Dark
Light
Dark
Light

Tak Sekadar Menyeduh Kopi, Cafe Difabis Gaungkan Kesetaraan

Tak Sekadar Menyeduh Kopi, Cafe Difabis Gaungkan Kesetaraan

Jakarta, Arina.id–Salah satu yang menarik dalam kegiatan lebaran yatim dan disabilitas yang digelar Kementerian Agama RI ialah hadirnya Cafe Difabis, kafe ramah disabilitas yang dikelola oleh teman-teman tuli dan daksa.

Tak hanya menyuguhkan kopi, pengunjung yang hadir bisa sambil belajar Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Sembari memeragakan bahasa isyarat, Robiah mengajarkan bahasa isyarat sederhana seperti terima kasih, saya atau minum.

"Ini bukan cuma jualan, ini kampanye kesetaraan,”ujar Robiatin ditemui Arina.id di pelataran Auditorium HM. Rasjidi, Jakarta Pusat, Jumat (4/7/2025).

Kopi yang ditawarkan berasal dari biji arabika dan robusta rentan berbagai varian rasa gula aren, creamy latte, pandan, dan butterscotch. 

Tersedia pula menu non-kopi seperti matcha, red velvet, dan berbagai teh artisan. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp20 ribu untuk ukuran 200 ml.

Atin dan rekan-rekannya memulai usaha ini sejak lima tahun lalu, kini Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) DKI Jakarta itu memiliki lima cabang di seluruh wilayah DKI Jakarta, terutama di kantor wali kota. Total ada lebih dari 20 karyawan disabilitas yang bekerja.

"Lokasi pusatnya berada di Terowongan Kendal, Stasiun Sudirman, bersebelahan dengan brand kopi ternama. Di sana, para barista tuli melayani pelanggan setiap hari dari pukul 08.00 hingga 20.30 WIB," imbuhnya.

Hadirnya Cafe Disabis memberi peluang kerja yang inklusif, yang belum tentu bisa didapat penyandang disabilitas di sektor formal karena kendala pendidikan, usia, atau akses.

Bagi Atin, pelibatan Cafe Difabis ini menjadi bagian dari upaya Kemenag dalam membumikan nilai hijrah sosial yang inklusif dan memberdayakan.

"Semakin banyak orang mengenal kami, semakin banyak pula yang tahu bahwa teman-teman disabilitas bisa mandiri,”imbuh pengelola Cafe Difabis.

Atin menyebut, keikutsertaan Cafe Difabis di Peaceful Muharam yang digelar Kemenag RI menunjukkan bahwa ruang-ruang publik keagamaan bisa menjadi ruang perjumpaan yang manusiawi, memberdayakan, dan bebas diskriminasi.

"kami senang bisa dilibatkan di acara Peaceful Muharam ini. Biasanya kami berdagang di luar, tapi kali ini kami mendapat tempat di lingkungan kementerian," ujarnya.

Menurutnya, keterlibatan disabilitas dalam kegiatan  kementerian atau lembaga negara menjadi peluang penting untuk memperluas jaringan usaha, membangun keberanian berusaha, dan meningkatkan pengakuan terhadap kapasitas teman-teman disabilitas.

"Kalau selama ini banyak disabilitas hanya dijadikan objek santunan, lewat UMKM seperti ini, kita bisa menjadi subjek ekonomi. Kita bisa mandiri, bisa dipercaya, dan bisa menciptakan ruang kerja sendiri,”pungkasnya.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo