Arina.id - Tidak semua anggota Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mendukung agresi militer sepihak koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel memerangi Iran. Selain Turki, giliran Spanyol yang menolak terlibat konflik dengan menyediakan pangkalan perangnya sebagai basis militer dua negeri teroris--iatilah yang dipakai Teheran--untuk menyebut AS dan Israel itu.
Meskipun, penolakan Spanyol pada akhirnya membuat Trump murka dan mengancam akan memutus hubungan perdagangan dengan Madrid. Spanyol kemudian membalas dengan mengingatkan Trump soal hukum internasional dan perjanjian perdagangan bilateral dengan Uni Eropa yang mengikat kedua negara.
“Kami memiliki sumber daya yang diperlukan untuk menahan dampak yang mungkin terjadi akibat embargo perdagangan oleh AS,” kata pemerintah Spanyol dalam sebuah pernyataan, Selasa 3 Maret 2026, sambil menegaskan Washington harus mematuhi hukum internasional dan perjanjian perdagangan bilateral Uni Eropa-AS.
Sebelumnya, dikutip dari Aljazeera, setelah AS dan Israel menyerang Iran, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez segera mengutuk serangan tersebut dan menganggapnya melanggar hukum internasional. Ia menyerukan dialog untuk mengakhiri perang di Iran, dengan mengatakan “kita dapat menentang rezim yang penuh kebencian, dan pada saat bersamaan menentang intervensi militer yang tidak beralasan dan berbahaya”.
Dua hari kemudian, Senin, 2 Maret 2026, giliran Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares mengatakan Madrid tidak akan mengizinkan pangkalan militer negaranya yang dioperasikan bersama oleh AS dan Spanyol tetapi berada di bawah kedaulatan Spanyol, digunakan dalam serangan terhadap Iran.
“Pangkalan-pangkalan Spanyol tidak digunakan untuk operasi ini, dan tidak akan digunakan untuk apa pun yang tidak termasuk dalam perjanjian dengan Amerika Serikat, atau untuk apa pun yang tidak sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa,” kata Albares, berbicara kepada stasiun televisi Spanyol Telecinco.
Selanjutnya, akibat larangan Spanyol tersebut, AS kemudian memindahkan 15 pesawat miliknya, termasuk pesawat tanker pengisian bahan bakar, dari pangkalan militer di wilayah Rota dan Moron di Spanyol selatan.
Sehari kemudian, Selasa, 3 Maret 2026, sebelum pertemuan dengan Kanselir Jerman Frederich Merz, Trump mengatakan kepada wartawan di Ruang Oval Washington, DC, bahwa "Spanyol sangat buruk" karena tidak mengizinkan AS menggunakan pangkalan militernya.
Dia mengatakan telah memberi tahu sekretaris Departemen Keuangan, Scott Bessent, untuk "menghentikan semua urusan" dengan Spanyol. “Kita akan menghentikan semua perdagangan dengan Spanyol. Kita tidak ingin berhubungan dengan Spanyol sama sekali,” kata Trump yang ngambek seperti bocah.
Pada 2024 lalu, Sanchez, salah satu dari sedikit tokoh berhaluan kiri di Eropa, juga menolak mengizinkan kapal-kapal yang mengangkut senjata ke Israel untuk berlabuh di Spanyol. Spanyol juga menolak seruan AS agar semua anggota NATO mengalokasikan 5 persen dari produk domestik bruto (PDB) mereka untuk pertahanan pada 2035.
Di sisi lain, Spanyol merupakan pengekspor minyak zaitun terbesar di dunia, serta penjual suku cadang mobil, baja, dan bahan kimia ke AS. Sehingga Spanyol tidak terlalu rentan atau terpengaruh terhadap ancaman hukuman ekonomi dari Trump dibandingkan negara-negara Eropa lainnya.
Menurut data dari Biro Sensus AS, AS mencatatkan surplus perdagangan dengan Spanyol untuk tahun keempat berturut-turut pada tahun 2025, sebesar USD4,8 miliar, dengan ekspor AS sebesar USD26,1 miliar dan impor sebesar USD21,3 miliar.
Editor: Muhammad Taufiq


