupiah untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan domestik. Serangkaian langkah-langkah ini ditujukan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah serta menjaga kepercayaan pelaku pasar dan investor terhadap Indonesia.
Presiden Prabowo Subianto mengakui bahwa kebijakan tarif impor yang diterapkan Presiden Amerika Serikat Trump berpotensi memberikan dampak signifikan bagi perekonomian Indonesia, terutama pada sektor industri.
Dalam diskusi bersama para pemimpin redaksi media nasional yang disiarkan oleh Narasi TV, Prabowo menyebut industri tekstil, sepatu, garmen, dan furnitur sebagai sektor-sektor yang paling rentan terdampak.
"Masalah Trump ini akan, kita harus lihat nanti, mungkin kita akan alami dampak yang berat, mungkin, terutama yang bisa kena adalah industri tekstil, sepatu, garmen, dan furnitur. Ya ini. Ini berat karena ini padat karya," ujar Prabowo.
Lebih lanjut, ia menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap pasar Amerika Serikat yang selama ini dianggap sebagai konsekuensi dari sistem ekonomi global yang diajarkan oleh negara adidaya tersebut.
"Kita terlalu manja juga, kita tuh selama ini tertarik oleh ekonomi Amerika. Benar, karena ini kan sistem ekonomi yang Amerika ajarkan kepada kita, kan free market, globalization, borders, mereka ajarkan ke kita, kita murid yang setia, we follow what they teach us, all the time. The sixties, the seventies, the eighties, kita ikut Amerika, paling setia paling loyal," ucapnya.
Prabowo menegaskan pentingnya diversifikasi pasar ekspor sebagai salah satu langkah antisipatif. "Kita akan cari jalan keluar, kita harus berani mencari pasar baru," ujarnya.
Editor: Muhammad Taufiq


