Dark
Light
Dark
Light

Dari Pesantren ke Pengabdian: Perjalanan Miftah Subhan Sumedang Membangun Umat

Dari Pesantren ke Pengabdian: Perjalanan Miftah Subhan Sumedang Membangun Umat

Dalam tradisi keilmuan Islam, pencarian ilmu bukanlah sekadar transfer data atau pengumpulan fakta. Ia adalah sebuah perjalanan spiritual, sebuah upaya suci yang menuntut tidak hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga kesucian hati dan kemuliaan adab.

Ilmu diyakini memiliki cahayanya sendiri (nur), dan cahaya ini tidak akan menghampiri hati yang sombong, atau pikiran yang lalai. Oleh karena itu, hubungan antara murid dan guru diletakkan pada posisi yang sangat tinggi, melampaui sekadar transaksi pendidikan.

Adab dan penghormatan dianggap sebagai prasyarat mutlak yang menentukan apakah ilmu itu akan membawa manfaat (nafi') dan keberkahan (barakah). Inilah fondasi utama yang dipegang teguh oleh para ulama terdahulu.

Imam Az-Zarnuji dalam kitabnya Ta'limul Muta'allim, mengatakan bahwa seorang pelajar tidak pernah mendapatkan ilmu jika tidak memuliakan ilmu, orang yang berilmu, dan guru-gurunya.

اِعْلَمْ بِأَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ لاَ يَنَالُ الْعِلْمَ وَلاَ يَنْتَفِعُ بِهِ اِلَّا بِتَعْظِيْمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ وَتَعْظِيْمِ الْأُسْتَاذِ وَتَوْقِيْرِهِ. قِيْلَ مَا وَصَلَ مَنْ وَصَلَ اِلَّا بِالْحُرْمَةِ، وَمَا سَقَطَ مَنْ سَقَطَ اِلاَّ بِتَرْكِ الْحُرْمَةِ

Artinya, "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya seorang pelajar tidak akan bisa mendapatkan ilmu dan manfaat ilmu kecuali dengan menghormati ilmu dan orang yang berilmu, memuliakan guru dan menghormatinya. Dikatakan, tidak sukses orang yang telah sukses kecuali dengan hormat, dan tidak gagal orang yang gagal kecuali disebabkan tidak hormat.” (Imam az-Zarnuji, Ta’limul Muta’allim fi Thariqit Ta’allum, [Daru Ibn Katsir: 2014], halaman 55).

Pesan klasik dari Imam Az-Zarnuji itu menjadi bukti bahwa sukses seorang pelajar mutlak bergantung pada hurmah (hormat) tersebut, bukanlah sekadar teori bagi Miftah Subhan.

Justru, pesan klasik dari Imam Az-Zarnuji itulah yang menjadi pegangan utama yang membuatnya konsisten menjalani berbagai peran dalam hidup sosok yang kini diberi amanah sebagai Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Diniyah Takmiliyah Ulya (MDTU) Zainul Millah yang berlokasi di Babakanlimus, Kabupaten Sumedang.

Miftah bukanlah sosok yang meniti karier dengan jalan pintas. Latar belakangnya adalah cerminan dedikasi dan ketaatan. Ia membangun fondasi hidupnya di atas nilai yang ia yakini sebagai energi utama: keberkahan.

Ketika ditanya apa yang menjadi pegangan utamanya sehingga mampu konsisten menjalani berbagai peran dari kepala madrasah hingga penggerak organisasi Nahdlatul Ulama, jawabannya lugas, namun penuh makna.

"Yakin akan berkah guru dan orang tua. Sebab, kita bukan apa-apa tanpa didikan mereka" ungkapnya sembari memancarkan senyum dari kedua bibirnya.

Prinsip ini adalah kompas moralnya, sebuah pengakuan kerendahan hati bahwa segala capaiannya adalah buah dari ridho Ilahi yang disalurkan melalui didikan orang tua Alm H.M Satibi (Ayah) dan Almh Masrohah (Ibu), serta bimbingan para ulama.

Ditempa di Kawah Candradimuka Pesantren
Kisah Miftah Subhan adalah kisah seorang santri yang saat ini menjelma menjadi khadimul ummah (pelayan umat). Pendidikan awalnya berjalan di jalur formal melalui SDN Nagrak, MTsN Tanggeung yang berlokasi di Kabupaten Cianjur bagian selatan.

Setelah itu, Miftah melanjutkan pendidikannya di Kabupaten Sukabumi, tepatnya di MA Azzainiyyah. Namun, jiwa dan pola pikirnya dibentuk oleh tradisi pesantren yang kuat selama lebih dari satu dekade.

Ia menimba ilmu di beberapa pesantren terkemuka, yakni Pondok Pesantren An-Nur Padang Tanggeung Kabupaten Cianjur (2001-2004) yang merupakan awal mula penempaan spiritual dan ilmu dasar. Pondok Pesantren Azzainiyyah Kabupaten Sukabumi (2004-2012), selama delapan tahun, pesantren ini menjadi rumah keduanya, tempat ia matang dalam berpikir dan berakhlak. Pondok Pesantren Miftahul Huda Utsmaniyah Cikole Kabupaten Ciamis (2012), titik akhir perjalanan keilmuan pesantrennya, membekali diri sebelum terjun ke medan pengabdian yang sesungguhnya.

Pengalaman mendalam di pesantren ini memunculkan keyakinan utamanya tentang peran guru. Baginya, guru adalah segalanya dan yang mendorong Miftah selalu menempatkan adab di atas ilmu. Sebab, adab dan ilmu lah yang membuka pintu keberkahan. 

"Peran guru sangat penting, karena memberikan arah kehidupan dan pola pikir untuk menjalani kehidupan. Tanpa bimbingan guru, arah kehidupan akan kabur dan pola pikir menjadi tanpa kendali," tuturnya.

Setelah menimba ilmu di berbagai pesantren, Miftah Subhan mengaplikasikan filosofi hidupnya itu ke dalam peran utamanya termasuk ketika saat ini sebagai Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Diniyah Takmiliyah Ulya (MDTU) Zainul Millah Babakanlimus, Kabupaten Sumedang.

MI dan MDTU Zainul Millah bukanlah sekadar sekolah. Ini adalah laboratorium tempat ia berjuang untuk menghidupkan pesan manfaat umat. Di sini, ia menggabungkan kurikulum formal dengan roh pesantren, memastikan anak didiknya mendapatkan bekal ilmu dunia (akademis) dan ilmu akhirat (akhlak dan tafaqquh fiddin).

Sebagai Kepala MI, ia fokus pada fondasi pendidikan dasar yang berbasis karakter dan keagamaan. Sementara peran sebagai Kepala MDTU menunjukkan komitmennya pada pendidikan agama tingkat lanjutan. Melalui MDTU yang biasanya dilaksanakan di sore hari, ia menjamin santri-santrinya mendalami ilmu-ilmu Islam yang spesifik mulai dari Fiqih, Tauhid, dan Bahasa Arab, sehingga lulusannya tidak hanya cerdas di kelas, tetapi juga diharapkan para peserta didik ke depan mampu memiliki pemahaman agama yang kokoh dan berlandaskan tradisi.

Di madrasah ini, ia secara konsisten mengedepankan budaya hormat kepada guru dan orang tua, percaya bahwa keberkahan kolektif madrasah bergantung pada ketulusan dan adab para penghuninya.

Multidimensi Pengabdian: Dari NU hingga Tasawuf
Semangat kebermanfaatan Miftah tak terbatas pada dunia pendidikan saja. Ia memperluas jangkauan pengabdiannya melalui organisasi keagamaan, menjadikannya simpul penting yang mengintegrasikan berbagai elemen masyarakat. Di antaranay ia aktif di organisasi di pesantren yakni Ospaz Azzainiyyah, MUI Desa Sindangsari yang berkontribusi dalam memberikan bimbingan dan fatwa keagamaan dan menjaga akidah umat di tingkat akar rumput. Kemudian MDS Rijalul Ansor yang terlibat aktif dalam kaderisasi pemuda NU, menyiapkan barisan pejuang yang militan dan berhaluan ahlussunnah wal jama'ah. 

Peran terpentingnya di ranah struktural adalah sebagai Wakil Ketua Tanfidziah MWCNU Sukasari. Sebagai salah satu pimpinan eksekutif NU di tingkat kecamatan, Miftah Subhan terlibat langsung dalam merumuskan dan melaksanakan program-program organisasi.

Di MWCNU Suksari, ia bertindak sebagai manajer umat, yang memastikan kegiatan NU, mulai dari pendidikan, sosial, hingga dakwah bisa berjalan efektif dan menyentuh kebutuhan masyarakat. Peran ini menuntutnya untuk menjadi integrator, menghubungkan ulama-ulama sepuh (Syuriah) dengan kegiatan praktis di tengah umat. Melalui NU, ia mengaplikasikan prinsip tawassut (moderat) dan tasamuh (toleran), memastikan kehidupan beragama di Sukasari berjalan damai dan harmonis.

Melengkapi spektrum pengabdiannya, Miftah Subhan juga menjabat sebagai Ketua Bidang Pembinaan Amaliah LDTQN Kabupaten Sumedang. LDTQN (Lembaga Dakwah Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah) Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya adalah wadah resmi yang mengurus pembinaan tarekat.

Peran ini menunjukkan dedikasi mendalamnya pada dimensi tasawuf. Di tengah tantangan modernitas, ia menjadi penjaga tradisi yang mengajarkan umat untuk menyeimbangkan syariat (hukum) dengan hakikat (esensi spiritual) melalui amalan thariqah yang otentik. Dengan mengurus pembinaan spiritual, ia memastikan bahwa umat tidak hanya fokus pada lahiriah, tetapi juga pada kebersihan hati, yang merupakan puncak dari keberkahan.

Konsistensi di Balik Pesan Abadi
Dalam kesibukan yang padat dan tanggung jawab yang berlapis, Miftah tetap konsisten dan teguh pada jalannya. Rahasianya kembali pada satu pesan yang ia genggam erat sejak lama yaitu "Jadilah orang yang besar manfaatnya bagi umat. Itu pesan dari guru yang selalu hadir dalam situasi dan kondisi apa pun.”

Baginya, keberhasilan sejati bukanlah diukur dari jabatan, melainkan dari seberapa banyak ia telah meringankan beban umat, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, dan menjaga tradisi keilmuan saja. Akan tetapi, setiap peran yang dijalankannya baik menjadi Kepala Madrasah, Wakil Ketua NU, atau pengamal tarekat adalah upaya kolektif untuk merealisasikan pesan luhur tersebut.

Miftah Subhan adalah cerminan dari seorang tokoh yang merawat tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah dan berhasil mengintegrasikan ilmu pesantren ke dalam pengabdian publik yang modern. Ia membuktikan bahwa dengan memegang teguh adab yang agung dan keyakinan pada keberkahan guru dan orang tua, seseorang dapat mengukir jejak pengabdian yang mendalam, abadi, dan penuh manfaat bagi umat.

Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama.
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo