Dark
Light
Dark
Light

Meski Perundingan AS-Iran Menguat, Pengamat Nilai Masih Jauh dari Kesepakatan Damai

Meski Perundingan AS-Iran Menguat, Pengamat Nilai Masih Jauh dari Kesepakatan Damai

ARINA — Amerika Serikat dan Iran kembali membuka komunikasi di tengah meningkatnya ketegangan akibat perang yang melibatkan kedua negara.

Pertemuan tidak langsung antara pejabat AS dan Iran berlangsung di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) di New York, meski Presiden AS Donald Trump masih melontarkan ancaman terhadap Teheran.

Pada Selasa (22/9/2026), Trump mengatakan Amerika Serikat dapat “menghancurkan” Iran. Pernyataan tersebut disampaikan ketika konflik antara kedua negara masih berlangsung.

Namun, pada hari yang sama, utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Pertemuan yang berlangsung sekitar tiga jam itu menjadi salah satu upaya untuk membuka kembali pembicaraan antara Washington dan Teheran.

Trump menyebut pertemuan tersebut berlangsung “sangat baik” dan “sangat produktif”.

Araghchi disebut menyampaikan sejumlah syarat terbaru Iran untuk mengakhiri perang. Pembicaraan itu berlangsung setelah kesepahaman 60 hari yang sebelumnya dicapai melalui pertemuan di Islamabad, Pakistan, pada Juni lalu, tidak berlanjut.

Di sisi lain, Trump juga bertemu dengan para pemimpin negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Dalam pertemuan tersebut dibahas proposal Qatar mengenai kerangka keamanan bersama yang melibatkan Iran dan negara-negara Teluk.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian tiba di New York pada Rabu (23/9). Kedatangannya menjadi perhatian karena merupakan kunjungan pertama pemimpin Iran ke Amerika Serikat ketika kedua negara sedang berkonflik.

Rangkaian pertemuan tersebut menunjukkan adanya upaya dari sejumlah pihak untuk kembali mempertemukan AS dan Iran di meja perundingan. Namun, sejumlah pengamat menilai belum ada tanda bahwa kesepakatan damai dapat dicapai dalam waktu dekat.

Sanam Vakil, Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House, mengatakan terlalu dini untuk berharap terjadi terobosan dalam pembicaraan AS-Iran selama UNGA.

“Saya skeptis bahwa kesepakatan terobosan dapat muncul minggu ini,” kata Vakil kepada Al Jazeera.

Menurut Vakil, kedua negara telah berunding selama lebih dari dua tahun. Namun, dalam dua kesempatan, proses perundingan justru berakhir dengan konflik militer.

Iran juga menjadikan pengalaman tersebut sebagai alasan untuk berhati-hati dalam kembali berunding dengan Amerika Serikat. Teheran menilai Washington pernah mengubah pendekatan diplomatik menjadi tindakan militer ketika proses pembicaraan masih berlangsung.

Adel Abdel Ghafar, peneliti senior bidang Timur Tengah di Australian Strategic Policy Institute, mengatakan terdapat tanda-tanda bahwa pembicaraan antara AS dan Iran mulai diupayakan kembali.

Namun, menurut dia, kedua negara masih memiliki perbedaan yang cukup besar.

Pernyataan Trump setelah pertemuan dengan pejabat Iran, misalnya, dinilai berbeda dengan pernyataan keras yang disampaikannya dalam pidato di UNGA pada hari yang sama.

Abdel Ghafar mengatakan keberhasilan pembicaraan juga bergantung pada sejauh mana pemerintah Iran dapat memperoleh dukungan dari kelompok-kelompok berpengaruh di dalam negeri.

“Araghchi dan Pezeshkian dapat bernegosiasi, tetapi kesepakatan apa pun memerlukan persetujuan dari Korps Garda Revolusi Islam dan kelompok garis keras yang bertanggung jawab atas perang di dalam negeri,” kata Abdel Ghafar.

Para pengamat menyebut beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk melihat apakah komunikasi AS-Iran akan berkembang menjadi perundingan yang lebih serius.

Vakil mengatakan salah satu tanda penting adalah adanya putaran pembicaraan berikutnya yang secara resmi dikonfirmasi oleh kedua pihak. Selain itu, perlu dilihat apakah AS dan Iran mulai menyepakati tahapan pelaksanaan kesepakatan secara bertahap.

Perubahan pernyataan kedua pihak juga akan menjadi indikator. Jika Washington dan Teheran mulai membahas cara menjalankan kesepakatan, bukan sekadar mengulang tuntutan masing-masing, hal itu dapat menunjukkan adanya kemajuan dalam pembicaraan.

Pertemuan langsung antara Araghchi atau Pezeshkian dengan pejabat AS juga dapat menjadi tanda penting.

Pada saat yang sama, perhatian tertuju pada pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Washington. Xi dijadwalkan tiba di AS pada Rabu malam untuk melakukan kunjungan kenegaraan.

Perkembangan konflik di kawasan juga dapat memengaruhi situasi. Salah satunya adalah ketegangan antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan koalisi yang dipimpin Arab Saudi di Yaman.

Untuk saat ini, rangkaian pertemuan di New York belum menghasilkan kesepakatan antara AS dan Iran. Namun, komunikasi antara kedua pihak kembali berlangsung di tengah konflik yang masih berjalan.

Perbedaan mendasar mengenai cara mengakhiri perang dan hubungan kedua negara masih menjadi persoalan utama yang harus diselesaikan sebelum tercapai kesepakatan.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo