Arina.id — Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia mengecam Amerika Serikat setelah Presiden Donald Trump memberikan izin Pentagon membombardir tiga situs nuklir Iran, termasuk fasilitas pengayaan uranium Fordow yang terletak jauh di dalam pegunungan.
Serangan tersebut dinilai secara langsung melibatkan Amerika Serikat dalam perang yang sedang berlangsung antara Israel dan Iran.
Israel dan AS menyatakan bahwa tindakan itu bertujuan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Sementara, Iran menegaskan bahwa mereka tidak berniat membangun bom nuklir dan bahwa fasilitas nuklirnya digunakan untuk keperluan energi.
"Washington kembali menegaskan bahwa, demi kepentingan sekutunya Israel, mereka tidak hanya siap menutup mata terhadap pembunuhan puluhan ribu perempuan, anak-anak, dan orangtua Palestina, tetapi juga siap mempertaruhkan keselamatan dan kesejahteraan umat manusia secara keseluruhan," kata Nebenzia, merujuk pada perang di Gaza.
Dalam pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Minggu, (22/6/2025) kemarin, Nebenzia, menyatakan bahwa Washington “sekali lagi menunjukkan penghinaan total terhadap posisi komunitas internasional.”
"Melalui tindakan mereka, AS telah membuka kotak Pandora. Tak seorang pun tahu bencana dan penderitaan baru apa yang akan ditimbulkannya," ujar Nebenzia dikutip dari laman Newsweek.
Akibat serangan di tiga sentral nuklirnya, Iran telah bersumpah akan memberikan respons dengan kekuatan penuh dan menyatakan bahwa target-target AS di kawasan kini menjadi sasaran yang sah akibat serangan tersebut. Iran juga memperingatkan akan kemungkinan terjadinya perang regional.
Koalisi yang Menguat
Tak hanya Rusia, China pun mengeluarkan pernyataan yang sama tegasnya. Melalui Kementerian Luar Negerinya, Beijing mengutuk keras serangan AS terhadap situs nuklir Iran dan menyatakan keprihatinannya atas meningkatnya ketegangan di kawasan.
"China mengimbau semua pihak yang berkonflik, terutama Israel, untuk menghentikan tembakan sesegera mungkin," ujar Kementerian Luar Negeri China dalam pernyataan resmi yang dikutip dari The Star hanya beberapa jam setelah serangan terjadi.
Rusia, China, dan Iran selama ini menjalin hubungan strategis yang erat dalam berbagai bidang, mulai dari perdagangan energi, kerja sama militer, hingga koordinasi di forum internasional. Dalam konteks krisis terbaru ini, ketiganya tampak semakin solid dalam menghadapi tekanan dari koalisi Barat, terutama Amerika Serikat dan sekutunya, Israel.
Beberapa analis melihat bahwa kecaman dari Moskow dan Beijing ini bukan sekadar pernyataan diplomatik biasa, melainkan sinyal kuat akan potensi terbentuknya blok geopolitik baru yang lebih tegas dalam menghadapi dominasi militer AS di Timur Tengah.
Analis kebijakan luar negeri dari Quincy Institute, Trita Parsi, menyatakan bahwa Iran, Rusia, dan China membentuk poros strategis yang didorong oleh kepentingan bersama untuk menantang dominasi Amerika Serikat dalam urusan global.
Menurut Parsi, ketiga negara tersebut sama-sama merasa terancam oleh kebijakan luar negeri AS yang cenderung unilateralis dan sanksi-sentris.
“Iran, Rusia, dan China tidak membentuk aliansi formal seperti NATO, tetapi mereka saling membutuhkan untuk bertahan dari tekanan ekonomi, isolasi diplomatik, dan ancaman militer dari Barat,” ujar Parsi dalam sebuah wawancara dengan Foreign Affairs.
Ia juga menekankan bahwa kerja sama mereka bukan hanya bersifat defensif, tapi juga berorientasi pada pembentukan tatanan dunia multipolar, di mana tidak ada satu negara yang mendominasi sepenuhnya.
“Apa yang kita lihat sekarang bukan hanya perlawanan terhadap Amerika, tetapi pembangunan alternatif terhadap sistem internasional yang didominasi AS sejak berakhirnya Perang Dingin,” tambahnya.
Trita Parsi juga mencatat bahwa meskipun terdapat perbedaan ideologi dan kepentingan nasional di antara ketiga negara, solidaritas mereka tumbuh seiring meningkatnya tekanan dari Barat, khususnya dalam isu-isu seperti sanksi ekonomi, hak veto di PBB, dan konflik bersenjata di kawasan seperti Ukraina, Suriah, dan kini Iran.
Serangan terhadap Iran, terutama yang menyasar situs nuklir seperti fasilitas Fordow, dipandang sebagai langkah yang sangat provokatif. Iran sendiri telah menyatakan akan membalas dengan kekuatan penuh dan menyebut bahwa target-target AS di kawasan kini sah untuk diserang.
Dengan situasi yang memanas dan semakin banyak pihak global yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung, kawasan Timur Tengah kini berada di ambang krisis yang lebih luas. Dunia menanti dengan cemas: apakah ini awal dari konfrontasi terbuka antarblok besar dunia, ataukah masih ada ruang untuk diplomasi?
Satu hal yang pasti, ketegangan ini menunjukkan betapa rapuhnya perdamaian global, dan bagaimana satu serangan dapat mengguncang fondasi stabilitas internasional.
Editor: Muhammad Zunus


